Jumat, 16 Maret 2012

DHAMMACAKKHAPAVATTANA SUTTA




DHAMMACAKKHAPAVATTANA SUTTA
(Khotbah Pemutaran Roda Dhamma)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiG9EfCO6PQMePt7CX2E9CZ05dWL3DFRa5o44VcQcC1xVsURUmFAxRus5b3oRf7EtHZn_V2RgpTwmTa3UV6On6mj_foCZ6x72sUKFSd5QT7TwkVjqkRlcHbNPVGpLOhduPC3_K8xDr1JefG/s1600/dharmacakra1.jpg

1.                   Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava bersemayam di dekat kota Benares, di Isipatana, di Taman Rusa (Migadaya).

2.                  Di sana, Sang Bhagava bersabda kepada rombongan lima orang Bhikkhu (Assajji, Vappa, Bhadiya, Kondanna, Mahanama), demikian: dua hal yang berlebihan (ekstrim) ini, O, para bhikkhu, tidak patut dijalankan oleh mereka yang telah meninggalkan rumah untuk menempuh kehidupan tak berkeluarga

3.                  “Menuruti kesenangan hawa nafsu yang rendah, yang tidak berharga dan tidak berfaedah, biadap, duniawi; atau melakukan penyiksaan diri, yang menyakitkan, tidak berharga dan tidak berfaedah. Setelah menghindari kedua hal yang berlebih-lebihan ini, O, para bhikkhu Jalan Tengah yang telah sempurna diselami oleh Tathagata, yang membukakan mata batin, yang menimbulkan pengetahuan, yang membawa ketentraman, kemampuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan perealisasi Nibbana.

4.                  Apakah, O, para bhikkhu, jalan tengah yang telah sempurna, telah diselami oleh Tathagata, yang membukakan mata batin, yang menimbulkan pengetahuan, yang membawa ketentraman, kemampuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan perealisasi Nibbana itu ?
Tiada lain Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu:
·                     Pengertian Benar
·                     Pikiran Benar
·                     Ucapan Benar
·                     Perbuatan Benar
·                     Penghidupan Benar
·                     Usaha Benar
·                     Perhatian Benar
·                     Konsentrasi Benar
Itulah sesungguhnya Jalan Tengah, O, para bhikkhu, yang telah sempurna diselami oleh Tathagata, yang membukakan mata batin, yang menimbulkan pengetahuan, yang membawa ketentraman, kemampuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan perealisasi Nibbana.

5.                   Sekarang, O, para bhikkhu. Kebenaran Mulia tentang penderitaan yaitu: Kelahiran adalah penderitaan, usia tua adalah penderitaan, penyakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan, berkumpul derngan yang tidak disenangi adalah penderitaan, berpisah dari yang dicintai adalah penderitaan, tidak memperoleh apa yang diharapkan adalah penderitaan, singkatnya Lima Kelompok Kemelakatan merupakan penderitaan.

6.                  Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Mulia tentang sebab penderitaan, yaitu: Keinginan rendah yang menyebabkan tumimbal lahir, disertai dengan hawa nafsu yang menemukan kesenangan disana sini, yaitu:
·                     Keinginan rendah akan kesenangan indera
·                     Keinginan rendah akan penjelmaan
·                     Keinginan rendah akan pemusnahan diri sendiri

7.                   Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Mulia tentang Terhentinya Penderitaan yaitu: Terhentinya semua hawa nafsu tanpa sisa, melepaskannya, bebas, terpisah sama sekali dari keinginan rendah tersebut.

8.                  Sekarang, O, para bhikkhu,  Kebenaran Mulia tentang Jalan Yang Menuju Terhentinya Penderitaan, tiada lain jalan mulia berunsur delapan yaitu:
·                     Pengertian Benar
·                     Pikiran Benar
·                     Ucapan Benar
·                     Perbuatan Benar
·                     Penghidupan Benar
·                     Usaha Benar
·                     Perhatian Benar
·                     Konsentrasi Benar

9.   Inilah Kebenaran Mulia tentang Pernderitaan. Demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan    , timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang penderitaan ini harus difahami. Demikianlah, O, para bhikkhu mengenai segala sesuatu dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang penderitaan ini telah dipahami, demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

10. Inilah Kebenaran Mulia tentang Sebab Penderitaan.
Demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu Dhamma yang pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang Sebab Penderitaan yang harus dikikis, demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu tentang Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang Sebab Penderitaan yang telah dikikis, demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu tentang Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

11. Inilah Kebenaran Mulia tentang Terhantinya Penderitaan.
Demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu Dhamma yang pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang Terhentinya Penderitaan yang harus dialami. Demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu tentang Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.
           
Inilah Kebenaran Mulia tentang Terhentinya Penderitaan yang telah dialami, demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu tentang Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

12. Inilah Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Terhantinya Penderitaan.
Demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu Dhamma yang pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Terhentinya Penderitaan yang harus dikembangkan. Demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu tentang Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Terhentinya Penderitaan yang telah dikembangkan, demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu tentang Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

13.               Demikianlah selama pengetahuan dan pengertian saya tentang Empat Kebenaran Mulia sebagaimana adanya, masing-masing dalam tiga tahap dan dua belas segi pandangan telah sempurna betul, maka, O, para bhikkhu, saya tidak menyatakan kepada dunia bersama para dewa-dewa dan Mara-nya, kepada semua makhluk, termasuk dewa-dewa dan manusia, bahwa saya telah mencapai Kebijaksanaan Agung.

14.               Ketika Pengetahuan dan Pengertian saya tentang Empat Kebenaran Mulia sebagaimana adanya, masing-masing dalam tiga tahap dan dua belas segi pandangan telah sempurna; hanya pada saat itu O, para bhikkhu, Saya menyatakan kepada dunia bersama para dewa dan Mara-nya, kepada semua makhluk, termasuk dewa-dewa dan manusia, bahwa saya telah mencapai Kebijaksanaan Agung. Timbulah dalam diri saya pengetahuan dan pengertian “Tak tergoncangkan kebebasan batin saya, inilah kelahiran yang terakhir, tidak ada lagi tumimbal lahir lagi bagi saya”.

15.                Demikianlah sabda sang Bhagava; dan kelima bhikkhu itu merasa puas serta mengerti kata-kata Sang Bhagava. Tatkala khotbah ini sedang disampaikan timbulah pada Yang Ariya Kondanna Mata-Dhamma yang bersih tanpa noda: “Segala sesuatu muncuul karena ada sebabnya; segala sesuatu akan padam karena sebabnya tidak timbul”.

16.               Tatkala roda Dhamma telah diputar oleh Sang Bhagava, dewa-dewa bumi berseru serempak: Di dekat Benares, di Isipatana, di Migadaya, telah diputar roda Dhamma yang tanpa bandingnya oleh Sang Bhagava, yang tidak dapat dihentikan, baik oleh seorang Samana, Brahmana, Dewa, Mara, Brahma, maupun oleh siapapun di dunia”.

17.                Mendengar kata-kata dewa bumi, dewa-dewa Catummaharajika berseru serempak: Di dekat Benares, di Isipatana, di Migadaya, telah diputar roda Dhamma yang tanpa bandingnya oleh Sang Bhagava, yang tidak dapat dihentikan, baik oleh seorang Samana, Brahmana, Dewa, Mara, Brahma, maupun oleh siapapun di dunia.

18.               Mendengar gema kata-kata dewa-dewa Catummaharajika, dewa-dewa dari surga Tavatimsa, Yama, Tusita, Nimmanarati; Paranimitavasavati dan dewa-dewa alam brahma, juga berseru, “Didekat Benares, di Isipatana, di Migadaya, telah diputar roda Dhamma yang tanpa bandingnya oleh sang Bhagava, yang tidak dapat dihantikan, baik oleh seorang Samana, Brahmana, Dewa, Mara, Brahma, oleh siapapun di dunia.

19.               Demikianlah pada saat itu juga, seketika itu juga, dalam waktu yang sangat singkat suara itu menembus alam Brahma. Alam semesta ini dengan laksaan alamnya tergugah dan bergoyang disertai bunyi gemuruh dan cahaya yang gilang gemilang yang tak terukur, melebihi cahaya dewa, terlihat di dunia.

20.              Pada saat itu Sang Bhagava bersabda, “Kondanna telah mengerti, Kondanna telah mengerti”, Demikianlah mulanya bagaimana Yang Ariya Kondanna memperoleh nama julukan Anna Kondanna, Kondanna yang (pertama) mengerti.

(Samyutta Nikaya LVI: 11)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar