Sabtu, 28 September 2013

Dhammayatra


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Dasar-Dasar Dharma yang Mendasari Kegiatan Dharmayatra
Dasar-dasar yang mendasari kegiatan Dharmayatra terdapat dalam Sabda Sang Buddha sebagai berikut:
2.1.1 Dasar Historis
Dharmayatra  telah disebutkan dalam  Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya, namun informasi tentang adanya Dharmayatra tidak pernah disebutkan sejak Sang Buddha parinibbana hingga masa Raja Asoka. Kegiatan Dharmayatra muncul pada abad III, ketika Raja Asoka berkuasa di Jambudipa.
Menurut kitab Mahavastu dan Asokavadana, di ibukota Jambudipa, Pataliputta (Patna, sekarang) berkuasa seorang raja bernama Bindusara. Raja memiliki banyak permaisuri dan memiiliki seratus anak. Salah seorang anak raja adalah Pangeran Asoka. Asoka mempunyai penampilan, kekuatan dan kemampuan yang luar biasa melampaui yang dimiliki oleh para saudaranya. Sebelum menjadi raja, Asoka membunuh 99 orang saudaranya, sehingga ia memiliki kerajaan yang utuh. Hal ini terjadi 218 BE (Buddhist Era), yang dihitung mulai sejak Sang Buddha parinibbana dan empat tahun kemudian ia dinotbahkan menjadi raja di Pataliputta. Ia telah menguasai seluruh Jambudipa (sekarang India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, dan Bhutan).
Sebagai raja, ia memerintah dengan keras, dan ia dipandang sebagai raja yang bengis dan kejam, sehingga ia dijuluki sebagai Candasoka (Asoka Jahat).
Pada mulanya Raja Asoka tidak mengenal Buddha Dharma. Namun pada suatu hari selagi raja berdiri di dekat sebuah jendela, ia melihat seorang petapa yang tenang sekali, yaitu Samanera Nigrodha, putra dari Sumana, kakak tertua dari semua anak Raja Bindusara. Dengan kata lain Samanera Nigrodha adalah kemenakan Raja Asoka sendiri.
Raja Asoka mengundang Samanera Nigrodha ke istananya. Di istana Samanera membabarkan Appamanavagga (Samyutta Nikaya) kepada raja. Akhirnya raja menjadi umat Buddha. Sejak menjadi umat Buddha, raja melakukan banyak dana dan perbuatan baik lainnya. Menurut kitab Mahavamsa, Raja Asoka menjadi umat Buddha karena bertemu dengan Samanera Nigrodha. Sedangkan menurut kitab Asokavadana, raja bertemu dengan Bhikkhu Samudra, dalam pertemuan itu bhikkhu mempertunjukan kekuatan batin (Abhinna) dengan melayangkan tubuhnya ke angkasa, setengah dari tubuhnya mengeluarkan api dan setengah tubuhnya yang lain mengeluarkan air, karena pertunjukan inilah maka raja menjadi umat Buddha. Setelah raja menjadi umat Buddha, selain ia melakukan banyak perbuatan baik, ia juga mendirikan Vihara.
Pendirian banyak Vihara ini dilakukan sehubungan dengan dialog Raja Asoka dengan Bhikkhu Moggaliputta-Tissa:
”Bagaimana besar Dhamma yang diajarkan Sang Buddha ?” Bhikkhu Moggaliputta-Tisa menjawabnya. Ketika raja mendengar : ’Ada 84.000 Dhamma’ lalu raja berkata:
’Dari setiap bagian itu, saya akan hormati dengan sebuah Vihara’. Ia memberikan sebanyak 96 koti untuk 84.000 kota, serta memerintah para raja (bawahannya) untuk membangun Vihara dan ia sendiri mulai mendirikan Asokarama”.
(Mahavamsa 77-80)
      



       Karena perbuatan baiknya begitu banyak dan perilakunya berubah, maka Raja Asoka dikenal dengan nama Dhammasoka (Asoka yang hidup sesuai dengan Dhamma).Selanjutnya dalam kitab Asokavadana disebutkan bahwa setelah Raja Asoka menjadi umat Buddha di bawah bimbingan Bhikkhu Samudra, kemudian ia bertemu dengan Bhikkhu Upagupta. Pada pertemuan itu, raja bertanya kepada bhikkhu: ’Saya ingin tahu tempat-tempat suci dalam agama Buddha, ’Baik sekali’ Maharaja.’ Jawab Upagupta, ’keinginan anda sangat menarik. Saya akan menunjukan tempat-tempat itu hari ini.’
       Kemudian Raja Asoka menyiapkan empat kelompok pasukan, menyiapkan wangi-wangian, karangan bunga, bunga-bungaan, dan berangkat bersama Bhikkhu Upagupta. Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui tentang Raja Asoka dengan Bhikkhu Upagupta melakukan ziarah ke tempat-tempat yang ada hubungannya dengan kehidupan Sang Buddha. Dengan kata lain tradisi berdharmayatra mulai dikenal dan tersiar di Jambudipa. Begitu pula dengan umat Buddha di berbagai tempat di dunia pun, mulai mengunjungi (berdharmayatra) ke tempat-tempat suci. Kunjungan dari negara luar Jambudipa yang sangat terkenal adalah yang dilakukan oleh peziarah-peziarah dari Cina, yaitu: Fa-Hien pada abad IV-V AD, Hsuan Tsang dan kemudian I-Tsing pada abad VII AD.
       Para peziarah ini meninggalkan catatan-catatan mengenai perjalanan mereka di Jambudipa. Berdasarkan pada catatan mereka ini, maka ada informasi tentang Dharmayatra ke tempat-tempat suci yang berhubungan dengan kehidupan Sang Buddha.



2.1.2 Dasar Filosofi

       Kegiatan Dharmayatra sangat penting untuk dilakasanakan seperti yang ada pada latar belakang dan tujuan Dharmayatra. Begitu banyak manfaatnya kita melaksanakan kunjungan ke tempat-tempat suci yang ada hubungannya dengan Sang Buddha, adapun manfaat penting dalam melaksanakan Dharmayatra sebagai berikut:
a.         Penting guna meningkatkan saddha (keyakinan) bagi peziarah (pelaksana Dharmayatra);
b.         Menambah pengetahuan wawasan  pada tempat-tempat yang disakralkan dalam agama Buddha bagi peziarah (pelaksana Dharmayatra);
c.         Memperbaiki dan meningkatkan kesadaran bagi peziarah (pelaksana Dharmayatra) dalam beragama Buddha;
d.        Mendapat pahala yang sangat besar yang dapat membantu dan menentukan kelahiran yang akan datang, seperti petikan pada Mahaparinibbana Sutta ”Ananda, bagi mereka yang berkeyakinan kuat melakukan ziarah ke tempat-tempat itu, maka setelah mereka meninggal dunia, mereka akan terlahir kembali di alam surga.” (1989  : 125)
2.1.3   Dasar Hukum
a.     Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
b.     Peraturan Presiden No. 76 Tahun 2005 tentang Penegrian STABN Sriwijaya Tangerang Banten;
c.      Peraturan Mentri Agama RI No. 7 Tahun 2006 Tentang Organisasi dan Tata Kerja STABN Sriwijaya Tangerang Banten;
d.     Rancangan Statuta STABN Sriwijaya Tangerang Banten.
2.1.4   Dasar Teologis
1)        Milinda Panha
Dalam Milinda Panha Sang Buddha bersabda “Hormatilah relik dari mereka yang patut dihormati. Dengan bertindak demikian engkau akan pergi dari dunia ini ke Surga (Bhikkhu Pesala, 2002 : 100)
Dalam petikan Milinda Panha pada halaman 100, terdapat sebuah kalimat yang menyatakan bahwa:
“Hormati relik dari mereka yang patut dihormati. Dengan bertindak demikian engkau akan pergi dari dunia ini ke surga”
(Milinda Panha pada halaman 100)
Disini diceritakan tentang percakapan antara Sang Buddha dengan Bhikkhu Ananda, yaitu :
“Sang Buddha berkata,’Jangan menghalangi dirimu sendiri, Ananda, dengan menghormati apa yang tersisa dari Sang Tathagata. Tetapi pada kesempatan lain Beliau berkata, “Hormatilah relik dari mereka yang patut dihormati. Dengan bertindak demikian engkau akan pergi dari dunia ini ke surga.”
Pernyataan manakah yang benar?”
“Nasehat pertama tidak diberikan kepada semua orang, O baginda, melainkan hanya kepada para siswa Sang Penakluk (para bhikkhu). Menghormati relik bukanlah tugas mereka. Memahami sifat hakiki semua bentukan, menggunakan penalaran (memperhatikan anicca), meditasi pandangan terang, memegang inti obyek meditasi, memberikan pengabdian kepada kesejahteraan spiritual, itulah tugas-tugas bhikkhu. Seperti halnya, O Baginda, adalah urusan para pangeran untuk belajar seni perang dan hukum wilayah; sedangkan beternak, berdagang dan mengurus ternak merupakan urusan perumah tangga.
2)        Maha Parinibbana Sutta
Dalam Maha Parinibbana Sutta terdapat sebuah kalimat yang menyatakan bahwa:
“ Ananda, bagi mereka yang berkeyakinan kuat melakukan ziarah ke tempat-tempat itu, maka setelah mereka meninggal dunia, mereka akan terlahir kembali di alam surga.”(1989 : 125)
Sutta ini merupakan cerita penting tentang hari-hari terakhir Sang Buddha, catatan sejarah mengenai apa yang akan dilakukan dan dikatakan Sang Buddha serta yang terjadi di tahun terakhir kehidupan Sang Buddha. Sutta ini juga diselingi dengan banyak khotbah mengenai beberapa aspek yang paling mendasar dan penting di dalam ajaran Sang Buddha. Salah satunya menceritakan tentang Suku Vajji yang sangat menghormati dan menghargai tempat-tempat suci dan mereka dengan taat melaksanakan puja bakti.
Selain itu juga, dalam Sutta ini disebutkan bahwa ada empat tempat bagi seorang  yang berbakti yang seharusnya pergi berziarah dan menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat yang diberitahukan oleh Sang Buddha kepada Bhikkhu Ananda.
Hal ini disampaikan oleh Sang Buddha menjelang beliau parinibbana atau meninggal dunia, yaitu sebagai berikut :
1.  Tempat dimana Sang Tathagata dilahirkan;
2.  Tempat dimana Sang Tathagata mencapai penerangan sempurna yang tiada tara;
3.  Tempat dimana Sang Tathagata memutar roda Dhamma untuk pertama kali;
4.  Tempat dimana Sang Tathagata meninggal (parinibbana).
Dalam sutta ini juga terdapat syair yang menceritakan Delapan Relik Sang Bhagava.
3)        Saddhamma-Pundarika Sutra
Dalam Saddhamma-Pundarika Sutra, Bab I Purwaka pada halaman 5 terdapat petikan bahwa:
“Demikian pula dapat disaksikan para Buddha yang telah mencapai Pari-Nirvana, dapat pula dilihat stupa-stupa, terbuat dari pada tujuh macam bahan untuk menempatkan Sarira (relik) para Buddha, yang didirikan setelah para Buddha mencapai Pari-Nirvana”.          
Bagi mereka yang telah mencapai Parinirvana yaitu para Buddha, maka ia akan dibangunkan sebuah stupa. Stupa tersebut terbuat dari tujuh macam bahan untuk menempatkan Sarira (relik) para Buddha. Jadi bagi mereka yang telah mencapai Parinirvana, maka ia patut di hormati dan didirikan sebuah stupa.
2.2    Sejarah Objek Dharmayatra
Setiap tempat yang memiliki nilai kebudayaan spritual pasti memiliki catatan sejah. Begitu juga tempat-tempat dharmayatra pasti memiliki sejarah tersendiri. Adapun sejarah yang ada dalam masing-masing objek dharmayatra sebagai berikut :
2.2.1        Candi Plaosan Lor, Plaosan Kidul (kuti)
Letaknya ± 1 km ke arah dari Candi Sewu. Candi ini dibangun pada pertengahan abad 9 Masehi oleh Rakai Pikatan sebagai hadiah kepada permaisurinya. Kelompok Candi Plaosan Lor (Utara) terdiri atas dua Candi induk, 58 perwara dan 126 buah Stupa. Kelompok Candi Plaosan Kidul (Selatan) hanya berupa sebuah Candi. Halaman Candi induk terbagi dua yang masing-masing di atasnya berdiri sebuah biara bertingkat dua. Tingkat atas untuk tempat tinggal para pendeta Buddha dan tingkat bawah untuk kegiatan keagamaan.
Secara administratif kompleks Candi Plaosan terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Provinsi Jawa Tengah. Sedangkan secara geografis terletak pada 7’ 44’ 32, 13 “Lintang Selatan dan 110’ 30’ 11, 007” Bujur Timur dengan ketinggian kurang lebih 163,195 meter dari permukaan laut. Kompleks Candi Plaosan dapat dicapai dengan menyusuri jalan raya Prambanan-Manisrenggo, yang ada di sebelah Timur pagar kompleks Candi Prambanan, ke arah Utara, setelah kira-kira berjalan 1500 meter berbelok ke arah Timur, setelah kurang lebih 1200 meter akan sampai di kompleks Candi Plaosan.
Kompleks Candi Plaosan terdiri dari dua kelompok Candi yang dikenal dengan sebutan kompleks Candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Kedua kompleks Candi dipisahkan oleh jalan aspal yang membentang Timur-Barat dan lingkungan tanah persawahan. Kompleks Candi Plaosan Lor secara keseluruhan terletak di tengah tanah persawahan dan di sebelah Barat kompleks Candi Plaosan Kidul terdapat perumahan penduduk Dukuh Plaosan.
2.2.2        Candi Kalasan
Peninggalan agama Buddha tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah adalah Candi Kalasan. Letak pada sisi sebelah kanan Jalan Raya Yogya-Solo 13 km. Masuk beberapa puluh meter ke arah Selatan. Candi ini didirikan oleh Pangkaran, raja kedua dari kerajaan Matarm Kuno pada abad 8 Masehi sebagai persembahan kepada Dewi Tara. Lengkung “Kala-Makara dengan hiasan kahyangan di atasnya terpahat di atas pintu masuk dengan begitu indahnya. Keindahan hiasan dan relief-reliefnya disebabkan oleh penggunaan sejenis semen kuno “Bajralepa”. Candi ini dianggap permata kesenian Jawa Tengah.
2.2.3        Candi Sari
“Sari” bararti “indah” atau “cantik” sesuai bentuknya yang ramping. Mungkin keindahannya yang menarik perhatian ia dinamakan demikian. Puncak atapnya berhiaskan 9 Stupa yang sama sebangun dan tersusun dalam 3 deret. Di bawah masing-masing Stupa terdapat ruangan-ruangan bertingkat 2 yang digunakan sebagai tempat tinggal, tempat meditasi dan mengajar.
Arca-arca Bodhisatva terdapat pada dinding luarnya. Dinding ini dihias dengan amat indahnya. Biara Buddha yang dibangun pada ± abad 8 Masehi ini terletak pada sisi kiri Jalan Raya Yogya-Solo, masuk ± 500 meter ke arah Utara. Bangunan dengan panjang 17,32 meter dan lebar 10 meter ini merupakan sebagian saja dari kumpulan candi yang telah hilang.
2.2.4        Candi Prambanan
Candi Loro Jonggrang yang sering disebut Candi Prambanan terletak persis di perbatasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah, kurang lebih 17 km ke arah Timur dari kota Yogyakarta atau kurang lebih 53 km sebelah Barat Solo. Komplek Percandian Prambanan ini masuk ke dalam dua wilayah yakni komplek bagian Barat masuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagian Timur masuk wilayah Provinsi Jawa Tengah. Percandian Prambanan berdiri di sebelah Timur Sungai Opak kurang lebih 200 m sebelah Utara Jl. Raya Yogya-Solo.
Gugusan Candi ini dinamakan “Prambanan” karena terletak di daerah Prambanan. Nama “Loro Jonggrang” berkaitan dengan legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis jangkung putri Prabu Boko.
Candi Prambanan adalah kelompok percandian Hindu yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Sanjaya pada abad IX. Ditemukannya tulisan nama Pikatan pada Candi ini menimbulkan pendapat bahwa Candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung bedasarkan prasasti berangka pada tahun 856 M “Prasasti Siwargrha” sebagai manifest politik untuk meneguhkan kedudukannya sebagai raja yang besar. Terjadinya perpindahan pusat kerajaan Mataram ke Jawa Timur berakibat tidak terawatnya Candi-candi di daerah ini ditambah terjadinya gempa bumi serta beberapa kali meletusnya Gunung Merapi menjadikan Candi Prambanan runtuh tinggal puing-puing batu yang berserakan. Sungguh menyedihkan itulah keadaan pada saat penemuan kembali Candi Prambanan. Usaha pemugaran yang dilaksanakan pemerintah Hindia Belanda berjalan sangat lamban dan akhirnya pekerjaan pemugaran yang sangat berharga itu diselesaikan oleh bangsa Indonesia. Pada tanggal 20 Desember 1953 pemugaran Candi induk Loro Jonggrang secara resmi dinyatakan selesai oleh Ir. Sukarno sebagai Presiden Republik Indonesia pertama. Sampai sekarang pekerjaan pemugaran dilanjutkan, yaitu pemugaran Candi Brahma dan Candi Wisnu, Candi Brahma dipugar mulai tahun 1977 dan selesai diresmikan pada tanggal 23 Maret 1987. Sedangkan Candi Wisnu mulai dipugar pada tahun 1082 , selesai dan diresmikan oleh Bapak Presiden Soeharto pada tanggal 27 April 1991.
Komplek percandian Prambanan terdiri atas latar bawah, latar tengah, dan latar atas (latar pusat) yang semakin ke arah dalam makin tinggi letaknya. Berturut-turut letaknya : 390 meter persegi, 222 meter persegi, dan 110 meter persegi, latar bawah tak berisi apapun. Di dalam latar tengah terdapat reruntuhan Candi-candi Perwara.
Apabila seluruhnya telah selesai dipugar, maka akan ada 224 buah Candi yang ukurannya semua sama yaitu luas dasar 6 meter persegi dan tingginya 14 meter. Latar pusat adalah latar terpenting di atasnya berdiri 16 buah Candi besar dan kecil. Candi-candi utama terdiri atas dua deret yang saling berhadapan. Deret partama yaitu Candi Siwa, Candi Wisnu dan Candi Brahma. Deret kedua yaitu Candi Nandi, Candi Angsa, dan Candi Garuda. Pada ujung-ujung lorong yang memisahkan kedua deretan Candi tersebut terdapat Candi Apit. Delapan Candi lainnya lebih kecil. Empat diantaranya Candi keril dan empat lainnya disebut Candi Sudut. Secara keseluruhan terdiri atas 240 Candi. Bangunan-banguna dari Candi Prambanan antara lain :
a.         Candi Siwa
Candi dengan luas dasar 34 metr persegi dan tinnginya 47 meter adalah terbesar dan terpenting. Bernama Candi Siwa karena di dalamnya terdapat arca Siwa Mahadewa yang merupakan arca terbesar. Bangunan ini dibagi atas tiga bagian secara vertikal kaki, tubuh dan kapala/atap, kaki Candi menggambarkan “dunia bawah” tempat manusia yang masih diliputi hawa nafsu, tubuh Candi menggambarkan “dunia tengah” tempat manusia yang telah meninggalkan keduniawian dan atap melukiskan “dunia atas” tempat para dewa.
b.         Candi Brahma
Luas dasarnya 20 meter persegi dan tingginjya 37 meter. Di dalam satu-satunya ruangan berdirilah arca Brahma berkepala empat dan bertangan empat. Arca ini sebenarnya sangat indah tetapi sudah rusak. Salah satu tanganya memegang tasbih yang satunya memegang “Kamandalu” tempat air . keempat wajahnya menggambarkan keempat kitab suci Weda masing-masing menghadap ke arah mata angin. Sebagai pencipta ia membawa air karena seluruh alam kelaur dari air. Tasbih menggambarkan waktu. Dasar kaki Candi juga dikelilingi oleh Selasar yang dibatasi pagar langkan dimana pada langkan sebelah dalam terdapat pahatan relief lanjutan cerita Ramayana dan relief serupa pada Candi Siwa hingga tamat.
c.         Candi Wisnu
Bentuk, ukuran relief dan hiasan dinding luarnya sama dengan Candi Brahma. Dimana satu-satunya ruangan yang ada berdirilah arca Wisnu bertangan empat yang memegang Gada, Cakra, Tiram. Pada dinding langkan sebelah dalam terpahat relief cerita Kresna sebagai “Autara” atau penjelmaan Wisnu dan Balarama (Baladewa) kakaknya.



d.        Candi Nandi
Luas dasarnya 15 meter persegi dan tingginya 25 meter. Di dalam satu-satunya ruangan yang ada terbaring arca Lembu jantan dengan sikap merdeka dengan panjang ± 2 meter. Di sudut belakangnya terdapat arca Dewa Candra. Dengan mata tiga berdiri di atas kereta yang ditarik 10 ekor kuda. Surya berdiri di atas kereta yang ditarik oleh 7 ekor kuda. Candi ini sudah runtuh.
e.         Candi Angsa
Candi ini mempunyai satu ruangan yang tak berisi apapun. Luas dasarnya 13 meter persegi dan tingginya 22 meter. Mungkin ruangan ini hanya dipakai untuk kandang angsa hewan yang biasa dikendarai oleh Brahma.
f.          Candi Garuda
Bentuk ukuran serta hiasan dindingnya sama dengan Candi Angsa. Di dalam satu-satunya ruangan yang ada terdapat arca kecil yang berwujud seekor naga. Garuda adalah kendaraan Wisnu.
g.         Candi Apit
Luas dasarnya 6 meter persegi dengan tinggi 16 meter.  Ruanganya kosong. Mungkin Candi ini dipergunakan untuk bersamadhi untuk memasuki Candi-candi induk. Karena keindahannya ia mungkin digunakan untuk menanamkan estetika dalam komplek percandian Prambanan.



h.         Candi Kelir
Luas dasarnya 1,55 meter persegi dengan tinggi 4,10 meter. Candi ini tidak mempunyai tangga masuk. Fungsinya sebagai pendak bala.
i.           Candi Sudut
Ukuran Candi-candi ini sama dengan Candi Kelir.
2.2.5        Candi Bubrah
Candi Bubrah adalah candi Buddha yang berada di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, yaitu di antara candi utama Roro Jonggrang dan Candi Sewu. Dinamakan Bubrah karena memang keadaannya rusak sejak pertama kali ditemukan (bubrah dalam bahasa Jawa). Sekarang candi ini hanya tinggal reruntuhannya saja, dengan bujur sangkar berukuran 30 m x 30 m. Sifat keagamaan dan beberapa pola hiasnya sama dengan candi sewu.
Menurut perkiraan, candi ini dibangun pada abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno, satu periode dengan Candi Sewu. Saat pertama kali ditemukan masih terdapat beberapa patung Buddha, walaupun tidak utuh lagi, sedangkan beberapa relief pada bagian kaki candinya masih terlihat.
2.2.6        Candi Lumbung
Candi Lumbung merupakan candi yang berlatar belakang Buddha. Candi ini masih berada satu kompleks dengan candi Sewu dan Candi Bubrah. Candi Lumbung ini terletak di sebelah selatan Candi Sewu atau sekitar 300 m dari Candi Prambanan. Candi Lumbung adalah candi yang berlatar belakang agama Buddha. Candi Lumbung memiliki satu buah candi induk yang menghadap ke arah timur dan 16 Candi Perwara dengan masing-masing 4 buah di setiap penjuru mata angin mengelilingi candi induk. Candi Lumbung terletak beberapa ratus meter di sebelah selatan Candi Sewu. Candi ini sudah masuk dalam wilayah kabupaten Klaten, Surakarta. Nama Lumbung masih menjadi pertanyaan merupakan nama candi ini atau nama itu hanya smerupakan sebutan masyarakat di sekitarnya, karena bentuknya yang mirip lumbung (bangunan tempat penyimpanan padi).

2.2.7        Candi Sewu
Candi Sewu adalah candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 yang berjarak hanya delapan ratus meter di sebelah utara candi Prambanan. Candi Sewu merupakan komplek candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. Candi Sewu berusia lebih tua dari pada Candi Prambanan. Meskipun aslinya terdapat 257 candi, oleh masyarakat setempat candi ini dinamakan Candi "Sewu" yang berarti "seribu" dalam bahasa Jawa. Penamaan ini berdasarkan kisah legenda Loro Jonggrang. Berdasarkan prasasti yang berangka tahun 792 dan ditemukan pada tahun 1960, nama asli bangunan ini adalah “Manjus’ri grha” (Rumah Manjusri). Manjusri adalah salah satu Boddhisatwa dalam ajaran Buddha.
Candi Sewu diperkirakan dibangun pada abad ke-8 masehi pada akhir masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Rakai Panangkaran (746 – 784) adalah raja yang termahsyur dari kerajaan Mataram Kuno. Kompleks candi ini mungkin dipugar, diperluas, dan rampung pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, seorang pangeran dari dinasti Sanjaya yang menikahi Pramodhawardhani dari dinasti Sailendra. Setelah dinasti Sanjaya berkuasa rakyatnya tetap menganut agama sebelumnya. Adanya Candi Sewu yang bercorak Buddha berdampingan dengan Candi Prambanan yang bercorak hindu menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu di Jawa umat Hindu dan Buddha hidup secara harmonis dan adanya toleransi beragama.
Karena keagungan dan luasnya kompleks Candi ini, candi Sewu diduga merupakan Kerajaan Buddha, sekaligus pusat kegiatan agama Buddha yang penting di masa lalu. Candi ini terletak di lembah Prambanan yang membentang dari lereng selatan gunung Merapi di utara hingga pegunungan Sewu di selatan, di sekitar perbatasan Yogyakarta dengan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Di lembah ini tersebar candi-candi dan situs purbakala yang berjarak hanya beberapa ratus meter satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini merupakan kawasan penting artinya dalam sektor keagamaan, politik, dan kehidupan urban masyarakat Jawa kuna.
Kompleks Candi Sewu adalah kumpulan candi Buddha terbesar di kawasan sekitar Prambanan, dengan bentang ukuran lahan 185 meter utara-selatan dan 165 meter timur-barat. Pintu masuk kompleks dapat ditemukan di keempat penjuru mata angin, tetapi mencermati susunan bangunannya, diketahui pintu utama terletak di sisi timur. Tiap pintu masuk dikawal oleh sepasang arca Dwarapala. Arca raksasa penjaga berukuran tinggi sekitar 2 meter ini dalam kondisi yang cukup baik, dan replikanya dapat ditemukan di Keraton Yogyakarta. Aslinya terdapat 257 bangunan candi di kompleks ini yang disusun membentuk mandala, perwujudan alam semesta dalam kosmologi Buddha Mahayana. Candi kecil terdiri atas 248 buah dengan disain yang serupa dan tersusun atas empat barisan yang konsentris. Dua barisan terluar terdiri dari 176 candi kecil yang disusun berdekatan. Sedangkan dua baris terdalam yang terdiri atas 72 candi yang agak besar tersusun dengan interval jarak tertentu. Banyak patung dan ornamen yang telah hilang dan susunannya telah berubah. Arca-arca Buddha yang dulu mengisi candi-candi ini mengkin serupa dengan arca Buddha di Borobudur.
Pada bentangan poros tengah, utara-selatan dan timur-barat, pada jarak 200 meter satu sama lain, atara baris ke-2 dan ke-3 candi kecil terdapat candi perwara (pengawal), candi-candi ini ukurannya kedua terbesar setelah candi utama. Aslinya di setiap penjuru mata angin terdapat masing-masing sepasang candi perwara yang saling berhadapan, tetapi kini hanya candi perwara kembar timur dan satu candi perwara utara yang masih utuh. Candi-candi yang lebih kecil ini mengelilingi candi utama yang paling besar tapi beberapa bagiannya sudah tidak utuh lagi. Di balik barisan ke-4 candi kecil terdapat pelataran beralas batu dan ditengahnya berdiri candi utama.
Candi utama memiliki denah poligon bersudut 20 yang menyerupai salib atau silang yang berdiameter 29 meter dan tinggi bangunan mencapai 30 meter. Pada tiap penjuru mata angin terdapat struktur bangunan yang menjorok ke luar, masing-masing dengan tangga dan ruangan tersendiri dan dimahkotai susunan stupa. Seluruh bangunan terbuat dari batu andesit. Ruangan di empat penjuru mata angin ini saling terhubungkan oleh galeri sudut berpagar langkan. Berdasarkan temuan pada saat pemugaran, diperkirakan rancangan awal bangunan hanya berupa candi utama berkamar tunggal. Candi ini kemudian diperluas dengan menambahkan struktur tambahan di sekelilingnya. Pintu dibuat untuk menghubungkan bangunan tambahan dengan candi utama dan menciptakan bangunan candi utama dengan lima ruang. Ruangan utama di tengah lebih besar dengan atap yang lebih tinggi, dan dapat dimasuki melalui ruang timur. Kini tidak terdapat patung di kelima ruangan ini. Akan tetapi berdasarkan adanya landasan atau singgasana batu berukir teratai di ruangan utama, diduga dahulu dalam ruangan ini terdapat arca Buddha dari bahan perunggu yang tingginya mencapai 4 meter. Akan tetapi kini arca itu telah hilang, mungkin telah dijarah untuk mengambil logamnya sejak berabad-abad lalu.
2.2.8        Ratu Boko
Kompleks Ratu Boko terletak di dataran tinggi yang luasnya 500 x 500 m, atau tepatnya berada di Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Candi yang berdiri 8-10 M ini berada pada sebuah bukit kapur yang terletak di sebelah selatan candi Prambanan yang jaraknya +/- 2 km. Bukit ini merupakan rangkaian dari Zona Gunung Kidul bagian utara dengan ketinggian 110-229 m di atas permukaan air laut.
Kompleks kepurbakalaan Ratu Boko ini dikenal dengan nama Keraton Boko, karena disitulah menurut cerita bertempat tinggal Ratu Boko yang disebut dalam cerita Loro Jonggrang. Kawasan candi yang terbuat dari batu putih dan batu andesit ini merupakan peninggalan sejarah yang menunjukkan unsur-unsur agama Buddha dan Hindu dari abad 8-10 M. Candi ini dibuat pada masa kerajaan Mataram Kuno. Bukti-bukti tertulis yang ditemukan di kompleks Ratu Boko memperlihatkan adanya kaitan antara Ratu Boko dengan pemerintahan Kerajaan Matam Kuno. Candi Prambanan sebagai salah satu bentuk peninggalan terbesar dari Kerajaan Mataram Kuno memiliki kaitan dengan Ratu Boko.
Candi Prambanan terletak pada salah satu imajiner dengan Ratu Boko, sehingga para ahli memperkirakan bahwa Candi Prambanan sebagai daerah sakral, sedangkan kompleks Ratu Boko sebagai tempat pemukiman. Dugaan ini diperkuat dengan temuan prasasti di Ratu Boko yang menyebutkan bahwa fungsi Ratu Boko sebagai wihara. Prasasti ini adalah Prasati Abhayagiriwihara pada tahun 792 M, yakni sebagai tempat pemukiman dan perlindungan (berdasarkan prasasti yang dibuat oleh Raja Belitung pada abad 10 M).
Situs Ratu Boko sebenarnya bukan merupakan candi, melainkan reruntuhan sebuah kerajaan. Oleh karena itu, Candi Ratu Boko sering disebut juga Kraton Ratu Boko.  Disebut Keraton Boko, karena menurut legenda situs tersebut merupakan istana Ratu Boko, ayah Loro Jonggrang. Kata 'kraton' berasal dari kata Ka-ra-tu-an yang berarti istana raja. Diperkirakan Candi Ratu Boko dibangun pada abad ke-8 oleh Wangsa Syailendra yang beragama Buddha, namun kemudian diambil alih oleh raja-raja Mataram Hindu. Peralihan 'pemilik' tersebut menyebabkan bangunan Keraton Boko dipengaruhi oleh Hinduisme dan Buddhisme.
2.2.9        Candi Mendut
Sama halnya dengan Candi Borobudur, Candi Mendut berlatar belakang agama Buddha. Candi ini hanya terdiri dari satu candi induk yang menghadap ke arah barat. Sebenarnya di sisi selatan candi induk, ada sekumpulan batu-batu candi, dan diperbiralan  batu candi tersebut merupakan Candi Perwara. Candi ini kerap digunakan pada upacara sembahyang agama Buddha, tidak heran bila di dekat candi terdapat sebuah vihara. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 oleh Wangsa Syailendra yang juga membangun Candi Borobudur. Di bilik utama terdapat tiga buah arca Buddha, Vairocana, Avalokitesvara, dan Vajrapani. Simbolisme ketiga arca tersebut merupakan fungsi Candi Mendut, yaitu untuk bisa membebaskan karma badan, karma ucapan, serta karma pikiran. Selain itu di setiap dinding candi terukir berbagai macam relief jajaran dewa-dewa agama Buddha dan juga berbagai macam relief kisah cerita binatang.
2.2.10    Candi Borobudor
Candi Borobudor dibangun oleh “Wangsa syailendra” yang dikenal dalam sejarah karena usahanya untuk menjunjung tinggi dan mengagungkan agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800 M. Kira-kira hanya 150 tahun Candi Borobudor digunakan sebagai pusat ziarah. Dengan berakhirnya kerajaan Mataram tahun 930 pusat kehidupan dan kebudayaan jawa bergerak ke Timur. Kira-kira pada abad ke 10 itulah Candi Borobudor terbengkalai dan terlupakan. Baru pada tahun 1814 berkat kegiatan “Sri Thomas Stamford Refles” telah menemukan beberapa bukti yang menunujukan bahwa pada bagian kaki-kaki Candi yang tertutup terdapat tulisan singkat berbahasa Sangsekerta dengan huruf kawi. Pada saat itu Refles adalah seorang Letnan Gubernur Jendral Inggris. Ketika itu Indonesia dikuasai atau dijajah Inggris tahun 1811-1816. Sejarah Candi Borobudor telah ditemukan kembali, lalu dimulailah dan memugar kembalai bangunan Candi Borobudor yang mulanya hanya dilakukan perbaikan kecil-kecilan serta pembuatan gambar dan foto relief-reliefnya. Pekerjaan pemugaran yang boleh dikatakan agak besar yang pertama kali diadakan pada tahun 1907-1911.
Candi Borobudor dibuat dengan menggunakan batu andesit sebanyak 55.000 M3. Bangunan berbentuk limas berundak-undak dengan tangga naik keempat sisinya (Timur, Selatan, Utara dan Barat). Pada Candi Borobudor tidak ada ruangan dimana orang bisa masuk melainkan hanya bisa naik sampai terasnya. Lebar bangunan Candi Borobudor 123 M. Panjang bangunan Candi Borobudor 123 M. Pada sudut yang membelok 113 M. Tinggi bangunan Candi Borobudor 34,5 M.
Pada kaki Candi yang asli ditutup dengan batu sebanyak 12.750 M3, sebagai selasar dan undaknya. Candi Borobudor merupakan tiruan dari kehidupan pada alam semesta, yang terbagi tiga bagian besar, yaitu:
a.         Kamadhatu
Sama dengan dunia paling bawah atau dunia hasrat, dalam dunia ini manusia masih terikat pada hasrat bahkan dikuasai oleh hasrat, kemauan, dan hawa nafsu.
b.         Rupadhatu
Sama dengan dunia rupa. Dalam alam ini manusia telah meninggalkan segala hasrat tapi masih terikat pada nama dan rupa. Bagian ini terdapat pada langkah 1-5.
c.         Aruapadhatu
Sama dengan dunia tanpa rupa. Pada tingkat ini sudah tidak ada nama maupun rupa. Manusia telah bebas sama sekali dan telah memutuskan untuk selama-lamanya lepas dari ikatan kepada dunia hasrat.
Patung-patung itu menggambarkan Dhayani Buddha terdapat pada bagian Rupadhatu dan Arupadhatu. Patung-patung Buddha di Rupadhatu ditempatkan dalam relung-relung yang tersusun sejajar pada sisi luar pagar langkah sesuai dengan kenyataan bahwa tingkatan-tingkatan bangunannya semakin tinggi letaknya semakin kecil ukurannya. Susunan patung Buddha pada Candi Borobudor adalah sebagai berikut :
Langkah Pertama        : 104 Patung Buddha
Langkah Kedua           : 104 Patung Buddha
Langkah Ketiga           : 88 Patung Buddha
Langkah Keempat       : 72 Patung Buddha
Langkah Kelima          : 64 Patung Buddha
Teras Bundar Pertama : 32 Patung Buddha
Teras Bundar Kedua   : 24 Patung Buddha
Teras Bundar Ketiga   : 16 Patung Buddha
Jad jumlah seluruh patung Buddha adalah 504 buah patung.
Pada bagian Arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama, maka jumlah mudra yang pokok ada lima, yaitu :
1.    Bhumispara-Mudra
Sikap tangan ini menggambarkan saat tangan Sang Buddha memanggil Dewi Bumi sebagai saksi ia menangkis semua serangan iblis mara.
2.    Wara-Mudra
Sikap tangan ini menggambarkan perihal alam memberi berkat atau anugerah. Mudra ini adalah khas bagi Dhayani Buddha Ratna Sambawa patung-patung menghadap ke Selatan.
3.      Dhayana-Mudra
Sikap tangan ini melambangkan sedang bersamadhi. Sikap tangan ini merupakan tanda khusus Dhayani Buddha Amithaba, patung-patung menghadap ke Barat.



4.      Abhaya-Mudra
Sikap tangan ini melambangkan sedang memenangkan dan merupakan tanda khusus Dhayani Amoghasidi, patung-patung menghadap ke Utara.
5.      Dharma Cakro-Mudra
Sikap tangan ini melambangkan gerak memutar roda Dharma dan juga menjadi cirri khas Dhayani Buddha Wairocana, daerah kekuasaannya berada di pusat.
Pada Stupa induk Candi Borobudur berukuran lebih besar dari pada Stupa yang lainnya dan terletak di tengah-tengah (paling atas) bangunan Candi Borobudor. Garis tengah Stupa induk ± 9,90 meter. Puncak yang tinggi disebut Pinakel atau Yasti Cikkra, Pinakel terletak di atas Padamaganda dan juga terletak di atas Harmika. Stupa berlubang atau terawang adalah Stupa yang terdapat pada tingkat I, II, III dimana di dalamnya terdapat patung Buddha, Stupa ini berjumlah 72 buah. Adapula Stupa kecil bentuknya sama dengan Stupa lainnya, hanya  saja perbedaannya yang menonjol adalah dalam ukurannya yang lebih kecil dari Stupa yang lainnya, jumlahnya Stupa kecil ada 1.472 buah.
2.2.11    Makam  Imogiri
Makam  imogiri dibangun tahun 1632  oleh Raja Adipati Anom Sesudah 5 tahun ia memerintah, kerajaannya dipindahkan ke Kerta-Plered dan selanjutnya Kanjeng Sultan ingin memulai membuat makam di Pegunungan Girilaya yang terletak di sebelah Timur Laut Imogiri yang dipergunakan sebagai makam raja. Tetapi sebelum makam itu selesai, pamannya yaitu Gusti Pangeran Juminah lebih dulu mengajukan permintaan. Kemudian Sinuhun merasa kecewa.
2.2.12 Keraton Yogyakarta
Kraton Yogyakarta dibangun tahun 1756 Masehi atau tahun Jawa 1682 oleh Pangeran Mangkubumi Sukowati yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Setelah melalui perjuangan panjang antara 1747-1755 yang berakhir dengan Perjanjian Gianti. Sebelum menempati Kraton Yogyakarta yang ada saat ini, Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Sri Sultan Hemengku Buwono Senopati Ingalogo Ngabdulrahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah tinggal di Ambar Ketawang Gamping, Sleman. Lima kilometer di sebelah barat Kraton Yogyakarta. Dari Ambar Ketawang Ngarso Dalem menentukan ibukota Kerajaan Mataram di Desa Pacetokan. Sebuah wilayah yang diapit dua sungai yaitu sungai Winongo dan Code. Lokasi ini berada dalam satu garis imajiner Laut Selatan, Krapyak, Kraton, dan Gunung Merapi.
Bangunan Kraton Yogyakarta sedikitnya terdiri tujuh bangsal. Masing-masing bangsal dibatasi dengan regol atau pintu masuk. Keenam regol adalah Regol Brojonolo, Sri Manganti, Danapratopo, Kemagangan, Gadungmlati, dan Kemandungan. Kraton diapit dua alun-alun yaitu Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan. Masing-masing alun-alun berukurang kurang lebih 100x100 meter. Sedangkan secara keseluruhan Kraton Yogyakarta berdiri di atas tanah 1,5 km persegi.  Bangunan inti kraton dibentengi dengan tembok ganda setinggi 3,5 meter berbentuk bujur sangkar (1.000 x 1.000 meter). Sehingga untuk memasukinya harus melewati pintu gerbang yang disebut plengkung. Ada lima pintu gerbang yaitu Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah Timur Laut kraton. Plengkung Jogosuro atau Plengkung Ngasem di sebelah Barat Daya. Plengkung Joyoboyo atau Plengkung Tamansari di sebelah Barat. Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading di sebelah Selatan. Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan di sebelah Timur.
Dalam benteng, khususnya yang berada di sebelah selatan dilengkapi jalan kecil yang berfungsi untuk mobilisasi prajurit dan persenjataan. Keempat sudut benteng dibuat bastion yang dilengkapi dengan lubang kecil yang berfungsi untuk mengintai musuh. Penjaga benteng diserahkan pada prajurit kraton di antaranya, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Mantrijero, dan Prajurit Bugis. Prajurit Jogokaryo mempunyai bendera Papasan dan tinggal di Kampung Jogokaryan. Prajurit Mantrijero dilengkapi dengan Bendera Kesatuan Purnomosidi dan tinggal di Kampung Mantrijeron. Prajurit Bugis yang berbendera Kesatuan Wulandari tinggal di Kampung Bugisan.
Masa pemerintahan Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono I (GRM Sujono) memerintah tahun 1755-1792. Sri Sultan Hamengku Buwono II (GRM Sundoro) memerintah tahun 1792-1812. Sri Sultan Hamengku Buwono III (GRM Surojo) memimpin tahun 1812-1814. Sri Sultan Hamengku Buwono IV (GRM Ibnu Djarot) memerintah tahun 1814-1823. Sri Sultan Hamengku Buwono V (GRM Gathot Menol) memerintah tahun 1823-1855. Sri Sultan Hamengku Buwono VI (GRM Mustojo) memerintah tahun 1855-1877. Sri Sultan Hamengku Buwono VII (GRM Murtedjo) memerintah tahun 1877-1921. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (GRM Sudjadi) memerintah tahun 1921-1939. Sri Sultan Hamengku Buwono IX (GRM Dorojatun) memimpin tahun 1940-1988.
Sri Sultan Hamengku Buwono X (GRM Hardjuno Darpito) memimpin tahun 1989 - sekarang. Disini kami ditemani oleh seorang guide yang bernama P. Gandung, dari beliaulah kami memperoleh pengetahuan baru tentang keberadaan Kraton tersebut. Masyarakat Jogjakarta meyakini bahwa Kraton tersebut adalah tempat yang sakral. Dari lokasinya yang merupakan titik kosmis antara gunung Merapi dan Pantai Selatan (jarak 27 km) masyarakat menganggap tempat ini adalah tempat yang agung, yang nantinya mampu melindungi masyarakat sekitar dari segala bencana yang terjadi.
2.2.13    Vihara Karang Djati
Bangunan induk Vihara Karang Djati dibangun pada masa pendudukan Belanda. Oleh pemiliknya, bangunan tersebut difungsikan sebagai kandang sapi perah, sapi yang menghasilkan susu segar. Pada masa tersebut, daerah tersebut belum merupakan perkampungan, tapi masih merupakan lahan yang sangat luas, yang merupakan areal perkebunan tebu, komoditas primadona Yogyakarta pada saat itu. Dengan peralihan kekuasaan dari Belanda ke Indonesia, lahan tersebut akhirnya dimiliki oleh Romo Among Pradjarto, seorang tokoh masyarakat yang cukup disegani, yang dikenal memiliki pengetahuan yang winasis.
Bhikkhu Jinaputta, yang berperan penting dalam alih fungsi Kandang sapi tersebut menjadi tempat ibadah. Pada tahun 1958 Bhante (panggilan kepada Bhikkhu) Jinaputa berkenan menjalankan Vassa di Yogyakarta. Beliau kemudian tinggal di Cetiya Buddha Kirti, Milik Bapak Tjan Tjoen Gie (Gunavarman Boediharjo), sebagai satu-satunya tempat ibadah umat Buddha yang ada di Yogyakarta waktu itu.
Bekas Kandang sapi kemudian di bersihkan, dan jadilah bekas kandang tersebut menjadi tempat vassa bagi Bhante jinaputa. Selama Bhante Jinaputa tinggal di tempat tersebut, maka dimulailah beberapa diskusi seputar agama Buddha. Karena kebanyakan yang datang adalah orang-orang memang mempunyai latar belakang theosofi, kejawen dan ajaran-ajaran kebatinan yang lain, maka tidaklah sulit untuk berdiskusi tentang ajaran tersebut.
Aktivitas di tempat tersebut kemudian sudah benar-benar merupakan aktivitas Vihara. Sudah tidak dikenal lagi sebagai kandang ternak. Kegiatan rutin berupa Puja Bakti setiap Rabu malam, serta Purnomosidhen (setiap bulan Purnama) dilakukan. Kegiatan tersebut tentu saja membutuhkan tempat yang lebih luas. Maka dibuatlah tempat tersebut menjadi lebih pantas, dilengkapi dengan pagar dan gapura. Tahun 1962, dinyatakan secara resmi menjadi lahirnya Vihara Buddha Karangdjati, meskipun aktivitasnya sudah dimulai sebalum tahun tersebut.
Vihara Karang Djati juga berkesempatan menyambut Bhikkhu Narada Mahathera, atau lebih dikenal dengan Bhante Narada, seorang tokoh Buddhis yang cukup dikenal di Dunia, berasal dari Sri Langka. Beliau datang ke Indonesia untuk mengajarkan agama Buddha di berbagai tempat, termasuk kemudian meletakkan batu pertama calon bangunan ‘tempat biara Buddha’ di depan Candi Mendut (Vihara Mendut saat ini). Sebelumnya, tahun 1961, perwakilan dari International Buddhist Centre, Profesor Ananda Thera, Bhikkhu dari Srilanka, juga berkunjung ke tempat tersebut.
Umat dari Vihara Karang Djati juga terlibat aktif dalam keorganisasian Buddhis secara nasional, termasuk menjadi pelaksana Musyawarah nasional umat Buddha pada tahun 1961 yang dihadiri delegasi dari berbagai kota dan propinsi di Indonesia. Tahun 1969 dibentuk juga Organisasi Wanita Buddhis bernama Perkumpulan Wanita Buddha Jogjakata, yang saat itu diketuai oleh Ibu Ratna Dewi Suprapto.

Berbagai kegiatan yang berupa pelayanan keagamaan, pelayanan sosial kemasyarakatan, pendidikan dan fungsi yang lain dilakukan di Vihara tersebut, baik dalam skala kecil maupun Intensional.