Senin, 21 Oktober 2013

dhammapadaattakhata VIDUDABHA VATTHU

1.                  VIDUDABHA VATTHU

Walaupun seseorang mengumpul bunga-bungaan ....” Uraian dhamma ini dibabarkan Guru ketika Beliau tinggal di Savatthi sehubungan dengan Vidudabha bersama pasukannya, yang diterjang dan terseret banjir besar hingga semuanya meninggal.

Di Savatthi hidup Pangeran Pasenadi, putra raja Kosala; di Vesali hidup Pangeran Mahali, keturunan Licchavi; di Kusinara ada Pangeran Bandula, putra raja Malla. Tiga pangeran ini belajar pada seorang guru terkenal di Takkasila. Ketika bertemu di sebuah rumah peristirahatan di luar kota, mereka saling bertanya tentang tujuan kedatangan, keluarga serta nama, dan menjadi teman. Mereka belajar pada guru yang sama pada waktu yang bersamaan, dan tak lama kemudian mereka telah menguasai berbagai macam ilmu, mereka mohon diri dari guru, berangkat bersama pulang ke masing-masing kerajaan.
Pangeran Pasenadi sangat mengembirakan ayahnya dengan mempertunjukkan berbagai macam keahlian yang dimilikinya sehingga ayahnya menotbatkannya menjadi raja.
Pangeran Mahali membaktikan dirinya pada tugas mendidik para pangeran Licchavi, namun karena terlalu bekerja keras, ia menjadi buta. Karena itu, para pangeran Licchavi berkata: “Sial! Guru kita telah buta. Kita tidak akan mengusirnya, namun kita harus membantunya dengan baik.” Selanjutnya mereka memberikan sebuah gerbang (pembsayaran pajak) seharga 100.000 kahapana. Ia tinggal di dekat gerbang ini, dan mengajar berbagai ilmu kepada 500 pangeran Licchavi.
Sedangkan bagi Pangeran Bandhula, para pangeran Malla mengikat batangan-batangan bambu dalam ikatan-ikatan yang masing-masing terdiri dari 60 batang, dan menyelipkan sebatang besi tipis ke dalam setiap ikatan bambu, mengangkat ikatan-ikatan batangan nya ke atas, dan menantang Bandula untuk memotongnya. Bandula meloncat ke udara setinggi 80 hasta dan menebas ikatan-ikatan itu dengan pedangnya. Karena mendengar suara bunyi besi pada ikatan terakhir, ia bertanya: “Apa itu?” Ketika ia diberitahukan bahwa sebatang besi tipis diselipkan dalam setiap ikatan, ia melempar pedangnya dan menangis dengan berkata: “Mereka semua adalah kerabatku dan temanku, namun tidak ada seorang pun dari mereka yang mau memberitahukan hal ini. Sebab, bilamana saya mengetahuinya, saya akan menebas ikatan-ikatan itu tanpa menyebabkan bunyi besi.” Lalu ia berkata kepada ayah dan ibunya: “Saya akan membunuh semua pangeran ini dan menguasai kerajaan.” Mereka menjawab: “”Nak, tahta diwariskan dari ayah ke putranya, maka dengan demikian tidak mungkin bagimu melakukan hal ini.” Dengan berbagai macam cara mereka membujuknya untuk tidak melaksanakan apa yang ia rencanakan, akhirnya ia berkata: “Baiklah, saya akan pergi dan tinggal dengan sahabatku,” dan ia berangkat ke Savatthi.
Raja Pasenadi mendapat informasi bahwa Bandula datang, maka ia segera pergi mengangkatnya menjadi panglima tertinggi tentaranya. Bandula mengajak ayah dan ibunya untuk tinggal di kota Savatthi.
Pada suatu hari, sementara raja berdiri diteras dan melihat ke jalan di bawah, ia melihat beberapa ribu bhikkhu yang melalui jalan dalam perjalanan mereka untuk makan pagi di rumah Anathapindika, Culla Anathapindika, Visakha dan Suppavasa. “Ke mana para bhikkhu itu pergi,” tanya raja. “Maha Raja, setiap hari 2000 bhikkhu pergi ke rumah Anathapindika untuk mendapat makanan, obat-obatan dlll.; 500 bhikkhu ke rumah Culla Anathapindika; jumlah yang sama juga pergi ke rumah Visakha dan Suppavasa.” Raja pun berkeinginan untuk melayani sangha bhikkhu, maka ia pergi ke vihara, lalu mengundang Guru dan ribuan siswanya untuk makan di istananya. Selama tujuh hari ia memberikan dana kepada Guru, pada hari ke tujuh ia memberikan hormat dan berkata: Sejak hari ini Bhante dengan 500 bhikkhu secara tetap datang makan di istanaku.” “Maha Raja, para Buddha tidak pernah menerima makanan secara tetap di satu tempat; manyak orang menginginkan kedatang para Buddha.” “Baiklah, kirim seorang bhikkhu secara tetap.” Guru menunjuk Bhikkhu Ananda melaksanakan tugas ini.

Ketika sangha bhikkhu bhikkhu, raja mengambil patta mereka dan selama tujuh hari secara pribadi ia melayani mereka, tanpa mengizinkan orang lain membentunya. Pada hari ke delapan raja menderita pusing dan lalai melaksanakan tugasnya. Para bhikkhu saling berkata: “Di istana raja tidak ada seorang pun yang meyediakan tampat duduk bagi para bhikkhu dan melayani mereka tanpa ia diperintahkan untuk melakukannya. Dengan demikian tidak mungkin bagi kita untuk tetap berada di sini lebih lama lagi.” Selanjutnya mereka pergi. Pada hari berikutnya juga raja melalaikan tugasnya, maka banyak bhikkhu yang pergi. Demikian pula pada hari ke tiga raja melalaikan tugasnya, akibatnya semua bhikkhu yang tersisa kecuali Bhikkhu Ananda yang tetap tinggal.
Mereka yang sungguh-sungguh mengikuti kebenaran muncul melampaui di lingkungannya dan menjaga kepercayaan umat berkeluarga. Tathagata memiliki dua orang siswa utama, yaitu: Sariputta Thera dan Moggallana Thera; dua siswi utama, yaitu Khema dan Uppalavanna. Diantara umat awam ada dua upasaka utama, yaitu: Citta dan Hatthaka Alavaka; sedangkan dua upasika utama adalah Velukanthaki Nandamata dan Kujjutara. Singkatnya, semua siswa mulai dari 8 orang ini, telah melakukan Tekad Kuat untuk memenuhi Sepuluh Paramita, dan telah memiliki banyak pahala. Demikian pula denganm Ananda Thera, ia telah membuat Tekad Kuat, telah memenuhi 10 Paramita selama 100.000 kappa, dengan demikian telah memiliki maha pahala. (mahapunna). Begitulah Ananda Thera yang muncul melampaui lingkungannya, tetap tinggal untuk menjaga kepercayaan orang-orang istana. Sehingga mereka menyiapkan tenpat duduk untuk bhikkhu Ananda dan melayani beliau.
Ketika para bhikkhu telah berlalu, raja tiba dan memperhatikan bahwa makanan yang keras dan lunak belum tersentuh, ia bertanya: “Apakah para bhikkhu yang mulia tidak datang?” “Hanya Ananda Thera seorang yang datang, Raja.” “Lihat, berapa kerugian yang mereka sebabkan,” kata raja. Karena mara kepada para bhikkhu, ia pergi menemui Guru dan berkata: “Bhante, saya menyediakan makanan untuk 500 bhikkhu, namun nampaknya hanya Ananda Thera seorang yang datang. Makanan yang telah disediakan di sana tidak tersentuh, dan para bhikkhu tidak menunjukkan tanda-tanda akan datang ke istanaku. Mohon, apakah alasannya?” Guru, tidak mempersalahkan para bhikkhu, menjawab: “Maha Raja, para siswaku kurang percaya kepada anda; tentu alasan ini yang menyebabkan hal itu terjadi.” Beliau mensehati para bhikkhu dan meletakkan persyaratan bagi para bhikkhu untuk tidak harus mengunjungi para umat, dan persyaratan bagi para bhikkhu untuk mengunjungi para umat, beliau membabarkan Sutta (Anguttara N. iv. 387 – 388):
“Para bhikkhu, ada 9 syarat bagi para umat yang tidak pantas dikunjungi olah para bhikkhu. Dengan demikian, bilamana para bhikkhu tidak mengunjungi umat, maka mereka tidak diharuskan mengunjungi umat itu; namun jika mereka sedang mengunjunginya, mereka tidak ada pantas untuk duduk. Apakah 9 syarat itu? Mereka tidak menyambut para bhikkhu dengan cara yang sopan; mereka tidak menghormat dengan cara yang sopan; mereka tidak mempersilahkan duduk dengan cara yang sopan; mereka menyembunyikan milik (harta) mereka; memiliki banyak, tetapi memberi sedikit; memiliki makanan yang baik, namun memberikan makanan yang kurang baik; mereka memberikan dana dengan cara yang tidak sopan; mereka tidak duduk untuk mendengar dhamma; mereka tidak berbicara dengan sopan. Para bhikkhu, inilah 9 syarat yang dimiliki oleh umat yang tidak pantas dikunjungi oleh para bhikkhu. Itulah sebabnya, bilamana para bhikkhu tidak mengunjungi umat itu, maka mereka tidak pantas untuk mengunjungi umat itu; namun jika mereka sedang mengunjunginya, mereka tidak ada pantas untuk duduk.
Para bhikkhu, sebaliknya ada 9 syarat para umat yang pantas dikunjungi oleh para bhikkhu. Maka bilamana para bhikkhu belum mengunjungi umat itu, mereka pantas untuk mengunjunginya; dan jika mereka mengunjunginya, mereka pantas untuk duduk. Apakah 9 syarat itu? Mereka menyambut para bhikkhu dengan cara yang sopan; mereka menghormat dengan cara yang sopan; mereka mempersilahkan duduk dengan cara yang sopan; mereka memperlihatkan milik mereka; memiliki banyak dan memberi banyak; memiliki makanan yang baik dan memberikan makan yang baik; memberikan dana dengan cara yang sopan; mereka duduk mendengar dhamma; mereka berbicara dengan sopan. Para bhikkhu, inilah 9 syarat yang dimiliki umat yang pantas dikunjungi oleh para bhikkhu. Itulah sebabnya, bilamana para bhikkhu belum mengunjungi umat itu, maka mereka pantas mengunjungi umat itu, jika mereka mengunjunginya, mereka pantas untuk duduk.
“Maharaja, berdasarkan hal inilah para siswaku kurang kepercayaan kepada anda; pasti karena hal inilah mereka tidak datang. Demikian pula yang dilakukan oleh para bijaksana pada masa lampau yang tinggal di sebuah tempat yang tidak sesuai dengan kepercayaan mereka; dan walaupun mereka dilayani dengan sopan, mereka merasakan penderita kematian, sehingga mereka pergi ke tempat di mana sesuai dengan kepercayaan mereka.” “kapan itu terjadi,” tanya Raja. Untuk itu Guru menceritakan hal berikut ini.
Cerita yang lampau.
Kesava, Kappa, Narada, dan Raja Baranasi
Pada masa yang lalu, ketika Raja Brahmadatta berkuasa di baranasi, seorang raja bernama Kesava meletakkan tahtanya, meninggalkan kehidupan dunikawi menjadi petapa; 500 pembantunya mengikuti jejaknya menjadi petapa. Sejak itu mantan raja dikenal sebagai petapa Kesava. Begitu pula, Kappa, penjaga permata kerajaan menjadi petapa sebagi murid Kesava. Petapa Kesava bersama para pengikutnya tinggal di pedalaman Himalaya selama 8 bulan. Pada masa musim hujan ia datang ke Baranasi untuk mendapat garam, cuka dan makan. Raja sangat gembira menemuinya, raja mendapat janji dari petapa akan tinggal bersamanya selama 4 bulan musim hujan, raja menyiapkan tempat tinggal di taman, dan menemuinya setiap pagi dan malam. Para petapa yang lain, setelah tinggal di situ selama beberapa hari merasa terganggu oleh suara-suara gajah dan binatang lainnya sehingga mereka merasa tidak puas, lalu mereka pergi menemui Kesava dan berkata: “Guru, kami tidak bahagia, maka kami akan pergi.” “Ke mana kamu sekalian akan pergi, saudara-saudara?” “Ke pedalaman Himalaya, Guru.” “Pada akhari kita tiba di sini, raja mendapat janji kita untuk tinggal selama 4 bulan musim hujan. Bagaimana dapat kita pergi, saudara-saudara?” “Guru tidak menjelaskan kepada kami tentang janji yang guru katakan kepada raja; kami tidak dapat tinggal di sini lebih lama lagi. Kami akan tinggal tidak jauh dari sini, agar kami dapat berita dari Guru.” Demikianlah mereka memberikan hormat kepadanya dan berangkat, akhirnya hanya Guru dan muridnya Kappa yang tertinggal.
Ketika raja datang menemui mereka, ia bertanya: “Ke manakan para petapa mulia pergi?” “Mereka mengatakan bahwa mereka tidak puas dan tidak bahagia, maka mereka pergi ke pedalaman Himalaya, Maha raja.” Tidak lama kemudian Kappa pun menjadi tidak puas. Walaupun Guru membujuknya berkali-kali agar tidak meninggalkannya, namun ia bersikeras bahwa ia tidak tahan lagi. Maka ia pergi mengikuti yang lain dan tinggal di tempat yang tidak terlalu jauh, agar ia (dengan mudah) dapat berita tentang Guru.
Guru sering memikirkan para muridnya, dan setelah beberapa waktu kemudian ia mulai menderita sakit dalam. Raja memerintahkan dokter untuk mengobatinya, namun kesehatannya tidak ada perbaikan. Akhirnya petapa berkata kepada raja: “Maha raja, apakah anda ingin saya sembuh?” “Bhante, jika mungkin, saya akan menyembuhkanmu pada saat ini juga.” “Maha raja, jika raja ingin saya sembuh, maka antas saya menemui para muridku.” “Baiklah, petapa,” jawab raja. Maka raja menidurkan petapa pada sebuah usungan dan memerintahkan 4 menterinya yang dipimpi oleh Narada membawa petapa kepada para muridnya, dengan berkata: “Perhatikan bagaimana kesehatan petapa dan kabarkan padaku.”
Petapa Kappa mendapat berita bahwa Guru datang, maka ia pergi menemuinya. “Ke mana yang lain?” tanya petapa Kesava, “Mereka tinggal di tempat anu dan itu,” jawab Kappa. Ketika para petapa yang lain mendengar bahwa Guru mereka telah tiba, mereka berkumpul, menyediakan air hangat untuk guru dan memberikan kepadanya berbagai macam buah-buahan. Pada saat itu juga petapa sembuh dari sakitnya; dan dalam beberapa hari saja penempilan tubuhnya yang keemasan nampak. Narada bertanya kepada petapa:
“Setelah makan nasi dari padi gunung yang murni, dimasak dengan kaldu daging, bagaimana mungkin anda menyukai nasi dari pepadian kasar dan tanpa garam?”
“Apakah makanan itu enak atau tidak, sedikit atau banyak, namun bilamana seseorang makan itu dengan penuh kepercayaan, maka kepercayaan itu yang sangat menyenangkan.”
Ketika Guru seleasai menguraikan ajarannya, beliau mengidentifikasikan pemeran-pemeran yang ada dalam Jataja tersebut sebagai berikut: “Apada masa itu raja adalah Moggallana, sedangkan Narada adalah Sariputta, petapa Kesava adalah saya sendiri, Kappa adalah Ananda. Jadi Maha raja, di masa yang mapau pun para bijaksana mengalami penderitaan kematian dan pergi ke tempat yang sesuai dengan kepercaan mereka. Para muridku kurang kepercayaannya kepada anda, Saya tak ragu untuk hal ini.”
Demikianlah cerita yang lampau.
Raja berpikir: “Saya harus memenangkan kepercayaan dari bhikkhu sangha. Apa yang paling terbaik saya lakukan? Cara terbaik bagiku adalah mengawini seorang kerabat dari Samma Sambuddha. Dengan cara ini para samanera, bhikkhu baru akan tetap datang ke istanaku dengan berpikir: ‘Raja adalah kerabat Samma Sambuddha.’” Selanjutnya ia mengirim berita kepada para Sakiya, sengan kata-kata: “Berikan seorang anak gadis anda.” Serta memerintahkan para dutanya untuk mengetahui nama orang tua gadis itu dan melapor kepadanya. Para duta berangkat dan meminta seorang gadis Sakiya.
Untuk itu, para Sakiya mengadakan rapat dan mendiskusikan: “Raja adalah musuh kita. Bilamana kita menolak memberikan apa yang ia minta, ia akan membunuh kita. Lagi pula ia tidak sebanding dengan derajad keturunan kita. Apa yang harus kita lakukan?” Mahanama berkata: “Saya memiliki seorang putri bernama Vasabhakhattiya, anak seorang budak-perempuanku, ia seorang gadis yang amat cantik; kami akan memberikan dia kepadanya.” Selanjutnya ia memberikatahukan kepada para duta: “Baiklah, kami akan memberikan seorang gadis kami kepada raja.” “Putri siapa dia?” “Gadis itu adlah putri Mahanama Sakiya, Mahanama adalah putra dari paman Samma Sambuddha. Gadis itu bernama Vasabhakattiya.” Para duta pulang dan melaporkan kepada raja.
Raja berkata: “Jika demikian, baiklah. Segera antar dia kepadaku. Namun para pangeran varna Ksatriya penuh dengan tipu daya; mereka mungkin saja mengirimkan kepadaku seorang gadis anak budak-wanita. Sehubungan dengan hal itu, jangan membawa dia sebelum ia makan semeja bersama dengan ayahnya.” Setelah ia berkata seperti itu, ia mengirm kembali para duta. Mereka menemui Mahanama dan berkata: “Raja, raja (kami) menginginkan Vasabhakhattiya makan bersama anda.” “Baiklah, jawab Mahanama. Ia menyuruh putrinya merias diri dan menemui dia pada waktu makan.
Selanjutnya ia berlagak makan bersama Vasabhakattiya, sesudah itu menyerahkan dia kepada para duta. Para duta mengantar Vasabhakhattiya ke Savatthi dan menceritakan kepada raja apa yang telah terjadi. Raja sangat gembira dan segera menunjuknya sebagai kepala dari 500 wanita dan menyatakan dia sebagai permaisuri utamanya.
Tidak lama kemudian Vasabhakhattiya melahirkan seorang putra, tubuhnya bagaikan emas. Raja sangat senang dan segera memberi kabar kepada neneknya dengan kata-kata: “Vasabhakhattiya, putri raja Sakiya, telah melahirkan seorang putra. Berikan nama untuknya.” Ketika itu, menteri yang menerima dan akan menyampaikan berita kepada nenek raja adalah seorang yang agak tuli. Akibatnya, ketika nenek mendengar berita, dengan nyaring ia berkata: “Sebelum melahirkan anak, Vasabhakhattiya telah disenangi semua orang; apalagi sekarang, ia sangat luar biasa disayang (vallabha) oleh raja.” Menteri yang agak tuli, salah mendengar kata valabha (sayang) menjadi Vidudabha, lalu pergi dan melapor kepada raja: “Namakan Vidudabha kepada pangeran.” Raja mengira bahwa itu pasti salah sebuah nama lama dari keluarga kami, dan memberikan nama Vidudabha kepada bayi. Walaupun ketika ia masih kanak-kanak, raja mengangkat Vidudabha sebagai panglima perang tentaranya, dengan pikiran bahwa hal ini akan menyenangkan Guru.
Vidudabha dibesarkan sebagai pangeran. Ketika ia berusia 7 tahun, ia memper-hatikan bahwa para pangeran lain menerima hadiah boneka-boneka gajah, kuda, dan bentuk-bentuk lain dari para kakek mereka, maka ia bertanya kepada ibunya: “Ibu, para pangeran lain menerima hadiah dari kakek pihak ibu, tetapi tidak ada seorang pun yang mengirimkannya kepada saya. Apakah ibu tidak memiliki ayah dan ibu?” Ibunya menjawab: “Anakku sayang, kakekmu adalah para raja Sakiya, mereka tinggal jauh sekali; itulah sebabnya mereka tidak perbah mengirimkan sesuatu kepadamu.” Begitulah caranya ia membohongi ananknya. Begitu pula, ketika ia terlah berusia 16 tahun, Vidudabha berkata kepada ibunya: “Ibu, saya ingin sekali untuk pergi menemui keluarga ibu, yaitu kakek dari pihak ibu.” Namun Vasabhakhattiya menolak dengan berkata: “Tidak, anakku sayang, apa yang kau akan lakukan di sana?” Bagaimana pun ia menolak. Berulang kali anaknya memohon. Akhirnya ibunya memberikan izin dengan berkata: “Baiklah, engkau dapat pergi.” Ia memberitahukan kepada ayahnya dan berangkat dengan pengikut yang besar. Vasabhakhattiya mengirimkan surat lebih dahulu, dengan berita: “Saya hidup bahagia di sini. Mohon para raja dalam penerimaan tidak memperlakukan saya berbeda.” Ketika para Sakiya mengetahui bahwa Vidudabha sedang dalam perjalanan mendatangi mereka, mereka membicarakan hal ini:”Tidak mungkin bagi kita memberikan hormat kepadanya.” Karena itu mereka menyuruh para pangeran muda ke pedalaman, dan ketika Vidudabha tiba di kota Kapila, mereka berkumpul di gedung peristirahtan kerajaan. Vidudabha tiba berhenti di gedung peristirahatan kerajaan. Mereka berkata kepadanya: “Kawan, ini adalah kakek dari pihak ibumu dan ini pamanmu.” Sementara ia berjalan sambil memberikan hormat kepada mereka semua, ia perhatikan bahwa tidak ada seorang pun yang memberikan hormat kepadanya. Maka ia bertanya: “Mengapa tidak ada seorang pun yang memberikan hormat kepada saya?” Para Sakiya menjawab: “Kawan, para pangeran muda sedang pergi ke pedalaman.” Lalu melayani Vidudabha dengan segala hormat. Setelah berada di sana beberapa hari, ia pulang bersama para pengikutnya yang besar.
Sementara itu, seorang budak-wanita sedang mencuci tempat duduk yang bekas diduduki Vidudabha di gedung peristirahatan kerajaan dengan air dan susu; sedang melakukan pekerjaan itu pembantu ini dengan jelas berkata: “Inilah tempat duduk yang diduduki oleh putra seorang budak-wanita, Vasabhakhattiya!” Ketika itu ada seseorang yang telah melupakan pedangnya kembali untuk mengambilnya, selagi ia mengambil pedang itu, ia mendengar kata-kata pembantu wanita itu tentang pangeran Vidudabha. Ia menanyakan hal itu, dan mendapat informasi bahwa Vasabhakhattiya adalah putri dari budak-wanita dari Mahanama Sakiya. Ia kembali dan memberitahukan hal ini kepada pasukan dengan berkata: “Saya diberitahu bahwa Vasabhakhattiya adalah putri dari budak-wanita.” Segera hal ini menjadi pembicaraan umum. Ketika Vidudabha mengetahui hal ini, ia bersumpah: “Sekarang para Sakiya ini mencuci bebas tempat duduk saya dengan air dan susu; bilamana saya berkuasa di kerajaanku, saya akan mencuci tempat duduk dengan darah leher mereka.”
Setelah pangeran tiba di Savatthi, para menteri menceritakan apa yang telah terjadi. Raja sangat marah kepada Sakiya karena mereka memberikan
kepadanya putri dari seorang budak-wanita, ia mencabut kehormatan kerajaan yang telah diberikan kepada Vasabhakhattiya dan putranya dan menurunkan kedudukan mereka sebagai budak.
Beberapa hari kemudian guru pergi ke istana dan duduk. Raja datang, memberi hormat kepada beliau dan berkata: “Bhante, Saya mendapat informasi bahwa putri seorang budak-wanita yang diberikan kerabat bhante kepada saya. Itulah sebabnya maka saya mencabut kehormatan kerajaan yang telah diberikan kepada dia dan putrnya dan menurunkan kedudukan mereka menjadi budak.” Guru menjawab: “Maha raja, adalah tidak pantas para Sakiya melakukan itu. Bilamana mereka memberikan seorang putri, mereka harus memberikan kepadamu seorang gadis yang sepadan garis keturunannya dengan anda sendiri. Maha raja, tetapi ada sesuatu yang perlu saya katakan kepada anda: ‘Vasabhakhattiya adalah putri seorang raja dan menerima upacara kehormatan di istana raja varna Kesatriya, Vidudabha juga putra seorang raja. Apa pentingnya keluarga dari ibu? Keluarga dari ayahlah yang berhak sebagai ukuran kedudukan sosial. Para bijaksana yang lampaupun memberikan kehormatan permaisuri utama kepada wanita miskin pencari kayu; dan kepada pangeran yang dilahirkannya menjadi raja Baranasi, sebuah kota yang luasnya 12 yojana, yang diberi nama Katthavahana.” Setelah berkata begitu, Beliau menguraikan Katthaharika Jataka (Jataka 7: i. 133-136). Raja mendengar babaran Dhamma Beliau, dan merasa senang dengan pikiran: “Kelurga dari pihak ayahlah yang berhak sebagai ukuran kedudukan sosial,” maka ia mengembalikan kedudukan dan kehormatan ibu dan anak.
Sementara itu, Mallika, putri Mallika dan Bandhula, panglima perang, telah lama tidak memiliki anak. Sehubungan dengan hal itu, Bandhula menyuruhnya pergi dengan berkata: “Pulanglah kepada keluargamu.” Mallika berpikir: “Saya akan menemui Guru sebelum saya pergi.” Selanjutnya ia pergi ke Jetavana, memberikan hormat kepada Tathagata, dan menunggu. “Mau ke mana?” tanya Guru. “Suamiku telah memulangkan saya kepada keluargaku, Bhante.” “Mengapa.” “karena saya mandul, tidak mempunyai anak seorang pun.” “Jikalau ini benar, maka tidak ada alasan bagimu untuk kembali kepada keluargamu. Kembali kepada suamimu.” Dengan riang gembira, ia memberikan hormat kepada Guru dan kembali kepada suaminya. “Mengapa kau kembali,” tanya suaminya. “Saya telah diperintahkan untuk kembali oleh dia yang memiliki Dasabala (Sepuluh kemampuan batin),” jawab Mallika. “Dia Yang Melihay-Jauh pasti telah melihat beberapa alasan,” pikir Bandhula dan menyetujui.
Tidak lama kemudian Mallika hamil, dan mengidam muncul. Ia berkata kepada suaminya: “Mengidam telah muncul.” “Apa yang kau inginkan?” Ia menjawab: “Suamiku, di kota Vesali ada sebuah tangki kolam-teratai (buatan) yang biasa digunakan oleh tentara para pangeran pada upacara pelantikkan raja. Saya ingin masuk ke dalamnya, berenang di dalam nya, dan meminum airnya.” “Baiklah,” kata Bandhula, dan mengambil busur panahnya yang hanya dapat ditarik oleh 1000 orang, ia membantu istrinya menaiki kereta dan berangkat dari Savatthi ke Vesali, memasuki Vesali melalui gerbang yang telah diberikan oleh para Licchavi kepada Pangeran Mahali. Sementara itu pangeran Licchavi, Mahali, tinggal di gedung di samping gerbang; maka ketika ia mendengar gemuruh suara kereta di dekatnya, ia berkata sendiri: “Itu suara kereta Bandhula. Ada kerusuhan yang akan muncul bagi para pangeran Licchavi hari ini.”
Bagian dalam dan luar dari kolam-teratai dijaga dengan ketat, dan kolam itu ditutupi dengan kerangka besi dengan lobang-longan yang sangat kecil sehingga burung pun tidak dapat memasukinya. Namun bandhula, panglima perang, turun dari kereta, memukulkan tombaknya kepada para penjaga, dan mengusir mereka pergi. Ia merusak kerangka besi, masuk ke dalam kolam-teratai, dan membiarkan istrinya mandi di dalamnya. Setelah ia sendiri mandi di situ, ia keluar dari kota dan kembali ke jalan yang sama yang telah dilaluinya.
Para penjaga melaporkan kejadian ini kepada para pangeran Licchavi. Akibatnya para pangeran Licchavi sangat marah, lalu menaiki 500 kereta, berangkat ke luar kota, dengan berkata: Kami akan menangkap Bandhula dan mallika.” Mahali berkata kepada mereka: “Jangan pergi, karena dia akan membunuh kamu sekalian.” Tetapi mereka menjawab: “Kami tetap akan pergi.” “Baiklah, tetapi baliklah bilamana anda sekalian melihat keretanya masuk ke dalam tanah hingga setinggi pinggang. Bilamana pada waktu anda sekalian tidak balik, anda sekalian akan mendengar di depan anda gelegar halilintar.
Anda sekalian pada waktu itu harus segerak balik. Namun bilamana pada saat itu anda belum berbalik arah, anda sekalian akan melihat lobang di bagain depan dari kereta. Berbaliklah, dan jangan maju lagi.” Tetapi bagaimana pun usaha Mahali untuk memperingati mereka, mereka tidak berbalik arah, malahan tetap mengejar Bandhula.
Mallika melihat mereka dan berkata: “Suamiku nampak banyak kereta.” “Baik! Bilamana mereka semua nampaknya hanya bagaikan sebuah kereta saja, katakan padaku.” Demikianlah ketika mereka semua nampak seperti sebuah kereta saja, Mallika berkata: “Mereka nampaknya bagikan kereta yang di depan saja.” “Bagus sekali,” kata Bandhula, “pegang tali kekang ini.” Ia memberikan tali kekang kepada Mallika, ia berdiri di kereta dan mengangkat busurnya. Akibatnya kereta masuk ke dalam tanah setinggi pinggang. Walaupun para pangeran Licchavi melihat kereta Bandhula masuk ke dalam tanah, namun mereka tidak berbalik arah. Setelah beberapa saat kemudian, Bandhula menarik tali busurnya, muncul suara bagaikan gelegar halilintar. Namun demikian para musuhnya tidak berbalik arah, mereka tetap mengejarnya seperti semula. Kemudian Bandhula yang berdiri di atas keretanya, melepaskan sebatang anak panah. Anak panah membuat lobang di depan dan menembus badan semua 500 kereta serta di bagian ‘baju perang ketat’ (korset) mereka dan masuk ke tanah. Tetapi para pangeran Licchavi tidak menyadari bahwa mereka telah ditembusi anak panah, dan berteriak: “Berhenti di mana kamu. Berhenti di mana kamu!” Setelah berkata begitu mereka meneruskan pengejaran. Bandhula menghentikan keretanya dan berkata: “Kamu semua adalah mayat! Saya tidak akan berkelahi melawan mayat.” “Apakah kami nampak seperti mayat?” tanya mereka. “Baiklah,” jawab Bandhula, “lepaskan baju perang ketat dari orang kamu yang terdepan.” Mereka melepaskan gidlenya. Pada saat baju perang ketat dilepaskan orang itu jatuh dan mati. Kemudian Bandhula berkata: “Anda sekalian mempunyai nasib yang sama dengan pemimpinmu. Pulanglah, selesaikan urusan anda sekalian yang perlu diselesaikan, berikan nasehat terakhir kepada para putra dan istri anda sekalian dan lepaskan baju perang anda.” Mereka melakukannya, selanjutnya mereka semua jatuh dan mati. Kemudian bandhula meneruskan perjalanan ke Savatthi.
Enambelas kali Mallika melahirkan putra-putra kembar Bandhula, mereka semua perkasa, dan memiliki kekuatan yang hebat. Mereka semua sempurna dalam beberapa keahlian. Mereka masing-masing memiliki pengikut sebanya 1000 orang; dan ketika mereka mengikuti ayah mereka ke istana, istana dipenuhi oleh kelompok mereka. Pada suatu hari ada beberapa orang yang telah dikalahkan karena tuntutan salah dipengadilan melihat Bandhula mendatangi, dengan suara yang lantang mereka meneriakkan protes kepadanya karena pengadilan yang tidak adil dari para hakim. Karena hal itu Bandhula pergi ke pemngadilan dan menyelesaikan kasus secara bijaksana sesuai kebenaran bagi yang benar. Para penduduk memuji dia dengan teriakan nyaring karena setuju. Raja bertanya: “Apa yang telah terjadi?” Ketika raja mendapat keterangan, ia sangat senang, lalu raja memecat semua hakim, selanjutnya menyerahkan administrai pengadilan kepada bandhula sendiri, dan dialah yang menghakimi semua perkara di pengadilan.
Para hakim yang kehilangan kesempatan menerima sogokkan, membuat perpecahan di antara anggota keluarga istana, dengan berkata: “Bandhula menginginkan tahta kerajaan.” Raja percaya pada kata-kata mereka dan tak sanggup mengendalikan perasaannya. “Namun,” pikirnya, “bilana Bandhula di bunuh disini, saya akan sangat dikritik.” Dalam pikiran yang lain ia memerintahkan beberapa orang untuk membuat kerusuhan di perbatasan negara. Kemudian raja memanggil dan memerintahkan Bandhula
Dengan berkata: “Saya mendapat informasi bahwa di perbatasan ada pemberontakan. Bawa para putramu, pergi dan tangka para pemberontak.” Raja mengirimkan bersama Bandhula sejumlah kesatryanya yang sangat kuat, dengan perintah: “Pancung kepala bandhula dan 32 putranya dan bawa (kepala-kepala) mereka kedaku.” Ketika bandhula mencapai perbatas, dan para pemberontak yang disewa mendengar kedatangan panglima perang, mereka lari. Bandhula menyelesaikan keamanan kerajaan dengan baik, menciptakan kedamain, dan berangkat pulang. Ketika Bandhula mencapai tempat yang tidak jauh dari kota, para kesatrya yang bersamanya menyerang dia dan memancung kepala-kepala bandhula dan anak-anaknya.
Pada hari itu Mallika mengundang mengundang dua Siswa Utama bersama 500 bhikkhu ke rumahnya. Pada pagi itu seseorang membawa surat dan memberikan surat itu kepadanya yang berisi berita: “Kepala suami dan para putra anda telah di penggal.” Ketika ia membaca surat ini, ia tidak berkata sesuatu kepada siapa pun, namun memasukkan surat itu ke dalam lipatan pakaiannya dan meneruskan pelayanan kepada bhikkhu sangha seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi. Sementara itu, terjadi suatu kejadian yakni ketikan pelayannya memberikan makanan kepada para bhikkhu, mereka membawa sebuah tempayan berisi ‘susu yang diragikan’ (ghee) dan tempayan itu jatuh dan pecah di depan para Thera. Pelindung Keyakinan (bhikkhu) berkata: “Tidak perlu diperdulikan kepecahan sesuatu yang mudah pecah.” Karena itu Mallika mengambil surat yang ada dalam lipatan pakaiannya, dan berkata: “Mereka baru saja menyampaikan surat ini, yang berisikan berita: ‘Kepala suami dan para putra anda telah dipenggal.’ Walaupun saya mendapat berita ini, saya tidak bereaksi apa-apa. Maka bagaimana saya akan memperdulikan pecahnya tempayan ini, Bhante?”
Para Pelindung Keyakinan mengucapkan syair (paritta) yang dimulai dengan kata: “Tanpa tanda, tanpa tahu, kematian terjadi di sini,” dan setelah membabarkan dhamma, mereka bangkit dari duduk dan pergi ke vihara. Mallika memanggi 32 menantunya dan menasehati mereka sebagai berikut: “Para suami anda sekalian tidak bersalah dan mereka hanya menerima matangnya buah kamma buruk mereka yang dibuat pada masa yang lampau. Tidak usah bersedih dan meratap. Jangan benci kepadanya.” Mata-mata kerajaan mendengar ucapannya dan pergi melaporkan hal ini kepada raja bahwa mereka tidak membenci raja. Setelah mendengar laporan ini raja diliputi oleh perasaan yang tidak menyenangkan, lalu ia pergi ke rumah Mallika, meminta Mallika bersama para menantunya untuk memaafkannya serta memberikan sebuah “anugerah” (boon) kepada Mallika. “Saya menerimanya,” jawan Mallika.
Setelah raja pergi, ia melaksanakan upacara berduka cita, ia mandi dan pergi menghadap raja, dan berkata: “Maha raja, anda memberikan kepadaku sebuah ‘anugrah’. Saya tidak menginginkan yang lain kecuali hal ini, yakni izinkan saya bersama 32 menantuku untuk kembali ke rumah keluarga kami.” Raja menyetujui, maka Mallika memulangkan 32 menantunya ke keluarga mereka masing-masing, sedangkan ia sendiri pergi ke kota Kusinara, kembali ke rumah keluarganya. Raja mengangkat panglima perang baru yaitu Dighakarayana, kemenakan dari panglima perang Bandhula. Namun Dighakarayana mengeritik raja dengan menyebarkan berita: “Rajalah yang membunun pamanku.”
Sejak pada hari raja membunuh Bandhula yang tak bersalah, ia diliputi kesedihan, pikirannya tidak tenang, dan tidak bersemangat memerintah kerajaan. Ketika itu Guru tinggal di sebuah desa kecil bernama Ulumpa, milik suku Sakiya. Raja pergi ke sana, dan berkemah di tempat yang tidak jauh dari Taman, tempat Guru berada, dan raja berpikir: “Saya akan pergi memberikan hormat kepada Guru,” lalu ia pergi ke vihara, bersama beberapa pengawal. Ia menyerahkan 5 simbol (kekuasaan) kerajaan kepada Dighakarayana, lalu memasuki Gandha Kuti. (Cerita ini sesuai dengan uraian dalam Dhammacetiya Sutta, M.N. 89: ii. 118-125).
Setelah Raja Pasenadi masuk ke Gandha Kuti, Karayana mengambil 5 simbol (kekuasaan) kerajaan dan membuat Vidudabha menjadi raja. Kemudian ia pergi ke Savatthi dengan hanya meninggalkan seorang pelayan wanita bersama seekor kuda untuk Pasenadi. Raja senang bercakap-cakap dengan Guru, setelah itu ia keluar. Ia tidak melihat para pengawal, ia bertanya kepada pelayan, dan dari pelayan itu ia mengetahui apa yang telah terjadi. “Saya akan mengajak kemenakan saya dan menangkap Vidudabha,” kata raja, lalu pergi ke kota Rajagaha. Ketika ia tiba di kota waktu telah larut malam, germabang kota telah di tutup. Kerana kelelahan dan tertimpa matahari dan angin, maka Pasenadi beristirahat dengan berbaring di sebuah rumah peristirahatan, namun ia meninggal pada malam itu. Ketika malam berangsur menjadi pagi, Orang-orang mendengar suara wanita yang menangis dengan berkata: “Raja Kosala, anda telah kehilangan Pelindungmu!” Mereka melaporkan hal ini kepada raja. Untuk itu Vidudabha melakukan upacara kematian untuk Pasenadi dengan penuh kebesaran.
Setelah Vidudabha menjadi raja, ia ingat dendamnya. Ia mendumel sendiri: “Saya akan membunuh para Sakiya,” maka ia berangkat dengan pasukan yang bersar jumlahnya. Pada hari itu Guru sedang memeriksa dunia di sore hari, beliau melihat ada malapetaka kehancuran para para kerabatnya, dan berpikir: “Saya akan melindungi kerabatku.” Beliau pergi pindapata di pagi hari, setalah kembali beliau berbaring dengan posisi seperti singha di Gandha Kuti; dan di sore hari beliau terbang ke angkasa dan duduk di bawah sebuah pohon beringin (Banyan) rindang tidak jauh dari Kapilavatthu yang juga tidak jauh dari perbatasan kerajaan Vidudabha.
            Vidudabha melihat Guru, mendatanginya, memberikan hormat, dan berkata: “Bhante, mengapa pada waktu yang sangat panas ini Bhante duduk di bawah pohon yang rindang ini?” “Maha raja, tidak perlu di perdulikan hal ini. Kerindangan keluargaku membuat saya ingin.” “Guru datang, tentu dengan tujuan untuk melindungi keluarganya,” pikir Vidudabha. Setelah ia memberikan hormat kepada Guru, ia pergi dan pulang ke Savatthi. Guru melayang ke angkasa dan kembali ke Jetavana.
Raja mengingat kembali kebenciannya kepada suku Sakiya, maka ia pergi untuk kedua kalinya, namun karena melihat Guru berada di tempat yang sama, ia pulang. Begitu pula untuk ketiga lainya, ia melihat guru berada pula di tempat yang sama, maka ia berbalik pulang. Namun ketika ia pergi keempat kali, Guru melihat perbuatan-perbuatan lapau para Sakiya dan menyadari bahwa tidak mungkin untuk menghalangi akibat perbuatan jahat yang telah mereka lakukan dengan memasukkan racun ke dalam sungai, maka beliau tidak pergi untuk keempat kali.
Sehingga Vidudabha dengan kekuatan yang besar pergi dengan berkata: “Saya akan membunuh para Sakiya.” Pada waktu itu para kerabat Samma Sambuddha tidak membunuh musuh, malahan mereka rela mati dari pada membunuh orang lain. Maka mereka saling berkata: “Kita terlatih dan ahli; kita ahli dalam memanah dan terbiasa menggunakan busur panjang. Karena salah bila kita membunuh orang lain, kita akan mengusir mereka dengan cara mempertunjukkan keahlian kita.” Selanjutnya mereka mengenakan baju perang mereka, maju ke medang perang dan mulai berperang. Panah-panah yang mereka lepaskan melayang melalui pasukan Vidudabha, melewati antara tameng-tameng mereka dan melalui antara bkuping dan kepala mereka, namun tidak mengenai seorang pun. Ketika Vidudabha melihat panah beterbangan, ia berkata: “Saya mengerti bahwa karena kesombongan para Sakiya mereka mengatakan bahwa mereka tidak membunuh musuh mereka; tetapi nyatanya sekarang mereka membunuh pasukanku.” Salah seorang anggota pasukannya berkata: Tuan, mengapa anda berbalik dan lihatlah keadaan anda?” “Para Sakiya membunuh orang-orang kita.” “Tidak ada seorang pun dari pasukan anda yang mati; mohon silahkan hitung.” Ia menyuruh hitung dan mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang hilang.
Vidudabha membalikkan badannya dan ia berkata kepada pasukannya: “Saya perintahkan kepada anda sekalian untuk membunuh siapa saja yang mengatakan: ‘Kami adalah Sakiya, tetapi selamatkan mereka adalah keluarga Mahanama Sakiya.” Para Sakiya tetap berdiri di tempat mereka dan karena tidak ada lagi sumber lain, maka ada yang memegang daun yang di letakkan diantara giri, sedang yang lain memegang alang-alang (reeds). Pada waktu itu bagi para Sakiya lebih baik mati dari pada mengatakan hal yang tidak benar. Maka ketika mereka di tanya: “Apakah anda Sakiya atau tidak?” Mereka yang memegang daun di antara gigi mereka berkata: “Bukan Saka (peruk tanah) tetapi “rumput’; sedangkan mereka yang memegang alang-alang, berkata: “Bukan saka, tetapi alang-alang.” Kehidupan keluarga Mahanama dapat diselamatkan. Para Sakiya yang memegang rumput di gigi mereka dikenal sebagai Sakiya rumput; sedangkan mereka yang memegang alang-alang dikenal sebagi Sakiya Alang-Alang. Vidudabha membunuh semuanya, tanpa kecuali termasuk anak-anak yang masih menyusu sekalipun. Setelah ia menciptakan sungai darah, ia mencuci tempat duduknya dengan darah dari leher mereka. Demikianlah keturunan Sakiya dilenyapkan oleh Vidudabha.
Vidudabha menangkan Mahanama Sakiya dan berangkat pulang. Ketika sudah waktunya untuk sarapan, Vidudabha berhenti di suatu tempat dan berpikir: “Sekarang saya akan sarapan.” Setelah makanan disiapkan untuknya, ia berkata sendiri: “Saya akan makan bersama kakekku,” dan menyuruh seseorang utuk memanggilnya datang. Pada masa itu anggota dari varna Ksatriya lebih baik mati daripada makan bersama anak-anak dari budak perempuan. Begitulah ketika melihat sebuah danau, ia berkata: “Cucuku sayang, anggota tubuhku kotor, saya mau pergi mandi dulu.” “Baiklah Kakek, pergi dan mandilah.” Mahanama berpikir: “Bilamana saya menolak makan bersamanya, ia akan membunuh saya. Bila demikian, lebih baik saya mati dengan tanganku sendiri.” Setelah melepaskan ikatan rambutanya, ia mengikatkan ujung rambutnya, menempatkan ibu-jarinya pada rambut, dan menyeburkan diri ke air.
Karena kekuatan jasa pahalanya, tempat tinggal para (dewa) Naga menjadi panas. Raja naga , mempertimbangkan hal ini: “Apa artinya hal ini?” pergi menemui Mahanama, mendudukkan dia diatas kepalanya, dan membawanya ke tempat tinggal para Naga. Di sana ia tinggal selama 12 tahun. Sedangkan, ketika Mahanama menyeburkan diri ke air, Vidudabha duduk dan berpikir: Sudah saat nya kakek saya akan datang; sekarang kakakek saya akan datang.” Akhirnya setelah kakeknya telah lama ditunggu dan tidak muncul, ia berpikir dan menyuruh orang untuk mencari kakakeknya dengan menggunakan lampu, termasuk memeriksa di dalam pakaian para pasukannya. Namun karena tidak menemukan kakeknya di mana pun, ia berpendapat: “Ia telah pergi,” selanjutnya ia berangkat.
Dalam perjalanannya ia kemalaman, Vidudabha sampai di sungai Aciravati dan berkemah di situ. Di antara pasukannya ada yang berbaring di atas pasir dari dari sungai yang kering, ada yang berbaring di tepi sungai pada tanah yang keras. Sementara itu mereka yang berbaring pada sungai yang kering tidak melakukan perbuatan yang salah pada banyak kehidupan yang lampau, sedangkan mereka yang berbaring pada tanah keras di tepi sungai telah berbuat perbuatan salah pada banyak kehidupan yang lampau. Terjadi kejadian, banyak semut keluar dari tanah di mana mereka berbaring. Maka mereka bangun dan berkata: “Banyak semut di tempat kami berbaring! Banyak semut di tempat kami berbaring!” Mereka yang tidak melakukan banyak perbuatan jahat pada waktu kehidupan yang lampau bangun dari tempat mereka di sungai yang kering dan berbaring di tanah keras di tepi sungai; sedangkan mereka yang telah melakukan banyak perbuatan salah pada kehidupan yang lampau, turun dan berbaring di sungai yang kering. Pada beberapa saat kemudian badai sangat hebat muncul dan terjadi hujan yang sangat lebat. Banjir memenuhi sungai dan menghanutkan Vidudabha dan pasukannya ke laut, dan mereka semua menjadi makanan ikan dan kura-kura.
Masyarakat (di antaranya para bhikkhu juga) membicarakan hal ini; Pembunuhan para Sakiya adalah tidak pantas. Tidak benar mengatakan: Para Sakiya harus dibunuh,’ pancung dan bunuh mereka.” Guru mendengar pembicaraan mereka dan berkata: “Para bhikkhu, bilamana anda sekalian hanya memperhatikan kehidupan sekarang saja , maka hal itu sangat tidak pantas bahwa para Sakiya mati dengan cara begitu. Bagaimana pun apa yang mereka terima adalah adil, karena mempertimbangkan perbuatan buruk yang telah mereka lakukan pada sebuah kehidupan yang lampau.” “Apakah perbuatan buruk yang telah mereka lakukan pada kehidupan yang lampau, Bhante?” “Pada kehidupan yang lampau mereka berkonspirasi bersama dan melemparkan racun ke dalam sungai.”
Juga pada suatu hari, para bhikkhu melakukan diskusi di Dhammasala: “Vidudabha membunuh semua Sakiya, dan kemudian sebelum keinginan terpenuhi, dia dengan pasukannya hanyut ke laut dan menjadi makanan ikan dan kura-kura.” Guru datang dan bertanya: “Para bhikkhu, apa yang anda sekalian percakapkan dengan berkumpul di sini?” Ketika menceritakan kepadanya, beliau kerkata: “Para bhikkhu, apakah keinginan para makhluk hidup ini terpenuhi, bagaikan banjir besar menyapu desa yang lelap, begitu pula Raja Kematian mempersingkat hidup mereka dan menyempung mereka ke empat lautan penderitaan,” Setelah mengatakan hal itu, beliau mengucapkan syair berikut ini:
Walaupun seseorang sedang mengumpul bunga-bungaan, dengan batinnya diliputi napsu indria, kematian menyeretnya bagaikan banjir besar menghanyutkan sebuah desa yang tertidur.”

Minggu, 20 Oktober 2013

PATHIKAJIVAKA VATTHU
 (Petapa Telanjang Pathika)

“Jangan memperhatikan kesalahan ....” Uraian dhamma ini di sampaikan Guru sehubungan ketika beliau tinggal di Savatthi sehubungan dengan seorang petapa telanjang bernama Pathika.
Diceritakan bahwa di Savatthi, seorang ibu rumah tangga memenuhi kebutuhan seorang petapa telanjang bernama Pathika, ia melayani petapa ini bagaikan mengasuh anaknya sendiri. Para tetangganya yang pergi mendengar dhamma pada Guru kembali dengan memuji kebajikan para Buddha dalam berbagai cara, dengan berkata: “Betapa menariknya ajaran para Buddha!” Ketika ibu ini mendengar para tetangganya memuji seperti ini, ia ingin pergi ke vihara untuk mendengar dhamma. Ia memberitahukan hal ini kepada petapa telanjang dengan bekata: “Petapa yang terhormat, saya ingin pergi mendengar dhamma Sang Buddha.” Namun, walaupun berulang-ulang kali ia mengatakan hal ini, petapa membujuknya untuk tidak pergi, dengan berkata: “Jangan pergi.” Ibu ini berpikir: “Karena petapa ini tidak menyetujui saya pergi ke vihara untuk mendengar dhamma, saya akan mengundang Guru ke rumah ku dan mendengar beliau membabarkan dhamma di sini.
Selanjutnya, di malam hari, ia menyuruh putranya untuk menemui Guru dengan berkata kepadanya: “Pergi dan undang Guru untuk menerima pelayananku besok.” Anak ini pergi tetapi terlebih dahulu ia pergi ke tempat tinggal petapa telanjang, menghormat beliau dan duduk. “Mau ke mana, nak?” tanya peta telanjang. “Ibuku menyuruh saya untuk pergi mengundang Guru.” “Jangan pergi kepadanya.” “Baiklah, namun saya takut pada ibuku. Saya akan pergi.” “Sebaiknya kita berdua makan makanan enak yang disediakan untuknya. Tidak usah pergi.” “Tidak, ibuku akan memarahiku.” “Baiklah, kau pergi. Tetapi ketika kau pergi mengundang Guru, jangan katakan kepadanya, ‘Rumahmu berlokasi di daerah anu, di jalan anu, dan Guru dapat mencapainya melalui jalan ini dan itu.’ Sebaliknya bersikaplah seolah-olah kau tinggal di sekitar situ saja, dan pada waktu pulang, berlakulah seperti kau menuju jalan lain dan kembali menemuiku.”
Anak Ini mendengar apa yang dikatakan petapa telanjang dan sesudah itu ia pergi menemui Guru dan menyampaikan undangan. Setelah ia melaksanakan semua yang dipesankan oleh petapa telanjang, ia pulang dan menemui petapa. Petapa telanjang berkata: “Apa yang telah kau lakukan?” Anak menjawab: “Segala sesuatu yang petapa katakan padaku, petapa yang mulia.” “Kau telah melakukannya dengan baik. Kita berdua akan makan makanan enak yang disediakan untuknya.” Pada keesokan harinya, di pagi hari, petapa telanjang pergi ke rumah itu, mengajak anak itu dan mereka berdua duduk bersama di balik ruangan tamu.
Para tetangga melabur rumah dengan tahi sapi, menghiasnya dengan berbagai bunga, termasuk bunga Laja, menyediakan tempat duduk yang mahal, tempat untuk Guru  duduk. (Orang-orang yang tidak mengenal para Buddha, tidak mengetahui bila perlu menyediakan tempat duduk bagi para Buddha. Begitu pula Para Buddha tidak akan menyuruh mereka untuk menyediakannya. Pada hari pencapaian Bodhi, ketika mereka duduk di bawah pohon Bodhi, yang menyebabkan 10.000 sistim dunia (cakkavala) bergetar, dan semua jalan menjadi jelas bagi mereka: “Ini jalan ke neraka, ini jalan ke alam binatang, ini jalan ke alam Peta, ini alan ke Tanpa kematian, Maha Nibbana.” Tidak perlu mengatakan kepada mereka jalan pergi ke desa, ke kota atau tempat-tempat lain.)
Demikianlah di pagi hari, Guru mengambil patta dan jubah, dan segera pergi ke rumah ibu itu. Ibu ke luar dari rumah, memberi hormat bernamaskara kepada Guru, mendampingi beliau masuk ke dalam rumah, memberikan Air Dana ke tangan kanan Guru, dan memberi makanan terpilih yang lebut dan keras kepada beliau. Ketika Guru selesai makan, ibu ini menginginkan beliau menyampaikan ucapan anumodana, maka ia mengambil patta beliau. Kemudian Guru dengan suaranya yang merdu mulai menyampaikan anumodana dalam bentuk uraian dhamma. Ibu mendngar uraian dhamma dan memuji Guru, dengan berkata: “Uraian yang menakjubkan. Uraian yang menakjubkan.”
Petapa telanjang yang duduk di balik ruangan tamu mendengar kata-kata pujian dari ibu setelah ia mendengar dhamma dari Guru. Karena tidak dapat mengendalikan dirinya lagi, ia berkata: “Ia bukan muridku lagi,” dan keluar. Lalu ia berkata kepad ibu itu: “Konyol, anda tidak perlu memuji orang ini seperti itu.” Lalu ia mengejek ibu itu dan Guru dengan berbagai macam kata-kta, setelah itu ia pergi dengn berlari. Ibu itu sangat malu karena cercaan petapa itu sehingga pikirannya menjadi kacau, akibatnya ia tiak dapat memperhatikan apa yang diuraikan guru. Guru bertanya kepada ibu itu: “Ibu, Bhante,” jawabnya, “pikiranku kacau oleh cercaan petapa telanjang itu.” Guru berkata: “Sesorang tidak perlu memperdulikan kata-kata orang yang berpandangan keliru seperti itu; orang tak perlu memperhatikan orang seperti dia; seseorang sebaiknya hanya memperhatikan perguatan buruknya atau perbuatan baiknya sendiri.” Setelah berkata begitu, beliau mengucapkan syair berikut:

40.                      “Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah dikerjakan atau yang belum dikerjakan oleh orang lain. Tetapi, perhatikan apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri.