Rabu, 14 Januari 2015

Avalokitesvara (Dewi Kwan Im)

Bab 25
Avalokitesvara
(Dewi Kwan Im)

Pada saat itu Bodhisatva Akshayamati bangkit dari duduknya, membentangkan pundak
kanannya (sebagai penghormatan), kemudian dengan tangan terkatup menghadap ke arah Sang Buddha, seraya bertanya: “Yang Maha Agung! Mengapakah Bodhisatva ini dijuluki sebagai Avalokitesvara (Pegamat Suara Dunia)?”
                Sang Buddha menjawab Bodhisatva Akshayamati: “Wahai putera baik! Bilamana ratusan, ribuan, puluhan ribu koti mahluk sedang mengalami penderitaan dan percobaan, dan jika mereka mendengar tentang Bodhisatva Avalokitesvara dan dengan sepenuh hati menyebut namanya, maka segera ia (Avalokitesvara) akan mengamati suara-suara tersebut dan mereka akan terbebas dari penderitaannya.
                “Bilamana seseorang terjatuh ke dalam lautan api, dan jika ia dengan penuh keyakinan menyebut nama dari Bodhisatva Avalokitesvara, maka berkat daya kekuatan gaib Bodhisatva ini, api itu tiada akan dapat mencederainya. Bilamana seseorang terhanyut oleh ombak banjir, dan seketika itu ia menyebut nama dari Bodhisatva ini, maka segera ia akan terbawa ke tempat yang dangkal dan aman.
                “Bilamana terdapat ratusan, ribuan, puluhan ribu koti mahluk yang hendak menyebrangi lautan samodra mencari emas, perak, lapis lazuli, batu bulan, batu mulia, mutiara dan cornelian dan harta benda lainnya, dan seandainya badai hitam meniup kapal ke kawasan iblis raksasa. Jika diantaranya, terdapat seseorang yang menyebut nama dari Bodhisatva Avalokitesvara, maka seluruh rombongan itu akan terbebas dari aniaya iblis-iblis raksasa tersebut. Oleh karenanya, ia disebut Pengamat Suara Dunia.
                “Bilamana terancam oleh serangan, ia menyebut nama dari Bodhisatva Avalokitesvara, maka pedang dan pisau penyerang akan segera hancur lebur sehingga ia terselamatkan dari mara bahaya.
                “Bilamana yaksha dan raksasa dari milyaran dunia dengan niat buruk mendatanginya, dan jika mereka mendengarnya menyebut nama dari Bodhisatva Avalokitesvara, maka iblis-iblis jahanam itu tiada akan dapat melihatnya, lebih-lebih mencelakainya.
                “Seandainya seseorang, baik bersalah ataupun tidak, dipenjara dan terbelenggu oleh rantai besi. Jika ia menyebut nama dari Bodhisatva Avalokitesvara, maka segera rantainya akan terputus dan ia terbebas.
                “Seandainya disuatu tempat penuh dengan bandit dari milyaran dunia, terdapat rombongan pedagang yang hendak membawa harta karun melewati sepanjang jalan curam berbahaya, dan jika seseorang diantaranya meneriakkan: ‘Putera baik, janganlah khawatir! Sebutlah dengan sepenuh hati nama dari Bodhisatva Avalokitesvara. Bodhisatva ini dapat menganugerahi keberanian kepada para mahluk. Dengan menyebut namanya, kalian akan terselamatkan dari perampok-perampok ini.’ Ketika rombongan pedagang mendengar demikian, mereka bersama-sama berteriak dengan suara lantang, seraya berkata: ‘Namo Bodhisatva Avalokitesvara!’ Karena memanggil namanya, maka mereka akan segera memperoleh kebebasan. Wahai Bodhisatva Akshayamati! Demikianlah daya kekuasaan dan kegaiban Bodhisatva Avalokitesvara!
                “Bilamana terdapat mereka yang terbelenggu oleh nafsu kebirahian dan kemelekatan, maka biarlah mereka dengan setulusnya dan penuh hormat senantiasa merenungkan keagungan Bodhisatva Avalokitesvara, maka mereka akan terbebas dari jaringan belenggu. Bilamana terdapat para mahluk yang terselimuti oleh api kemarahan dan kebencian, maka biarlah mereka dengan setulusnya dan penuh hormat senantiasa merenungkan keagungan Bodhisatva Avalokitesvara, maka mereka akan terbebas dari api kemarahannya. Bilamana terdapat para mahluk yang ternodai oleh kebodohan dan ketidaktahuan, maka biarlah mereka dengan setulusnya dan penuh hormat senantiasa merenungkan keagungan Bodhisatva Avalokitesvara, maka mereka akan terbebas dari kebodohannya.
                “Wahai Bodhisatva Akshayamati! Bodhisatva Avalokitesvara memiliki kekuasaan dan kegaiban yang sedemikian, dan ia dapat menganugerahi beraneka ragam manfaat. Oleh karenanya, renungkanlah ia dengan sepenuh hati.
                “Bilamana terdapat wanita, yang menginginkan seorang putera, memuliakan Bodhisatva Avalokitesvara, maka ia akan dikaruniai seorang putera yang berkebajikan dan berkebijaksanaan. Bilamana terdapat wanita, yang menginginkan seorang puteri, memuliakan Bodhisatva Avalokitesvara, maka ia akan dikaruniai seorang puteri yang rupawan, berkebajikan serta digemari dan dihormati oleh orang banyak.
                “Wahai Bodhisatva Akshayamati! Bodhisatva Avalokitesvara memiliki kekuasaan yang sedemikian. Bilamana terdapat mahluk yang memuliakan Bodhisatva Avalokitesvara, maka upayanya tidak akan tersia-siakan dan keberuntungan yang diperolehnya tidaklah sedikit. Maka sudah sepatutnya kalian semua menerima dan menjunjungi nama dari Bodhisatva Avalokitesvara.
                “Wahai Bodhisatva Akshayamati! Seandainya terdapat seseorang yang menjunjungi nama dari para Bodhisatva yang jumlahnya bagaikan pasir-pasir di 62 koti sungai Gangga, dan semasa hidupnya, ia memuliakannya dengan derma berupa 1.Santapan dan minuman 2.Pakaian 3.Perabotan tidur, dan 4.Obat-obatan. Bagaimanakah pendapatmu? Tidakkah putera-puteri baik ini memperoleh banyak manfaat?”
                Bodhisatva Akshayamati menjawab: “Tentunya banyak sekali, Yang Maha Agung!”
                Sang Buddha melanjutkan: “Seandainya terdapat seseorang yang menerima dan menjunjungi nama dari Bodhisatva Avalokitesvara, memuliakannya meski hanya sekali. Maka manfaat berkah pahala yang diperoleh ke 2 orang ini adalah sama tanpa perbedaan. Selama ratusan, ribuan, puluhan ribu koti kalpa pun, tidak akan habis. Wahai Bodhisattva Akshayamati! Bilamana seseorang menerima dan menjunjungi nama dari Bodhisatva Avalokitesvara, maka akan diraihnya manfaat berkah pahalah yang tak terbatas!”
                Bodhisatva Akshayamati berkata kepada Sang Buddha: “Yang Maha Agung! Bodhisatva Avalokitesvara – Bagaimanakah ia berkelena dalam dunia Saha ini? Bagaimanakah ia menceramahkan Dharma kepada para mahluk? Jalan kebijaksanaan apakah yang diterapkannya?”
                Sang Buddha menjawab Bodhisatva Akshayamati: “Wahai putera baik! Bilamana wujud KeBuddhaan diperlukan demi menyelamatkan para mahluk, maka ia menjelma sebagai Buddha untuk menceramahkan Dharma kepada mereka. Bilamana wujud KePratyekabuddhaan diperlukan demi menyelamatkan para mahluk, maka ia menjelma sebagai Pratyekabuddha untuk menceramahkan Dharma kepada mereka. Bilamana wujud Sravaka diperlukan demi menyelamatkan para mahluk, maka ia menjelma sebagai Sravaka untuk menceramahkan Dharma kepada mereka. Bilamana wujud raja surga KeBrahmaan, dewata Sakra, dewata Isvara, dewata Mahesvara, jenderal dewata maha perkasa, raja dewata Vaisravana, raja Cakaravartin (Pemutar Roda Dharma), raja-raja kecil (Kepala negara), orang kaya, tuan rumah, kepala menteri, Brahmana (Bangsawan), bhiksu, bhiksuni, upasaka, upasika, istri orang kaya, istri kepala menteri, istri Brahmana, anak laki-laki (Perjaka), anak perempuan (Perawan), dewata, naga, yaksha, gandharva, asura, garuda, kimnara, mahoraga, manusia dan yang bukan manusia diperlukan demi menyelamatkan para mahluk, maka ia menjelma sebagai semua ini (serentak) untuk menceramahkan Dharma kepada mereka. Bilamana wujud dewata pemegang Vajra diperlukan demi menyelamatkan para mahluk, maka ia menjelma sebagai dewata pemegang Vajra untuk menceramahkan Dharma kepada mereka.  
                “Wahai Bodhisatva Akshayamati! Bodhisatva Avalokitesvara ini telah meraih manfaat yang sedemikian rupa, menampakkan berbagai macam wujud, berkelena kian kemari demi menyelamatkan para mahluk. Maka sudah sepatutnya kalian dengan sepenuh hati memuliakan Bodhisatva Avalokitesvara. Bodhisatva ini dapat menganugerahi keberanian bagi mereka yang dalam mara bahaya. Oleh karenanya, ia disebut Penganugerah Keberanian.”
                Bodhisatva Akshayamati berkata kepada Sang Buddha: “Baiklah, Yang Maha Agung! Kini aku harus membuat persembahan kepada Bodhisatva Avalokitesvara.”
                Kemudian ia melepaskan sebuah kalung mutiara seharga ratusan ribu emas dan mempersembahkannya kepada Bodhisatva Avalokitesvara, seraya berkata: “Tuan! Sudilah kiranya engkau menerima kalung ini sebagai persembahan dalam Dharma.”
                Akan tetapi, Bodhisatva Avalokitesvara menolaknya.
                (Karena hormat terhadap Buddha Shakyamuni dan Buddha Prabhutaratna, Bodhisatva Avalokitesvara tidak berkenan untuk menerima persembahan terlebih dahulu)
                Bodhisatva Akshayamati bermohon kembali kepada Bodhisatva Avalokitesvara, seraya berkata: “Tuan! Kasihanilah kami dan terimalah persembahan kalung ini.”
                Kemudian Sang Buddha berkata kepada Bodhisatva Avalokitesvara: “Demi Bodhisatva Akshayamati dan ke 4 golongan pengikut, para dewata, naga, yaksha, gandharva, asura, garuda, kimnara, mahoraga, manusia dan yang bukan manusia, terimalah persembahan kalung ini.”
                Karena berbelas kasih terhadap para mahluk, Bodhisatva Avalokitesvara menerima persembahan kalung tersebut dan membaginya menjadi 2 bagian. Yang satu ia persembahkan kepada Buddha Shakyamuni, sedang yang satunya lagi ia persembahkan kepada Buddha Prabhutaratna.
                Sang Buddha berkata kepada Bodhisatva Akshayamati: “Wahai putera baik! Demikianlah daya kekuasaan dan kegaiban Bodhisatva Avalokitesvara dalam pengembaraannya di dunia Saha ini.”
Kemudian Bodhisatva Akshayamati bertanya dengan syair:
               
                Yang Maha Agung sempurna dengan tanda-tanda kemuliaanNya!
                Kini aku tanyakan kembali.
                Mengapakah putera Buddha ini disebut Avalokitesvara?

                Yang Maha agung menjawab Bodhisatva Akshayamati dengan syair:

                Dengarkanlah dengan baik tentang Bodhisatva Avalokitesvara,
                tindak-tanduk, kegaiban, serta kebijaksanaannya,
                senantiasa ia menyesuaikan diri di berbagai kawasan.
                Ikrar kewelas asihannya yang mendalam bagaikan samodra;
                Berkalpa-kalpa telah dilewatinya, namun masih juga tak dimengerti.
                (Kewelas asihan dari Bodhisatva Avalokitesvara tiada batasnya)
                Ia telah mengabdi dan melayani ribuan koti para Buddha,            
mengucapkan ikrar agungnya yang suci dihadapan Mereka.
                Kini Aku akan ceritakan secara singkat kepada kalian –
                Ingatilah namanya dan amatilah raganya!
                Renungkanlah ia, tanpa menyia-nyiakan waktumu.
                Karena betapapun juga ia dapat melenyapkan segala derita.   
                Seandainya seseorang mendorongmu kedalam lubang api.
                Renungkan dan sebutlah nama dari Bodhisatva Avalokitesvara,
                maka lubang api itu akan berubah menjadi kolam!
                Bilamana engkau terhanyut ditengah-tengah samodra,
                dikelilingi oleh naga, ikan buas dan iblis-iblis;
                Renungkanlah akan kekuatan gaib Avalokitesvara,
                maka gelombang tiada akan dapat menelanmu.    
                Seandainya engkau terdorong jatuh dari puncak gunung Sumeru;
                Renungkanlah akan kekuatan gaib Avalokitesvara, maka engkau
akan terambang ditengah-tengah langit seperti halnya Sang mentari!
                Seandainya terdesak oleh orang-orang keji
                yang hendak mendorongmu jatuh dari gunung Permata;
                Renungkanlah akan kekuatan gaib Avalokitesvara, 
                maka mereka tidak akan dapat mencelakaimu!
                Seandainya engkau terkepung oleh bandit-bandit jahanam,
                masing-masing hendak melukaimu dengan pisau;
                Renungkanlah akan kekuatan gaib Avalokitesvara,
                maka mereka akan terpengaruhi oleh kewelas asihan!
                Seandainya engkau mengalami perkara dengan hukum Sang raja,
engkau dipenjara menjadi tahanan dan hendak dihukum mati;
                Renungkanlah akan kekuatan gaib Avalokitesvara,
                maka pedang sang algojo akan segera hancur lebur!
                Seandainya engkau dipenjara, terbelenggu oleh rantai besi;
                Renungkanlah akan kekuatan gaib Avalokitesvara,
                maka segera engkau akan terlepas bebas!
                Seandainya dengan kutukan dan racun,
                seseorang hendak mencederaimu;
                Renungkanlah akan kekuatan gaib Avalokitesvara,
                maka kutukan tersebut akan membalik pada pemulanya.  
                Seandainya engkau terkepung oleh
                raksasa keji, naga berbisa, setan dan iblis lainnya;
                Renungkanlah akan kekuatan gaib Avalokitesvara,
                maka tiada yang akan berani melukaimu.
                Seandainya hewan-hewan buas mengepungmu
                dengan taring dan cakaran yang menyeramkan;
                Renungkanlah akan kekuatan gaib Avalokitesvara,
                maka mereka akan ciut mundur sendirinya. 
                Seandainya ular buas dan kalajenking berbisa,
                mendesakmu dengan nafas racun yang berkobrar;
                Renungkanlah akan kekuatan gaib Avalokitesvara,
                maka mereka akan kabur sendirinya.  
                Seandainya awan mengguntur dan kilat bersambaran,
                hujan es dan hujan deras turun tiada henti-hentinya;   
                Renungkanlah akan kekuatan gaib Avalokitesvara,
                maka segala malapetaka akan lenyap sendirinya.
                Daya kekuatan gaib Sang Bodhisatva Avalokitesva
dapat menyelamatkan mahluk dari segala malapetaka.
                Karena betapapun juga ia sempurna dalam kegaibannya
dan secara meluas menerapkan Jalan kebijaksanaan,
menampakkan dirinya di 10 penjuru alam semesta.
Segala macam penderitaan dan kesengsaraan,
alam neraka, setan lapar dan binatang,
maupun roda samsara hidup, tua, sakit dan mati –
Segala kebelengguan, ia sedikit demi sedikit lenyapkan.
Ia yang memiliki pandangan benar, pandangan suci,
pandangan agung dan pandangan bijaksana,
pandangan belas kasihan dan pandangan kewelas asihan –
Senantiasa kami mengandalkan dan menyanjungnya.
Kecemerlangan sinar cahayanya suci tak ternodai,
bagaikan mentari kebijaksanaan yang menerangi kegelapan.

Berpikir Kreatif



Berpikir Kreatif
Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau.
Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik?
Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi.
Apa yang harus dilakukannya?
Banyak pemain mengalami hal serupa. Hampir seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi.
Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar. Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu.
Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan jatuh persis ke dalam lobang di lapangan hijau. Bravo! Dia tidak terkena hukuman dan tetap bisa mempertahankan posisinya. Smiley…!
Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu.
Ada yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu.
Namun, sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk menghilangkan kesulitan itu dan menggapai kemenangan…

Senin, 12 Januari 2015

RPP kelas 4 SD mata pelajaran Agama Buddha

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan               :  Sekolah Dasar (SD)
Mata Pelajaran                     :  Pendidikan Agama Buddha                                                               
Kelas/ Semester                    :  IV / I
Alokasi Waktu                     :  2 x 35 menit
Standar kompetensi             :   1.  Mengungkapkan peristiwa perayaan membajak sawah.
   Kompetensi Dasar                : 1.2  Menjelaskan makna peristiwa membajak sawah.
Indikator                              : 1.2.1   Menyebutkan hal yang dilakukan Pangeran Sidharta saat peristiwa membajak.
1.2.2 Menyebutkan manfaat membajak bagi Kerajaan Kapilavasthu
1.2.3 Menyebutkan manfaat membajak bagi masyarakat
1.2.4  Menceritakan hal berkesan ketika pergi ke sawah
1.2.5    Meditasi dengan memperhatikan nafas
I.    Tujuan Pembelajaran     :  Setelah mengikuti pembelajaran siswa dapat:
·         Menyebutkan hal yang dilakukan Pangeran Sidharta saat peristiwa membajak dengan benar
·         Menyebutkan manfaat membajak bagi Kerajaan Kapilavasthu dengan benar
·         Menyebutkan manfaat membajak bagi masyarakat dengan benar
·         Menceritakan hal berkesan ketika pergi ke sawah dengan baik
·         Melaksanakan meditasi dengan memperhatikan nafas.
II.  Materi Pembelajaran      :  Suatu hari Raja Suddhodana mengajak Pangeran Siddharta yang masih berusia 7 tahun pergi menyaksikan Perayaan Membajak. Perayaan Membajak diikuti oleh keluarga kerajaan dan warga kota. Perayaan membajak dilaksanakan pada awal dimulaianya musim bercocok tanam. Seluruh penduduk merasa gembira ketika Perayaan membajak berlangsung.
Di tengah perayaan, Pangeran Siddharta merasa sedih melihat seekor elang yang menyambar ular serta melihat ayahnya dan para menteri mencambuk kerbau. Beliau mencari tenpat sepi dan bermeditasi di bawah pohon jambu. Ketika bermeditasi, bayangan pohon jambu tetap memayungi tempat meditasi walaupun matahari telah bergeser.
Perayaan membajak memiliki tujuan untuk membangun kedekatan antara keluarga kerajaan dengan rakyat supaya terwujud suatu keharmonisan. Selain itu untuk memberi suri tauladan kepada rakyat bahwa bercocok tanam bukanlah pekerjaan hina tetapi amat mulia. Membajak sangat bermanfaat bagi berlangsungnya proses pertanian. Dengan dibajak, tanah akan menjadi gembur dan dapat ditanami padi.
III. Metode pembelajaran    :  Ceramah, diskusi, pemberian tugas
IV. Langkah-langkah Pembelajaran                                          
A. Kegiatan Awal         :  *    Memanjatkan doa Namaskara Gatha bersama.
                                       *    Absen siswa.
                                       *    Apersepsi: Apakah para siswa pernah melihat orang membajak?
B. Kegiatan Inti           :    *    Guru menyampaikan informasi tentang materi pelajaran yang akan dipelajari
                                        *    Siswa melihat gambar ”Perayaan Membajak”.
                                        *   Siswa  membacakan cerita ”Perayaan Membajak” secara bergantian.
                                        *   Guru menyampaikamenjelaskan dan menyampaikan inti dari cerita yang
                                             dibacakan siswa
                                        *  Guru bertanya kepada sisiwa tentang hal yang dilakukan Pangeran Sidharta
                                            saat peristiwa membajak.
                                        *  Siswa menyebutkan hal yang dilakukan Pangeran Sidharta saat peristiwa
                                             membajak.
                                        *   Guru bertanya tentang manfaat Perayaan membajak bagi Keluarga Kerajaan
                                             dan masyarakat.        
                                        *    Siswa menyebutkan manfaat Perayaan membajak bagi Keluarga Kerajaan
                                              dan masyarakat.          
                                         *    Siswa bercerita tentang hal yang berkesan ketika pergi ke sawah secara
                                               bergantian
                                         *    Tanya jawab antar siswa tentang hal berkersan ketika pergi ke sawah
                                         *    Siswa mempraktekkan meditasi dengan obyek pernapasan.
   C. Kegiatan Akhir      :  *   Guru menyampaikan kesimpulan
                                        *    Gita Namaskara.     
V.  Alat dan Sumber Bahan
a.  Alat                           : Gambar
   b.  Sumber Belajar          :  Buku Pelajaran Agama Buddha Ehipassiko kelas 4 hal 2,3
Buku Riwayat Hidup Buddha Gotama hal 29-36
VI. Penilaian

RPP SD Kelas 6 Materi Agama Buddha

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan               :  Sekolah Dasar (SD)
Mata Pelajaran                     : Pendidikan Agama Buddha
Kelas/ Semester                    :  VI / I  
Alokasi Waktu                     : 2 x 35 menit
Standar kompetensi              :             1.         Mengungkapkan cerita pada masa pendidikan Pangeran Siddharta.
Kompetensi Dasar                :  1.1  Menjelaskan masa  pendidikan belajar Pangeran  Siddharta.                                           
Indikator                              : 1.1.1.  Menyebutkan tempat pendidikan Pangeran Siddharta.
                                              1.1.2    Menyebutkan ilmu yang dipelajari Pangeran Siddharta.
                                              1.1.3  Menyebutkan nama guru Pangeran Siddharta pada waktu sekolah.
                                              1.1.4   Menyebutkan sifat-sifat Pangeran Siddharta.
                                              1.1.5 Menunjukan sikap yang baik saat pembelajaran berlangsung
                                              1.1.6   Membuat jadwal kegiatan dari bangun tidur sampai berangkat sekolah
I.  Tujuan Pembelajaran       : Setelah mengikuti pembelajaran siswa dapat:
·         Menyebutkan tempat pendidikan Pangeran Siddharta dengan benar.
·         Menyebutkan ilmu yang dipelajari Pangeran Siddharta dengan benar.
·         Menyebutkan nama guru Pangeran Siddharta pada waktu bersekolah dengan benar.
·         Menyebutkan  dan menjelaskan kembali sifat-sifat Pangeran Siddharta dengan benar.
·         Membuat jadwal kegiatan dari bangun tidur sampai berangkat sekolah
·         Menunjukkan sifat yang baik saat pembelajaran berlangsung
II.  Materi Pembelajaran      : 
 Pangeran Siddharta mendapat pendidikan di istana. Guru pangeran siddharta diundang untuk membimbing pangeran Siddharta di istana. Guru pangeran siddharta bernama Vismamitta. Teman-teman Pangeran Siddharta adalah para putra bangsawan. Pangeran Siddhrta mendapat pelajaran tentang bahasa, matematika, ilmu perbintangan, agama, ilmu militer dan bela diri. Pangeran Siddharta merupakan siswa yang mempunyai kelebihan dibanding dengan teman-teman yang lain. Sifat- sifat yang dimiliki oleh pangeran Siddharta adalah Pandai, suka bermeditasi, disiplin, hemat, menghormati orang lain, suka menolong, tidak mudah putus asa dan semangat. Kepandaian dari pangeran Siddharta bahkan melebihi dari gurunya.

III. Metode pembelajaran    :  Ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi
IV. Langkah-Langkah Pembelajaran     
     A. Kegiatan Awal         : *    Memanjatkan doa Namaskara Gatha bersama.                                               
                                      *    Apersepsi: Apakah para siswa sudah pernah membaca atau mendengar
                                         cerita masa kecil dan pendidikan Pangeran Siddharta?
      B. Kegiatan Inti       :                                         *    Guru memberikan informasi tentang kegiatan pembelajaran yang akan
                                                   dilaksanakan.
                                        *    Siswa melihat dan mengapersepsikan gambar dalam materi yang bertemakan
                                              Teladan Pangeran Siddharta.
                                        *    Guru mengulas kembali cerita masa kecil dan pendidikan Pangeran Siddharta.
                                        *    Tanya jawab.
                                        *    Siswa menyebutkan tempat pendidikan Pangeran Siddharta.
                                        *    Siswa menyebutkan nama guru yang mengajar Pangeran Siddharta.
                                        *    Siswa menyebutkan beberapa ilmu yang dipelajari Pangeran Siddharta.
                                        *    Siswa  menyebutkan dan menjelaskan sifat-sifat Pangeran Siddharta dalam
                                              belajar.
                                        *    siswa berdiskusi dan membuat jadwal kegiatan dari bangun tidur sampai
                                               berangkat sekolah
            C. Kegiatan akhir     : * Guru menyampaikan kesimpulan tentang masa pendidikan dan sifat-sifat Pangeran siddharta
*    Guru menyampaikan pesan kepada siswa untuk rajin dan semangat belajar.
*    Gita Namaskara
V.  Alat dan Sumber Bahan
      a.  Alat                           : Gambar masa pendidikan Pangeran Siddharta
      b.  Sumber Belajar          : Buku Pelajaran Agama Buddha Ehipassiko kelas 6
                                                Buku Kronologi Hidup Buddha
                                                Buku Pelajaran Agama Buddha kelas 6 (Puji Sulani, S.Ag)

VI. Penilaian                        
a.       Jenis                       :   Tes tertulis
b.      Instrumen               :    
1.      Dimana tempat pendidikan Pangeran Siddharta?
2.      Sebutkan ilmu yang dipelajari Pangeran Siddharta?
3.      Siapa nama guru Pangeran Siddharta pada waktu bersekolah?
4.      Sebutkan sifat-sifat Pangeran Siddharta?
Jawaban:

RPP kelas V SD materi AGAMA Buddha

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan            : Sekolah Dasar (SD)
Mata Pelajaran                  : Pendidikan Agama Buddha
Kelas/ Semester                 :  V / I       
Alokasi Waktu                  : 3 x 35 Menit
Standar kompetensi          :  1.      Mengungkapkan berbagai cara  raja  Suddhodana  membesarkan Pangeran Siddharta.
Kompetensi Dasar            :  1.3     Menjelaskan sikap Pangeran Siddharta menghadapi  kemewahan dan kesenangan duniawi.
Indikator                           : 1.3.1 Menyebutkan sarana yang diberikan Raja pada Pangeran Siddharta
                                                        1.3.2 Mengidentifikasi kemewahan tiga istana bagi Pangeran Siddharta 
                                            1.3.3 Mengungkapkan sikap Pangeran  Siddharta menghadapi kemewahan di Istana.
                                            1.3.4 Mengungkapkan sikap ketika permintaan terpenuhi dan tidak terpenuhi oleh orang tua
I.    Tujuan Pembelajaran :  Setelah mengikuti pembelajaran siswa dapat:
·         Menyebutkan sarana yang diberikan Raja pada Pangeran Siddharta dengan benar
·         Mengidentifikasi kemewahan tiga istana bagi Pangeran Siddharta 
·         Mengungkapkan sikap Pangeran  Siddharta menghadapi kemewahan di Istana
·         Mengungkapkan sikap ketika permintaan terpenuhi dan tidak terpenuhi oleh orang tua dengan baik.     
                      
I.    Materi Pembelajaran   : Pangeran Siddharta merupakan putra mahkota Suku Sakya. Raja Suddhodana, ayah dari Pangeran Siddharta sangat menyayanginya. Raja Suddhodana berkeinginan untuk selalu membahagiakan Pangeran Siddharta, karena merupakan satu-santunya pewaris tahta. Raja Suddhodana tidak ingin putranya menjadi Buddha.
Raja Suddhodana menyadari bahwa Pangerasn Siddharta akan bertekad bulat menjadi Buddha setelah melihat empat peristiwa. Raja mengkondisikan kemewahan di dalam istana bagi Pangeran Siddharta. Pangeran Siddharta dibuatkan tiga kolam teratai dan tiga buah istana dengan pelayan yang masih muda, cantik dan gagah supaya tidak keluar istana.
Pangeran Siddharta menikmati kemewahan tetapi tidak melekatinya. Pangeran Siddharta tidak pernah sombong dengan semua kemewahan yang dimiliki. Pangeran selalu merenungkan bahwa banyak makhluk yang mengalami kesedihan dan penderitaan serta merasa jenuh akan kemewahan yang diberikan oleh ayahnya..
Pangeran Siddharta membalas kasih sayang orang tua dengan terima kasih dan bersikap baik.
III. Metode pembelajaran  :  Ceramah, tanya jawab, demontrasi dan unjuk kerja.
IV. Langkah-langkah Pembelajaran                                          
A. Kegiatan Awal      :  *    Namaskara Gatha bersama.
                                    *    Apersepsi: Apakah para sisiwa selalu mendapat uang saku setiap hari?
B. Kegiatan Inti          :  *    Guru menyampaikan informasi tentang materi pelajaran yang akan dipelajari.           
*    Siswa melihat dan mengapersepsikan gambar tiga iastana untuk Pangeran Siddharta.
*    Siswa membaca cerita “Sikap Pangeran Siddharta terhadap kesenangan duniawi”.
*    Guru melalui tanya jawan menjelaskan isi cerita.
*    Siswa menyanyikan lagu ”Kasih Mama”
*    Guru menyampaikan inti lagu ”Kasih Mama”.
*    Siswa menceritakan ketika permintaan terpenuhi dan tidak terpenuhi oleh orang tua
*    Guru menanggapi cerita yang diungkapkan oleh siswa.
*    Guru menyampaikan Kesimpulan

C. Kegiatan Akhir     :        *       Gita Namaskara.  
V.  Alat dan Sumber Bahan
      a.  Alat                       : Gambar tiga istana Pangeran Siddharta,
Gambar Pangeran Siddharta ketika keliling kota dan melihat orang tua, orang sakit, orang mati dan pertapa
         b.  Sumber Belajar     :  Buku Pelajaran Agama Buddha Ehipassiko kelas 5 hal 3-5
                                             Buku Pelajaran Agama Buddha kelas 5 (Puji Sulani, S.Ag) hal 5,6
VI. Penilaian                      :    
a.       Jenis                      :  Lisan
b.      Instrumen              : 1. Sebutkan tiga kolam yang diberikan Raja Suddhodana kepada Pangeran Siddharta?

RPP Kelas 3 SD Mata pelajaran Agama Buddha

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan                  :  Sekolah Dasar (SD)
Mata Pelajaran                        :  Pendidikan Agama Buddha
Kelas/ Semester                       :  III / I
Alokasi Waktu                        :  2 X 35 menit
Standar kompetensi                :           1.      Mengenal dan meneladani sifat-sifat luhur Pangeran Siddharta
Kompetensi Dasar                  :  1.1     Menjelaskan  sifat-sifat  luhur  Pangeran Siddharta pada masa kanak-kanan.           
Indikator                                 :  1.1.1    Mengidentifikasi sifat luhur Pangeran Siddharta
1.1.2    Menyebutkan  sifat-sifat  luhur Pangeran Siddharta  pada masa kanak-kanak.
1.1.3   Menulis contoh perbuatan yang mencerminkan sifat-sifat luhur
1.1.4   Menunjukan sikap yang baik saat pembelajaran berlangsung
I.    Tujuan Pembelajaran         :  Setelah mengikuti pembelajaran siswa dapat:
·         Menyebutkan sifat-sifat luhur pangeran siddharta
·         Menulis contoh perbuatan yang mencerminkan sifat-sifat luhur
·         Mengidentifikasi sifat luhur Pangeran Siddharta dengan benar
·         Menunjukan sikap yang baik saat pembelajaran berlangsung
II.  Materi Pembelajaran         :           Pangeran Siddharta adalah anak yang pandai. Pangeran Siddharta selalu giat belajar, tidak pernah malas. Jika ada hal-hal yang kurang dimengerti, pangeran Siddharta bertanya kepada gurunya. Pangeran Siddharta selalu jujur, baik hati dan taat kepada peraturan. Pangeran Siddharta suka menolong makluk lain. Suatu ketika pangeran Siddharta menolong burung belibis yang dipanah oleh Dewadatta. Pangeran Siddharta mencabut anak panah yang menancap di tubuh burung belibis, dan mengobati lukanya. Setelah diobati, burung belibis dilepaskan oleh Pangeran Siddharta agar bebas hidup di hutan.
III.                                           Metode pembelajaran :     Ceramah, tanya jawab dan unjuk kerja/demontrasi.
IV. Langkah-langkah Pembelajaran                                        
 A. Kegiatan Awal            :  *    Memanjatkan doa Namaskara Gatha bersama.
                                           *    Apersepsi: siapa yang sering menolong teman?
 B.  Kegiatan Inti               :  * Guru memberikan informasi tentang materi pelajaran yang akan dipelajari.
*    Siswa melihat dan mengapersepsikan gambar “Pangeran Siddharta menolong burung belibis”.
*    Siswa membaca cerita tentang “ Pangeran Siddharta waktu kanak-kanak”
*    Guru melalui tanya jawab menjelaskan isi cerita yang telah dibaca siswa.
*    Siswa  menulis contoh perbuatan yang mencerminkan sifat luhur dalam kehidupan di sekolah dan di rumah.
* Siswa  membaca contoh perbuatan yang mencerminkan sifat luhur dalam kehidupan di sekolah dan di rumah.
*    Siswa mewarnai gambar Pangeran Siddharta menolong burung belibis.
*    Guru menilai hasil kerja anak
C. Kegiatan Akhir             :  *    Guru menyampaikan kesimpulan materi           
                                             *    Gita Namaskhra
V.  Alat dan Sumber Bahan
      a.  Alat                              : GambarPangeran Siddharta menolong burung belibis.
   b.  Sumber Belajar             :  Buku Pelajaran Agama Buddha Ehipassiko kelas 6 hal 4,5
Buku Pelajaran Agama Buddha kelas 6 (Puji Sulani, S.Ag) hal 4-6
VI. Penilaian                          :     
a.       Jenis                           :   1. Tes lisan (tanya jawab spontan).
                                                   2. Tugas Portofolio
b.      Instrumen                  :    1. Tes lisan
Sebutkan sifat-sifat luhur Pangeran Siddharta!
Jawab:

RPP Kelas 2 SD Mata pelajaran Agama Buddha

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan                  :  Sekolah Dasar (SD)
Mata Pelajaran                        :  Pendidikan Agama Buddha
Kelas/ Semester                       :  II / I
Alokasi Waktu                        :  2 X 35 menit
Standar kompetensi                : 2.   Mengungkapkan  kisah-kisah Jataka dan lain-lain yang bertemakan persahabatan dan kasih sayang.
Kompetensi Dasar                   : 2.1  Menceritakan kisah Jataka dan lain-lain yang bertemakan Persahabatan.
Indikator                                 :  2.1.1   Menyebutkan arti sahabat sejati
2.1.2   Menyebutkan ciri-ciri sahabat sejati
2.1.3   Menggambar tokoh cerita ”sahabat sejati”
2.1.4   Menunjukan sikap yang baik kepada teman
I.    Tujuan Pembelajaran         : Setelah mengikuti pembelajaran siswa dapat:
·         Menyebutkan arti sahabat sejati dengan benar
·         Menyebutkan ciri-ciri sahabat sejati dengan benar.
·         Menggambar tokoh cerita ”sahabat sejati”
·         Menunjukan sikap yang baik kepada teman
II.                                            Materi Pembelajaran   :                       Sahabat sejati merupakan sahabat yang selalu bersama dalam keadaan susah ataupun senang. Sahabat sejati memiliki ciri-ciri suka menolong, jujur, menjaga dalam bahaya, mengingatkan jika berbuat salah, tidak ribut ketika pelajaran.
Sahabat sejti dicontohkan oleh Si buta dan Si buntung yang saling membantu untuk keluar dari rumah yang terbakar.
III.                                           Metode pembelajaran  :  Ceramah, tanya jawab, demontrasi.
IV. Langkah-langkah Pembelajaran                                         
      A.  Kegiatan Awal            :  *    Memanjatkan doa Namaskara Gatha bersama.
                                                   *    Apersepsi: apalah kalian mempunyai teman akrab?
      B.  Kegiatan Inti               : *    Guru memberikan informasi tentang materi pelajaran yang akan dipelajari.
*   Guru menjelaskan tentang sahabat sejati.
                                       *    Siswa menyebutkan arti dan ciri-ciri sahabat sejati
                                       *    Guru bercerita ”Sahabat Sejati”
                                       *    Siswa menggambar tokoh dalam cerita ”Sahabat Sejati”
      C. Kegiatan Akhir             : *    Guru menyampaikan kesimpulan
*    Gita Namaskara.
V.  Alat dan Sumber Bahan
a.  Alat                           : Gambar
   b.  Sumber Belajar          :  Buku Pelajaran Agama Buddha Ehipassiko kelas 2 hal 17
Buku Pelajaran Agama Buddha kelas 6 (Puji Sulani, S.Ag) hal 14,15
VI. Penilaian                         : 
a.       Jenis                         :  Portofolio
b.      Instrumen                 :  Gambarlah tokoh dalam cerita “Sahabat Sejati”
c.       Penilaian                  : 
Nama
Kerapian
kesesuaian
keindahan
















                                                                                                 
                   Tangerang, ____________2015                                
Guru Pamong                                                                Praktikan



_______________                                           _____________                                                                  NIP.                                                                            Nim:

                                           Mengetahui,
                           Kepala Sekolah SDN Sriwijaya




                                  ____________________
                                  NIP.