Jumat, 03 Mei 2013

perkembangan agama buddha di jepang


1.      Perkembangan agama Buddha di jepang
 
            Seperti yang telah diketahui awal mula Agama Budha berasal dari Negara India. Melalui jalur utara, India menyebarkan agama Budha sampai melewati Cina dan mulai masuk ke Jepang pada  tahun 522. Penyebaran dari India tersebut menggunakan perantara dari Kerajaan Cina, yaitu dengan dikirimnya Biksu muda ke Jepang oleh kerajaan Cina untuk menyebarkan agama Budha. Akan tetapi rakyat Jepang pada saat itu tidak begitu memberikan tanggapan terhadap penyebaran agama Budha tersebut.
            Awal mula masuknya agama Budha di Jepang dengan mulai mengalami tanggapan dari masyarakat Jepang dipercaya pada tahun 538 pada jaman Asoka melalui delegasi dari kerajaan Baekjae di Korea. Agama Budha sendiri dalam bahasa jepang disebut Bukkyo yang diambil dari dua kanji Butsu yang berarti Budha dan Kyo yang berarti ajaran atau aliran. Diketahui beberapa tahun setelah datangnya delagasi dari kerajaaan Baekjae Korea masuk pula buku – buku dan literatur Cina yang berisikan ajaran Agama Budha, buku – buku dan literatur tersebut masuk ke Jepang dari Cina pada masa Dinasti Sui. Literatur tersebut berjudul Jusichijono Kempo.
            Perkembangan agama Budha sendiri mengalami pasang surut sejak jaman Asoka sampai masa modern ini. Awal masuk dari agama Budha sendiri terjadi banyak penolakan dan pergolakan dari masyarakat sekitar yang secara empiris memiliki kepercayaan memuja banyak Dewa yang disebut kepercayaan Shinto.

Sejarah perkembangan Buddhisme di Jepang meliputi tiga periode, yaitu: periode Nara, periode Heian, dan pasca-periode Heian. Dari tiga periode tersebut dapat dilihat perkembangan Buddhisme yang pasang-surut. penjelasan secara lebih rinci dari perkem bangan Buddhisme di Jepang, sebagai berikut:

perkembangan agama buddha di tibet


1.      Perkembangan agama Buddha di Tibet


Jhnanaprabha

Pada pertengahan abad ke-9 M, seorang pangeran dari Tibet, Nigon, meninggalkan negerinya pergi ke barat serta mendirikan kerajaan Guge (shensung). Kerajaan baru ini dibagi ketika raja meninggal dunia. Putera yang tertua, cakrasena, menerima upasampada,menjadi bhikkhu yang bernama Jnanaprabha. Bhikkhu jhnanaprabha banyak belajar dan membaca kitab-kitab, dikenal sebagai seorang rasionalis dan mewarisi sifat ayahnya yang sangat setia pada agama Buddha.

Agama Buddha mulai berkembang di Tibet ketika paham Tantra menyebar luas di India. Pada zaman kehidupan  Bhikkhu Jhnanaprabha, paham Tantra telah mempengaruhi agama-agama di bumi India, tidak terkecuali agama Buddha. Bhikkhu  Jhnanaprabha tidak tertarik pada paham Tantra, bahkan beliau menulis sebuah buku untuk menentangnya. Mengenai hal ini para penganut Tantra di Tibet mengatakan bahwa Bhikkhu yang berdarah biru ini menghadapi neraka dengan bukunya itu.    

Bhikkhu Jnanaprabha menyadari bahwa beliau seorang diri tidak akan mampu mencegah meluasnya paham Tantra di Tibet. Untuk itu beliau memilih 21 anak muda yang mempunyai intelegensi tinggi yang dididiknya sendiri selama 10 tahun sebelum mengirimkan mereka ke Kashmir untuk malanjutkan pendidikan. Tidak satupun di antara mereka yang dikirim itu mampu bertahan terhadap iklim di Kashmir. Semuanya meninggal dunia kecuali Ratnabadhra (Rin-Chen-Zang-Po) dan Suprajna(Legs-Pahi-Shes­-Rah).

Ratnabadra di kemudian hari dikenal sebagai seorang penerjemah besar di Tibet. Pulang dari pendidikan di Kashmir, Ratnabandra disambut oleh Devaguru Jnanaprabha yang senantiasa menyadari bahwa cita-cita reformasi yang diinginkannya terlalu besar untuk dikerjakan seorang diri. Pengalaman pahit dengan mengirim murid-muridnya ke Khashmir memberikan pelajaran kepada Bhikkhu. Jnanaprabha bahwa lebih baik mengundang cendekiawan dari India ke Tibet.

Dari para siswa yang berasal dari Tibet barat yang banyak di India, Bhikkhu Jnanaprabha mendengar nama seorang Bhikkhu terkemuka waktu itu, yaitu Dipankara Srijnana dari Vikramamasilamahavihara. Begitu mendengar hal ini, Bhikkhu Jnanaprabha melakukan persiapan untuk mengirim rombongan utusan untuk mengundang dan memohan  Bhikkhu Dipankara ke Tibet. Namun mereka gagal untuk memohon Bhikkhu  Dipankara melakukan kunjungan ke Tibet.

Jnanaprabha bukanlah seorang seseorang yang cepat putus asa. Beliau menyiapkan kembali rombongan utusan yang lain. Namun usaha kedua ini menghadapi masalah pembiayaan, maka beliau mengunjungi provinsi Gartog untuk mengumpulkan emas. Dicatat dalam sejarah Tibet bahwa  Bhikkhu Jnanaprabha ditangkap dan disandera untuk diminta tebusan oleh Raja Gartog. Ketika berita penyanderaan itu didengar oleh putera Bhikkhu Jnanaprabha, Bodhiprabha (Byang Chub Od), beliau mengusahakan untuk mengumpulkan uang untuk membebaskan ayahnya. Setelah mengumpulkan uang, belaiu mengunjungi ayahnya dipenjara. Mendengar maksu puteranya. Bhikkhu Jnanaprabha memberikan nasihat bahwa beliau telah tua, sewaktu-waktu dapat meninggal dunia. Seandainya masih hidup, hanya bisahidup sepuluh tahun lagi dan apa yang akan dikerjakannya tetap sama. Lebih baik uang itu digunakan untuk menjemput Bhikkhu Dipankara dari India. Alangkah bahagianya apabila belaiu dapat meninggal dunia untuk tujuan yang mulia itu, dan engkau (Bodhiprabha) dapat mengirimkan semua emas yang ada untuk menjemput cendekiawan itu. Kemudian Bhikkhu Jnanaprabha melanjutkan. Lagi pula, belum tentu raja akan membebaskannya setelah tebusan dibayarkan. Olek karena itu, tidak perlu merisaukan dirinya, Lebih baik mengirimkan emas itu kepada Atisa (sebutan lain dari Dipankara Srijnana). Saya yakin bahwa beliau setuju untuk datang ke negeri Bhots (Tibet), terlebih setelah mendengar keadaan yang menyedihkan ini, beliau akan merasa welas asih pada kita. Bilamana oleh karena alasan-alasan tertentu beliau tidak bisa datang, usahakan mendapatkan murid beliau sebagai penggatinya. Devaguru Jnanaprabha meletakan tangannya pada putranya serta merestuinya seperti tidak akan berjumpa lagi.         
Pada waktu itu, merupakan kebiasaan dalam masyarakat Tibet untuk menyembut para  Bhiksu yang berdarah ningrat sebagai  Devaguru (Lha-Blama). Devaguru Bodhiprabha mulai menyiapkan utusan untuk mlaksanakan amanat ayahnya. Upasaka Gun-Than-Pa yang pernah tinggal di India selama dua tahun dipilih untuk melaksanakan tugas tersebut. Kemudian Upasaka Ghun-Than-Pa memilih orang-orangnya untuk menyrtai perjalanan yang terdiri dari Bhiksu Silajaya atau Jayasila (Chul-Kharims-Gyal-Va) dari Nag Chomo serta beberapa orang lagi sebagai rombongan ke Vikramasila mahavihara.
Kitab Guru Gunadharmakara, riwayat hidup (biografi) Bhikkhu Dipankara Srijnana yang ditulis oleh murid beliau, mencatat tentang kedatangan sepuluh orang dari Tibet lewat Nepal. Ketika akan menyeberangi sungai Gangga, penumpang perahu telah penuh, maka tukang perahu memberitahu mereka bahwa dia akan datang kembali untuk menjmput mereka. Karena perahu tak kunjung datang, mereka takut dibohongi oleh tukang perahu, maka rombongan dari Tibet bermaksud menanamkan emas yang dibawa mereka di pasir dan kemudian tidur. Ketika mereka menyatakan keragu-raguan apakah tukang perahu akan kembali menjemput, oleh tukang perahu dijawab bahwa tidak berani melawan hukumdengan meninggalkan mereka di tepi sungai tanpa diseberangkan.  
Setelah tiba di tepi seberang, pintu gerbang kota telah ditutup dan tukang perahu menyarankan mereka untuk menginap di suatu penginapan di dekat gerbang barat. Dari atas pintu gerbang, Bhikkhu Vikramsingh (Tson Sen) mendengar percakapan rombongan yang tidak asing baginya. Beliau berasal dari Gya (desa terakhir di Ladakh menuju Kulu) dan ingin tahu maksud kunjungan rombongan itu.
Setelah mendengar maksud kunjungan, Bhikkhu Vikramasingh menyarankan untuk tidak langsung menyatakan maksud mereka membawa Atisa ke Tibet. Disarankan supaya mengatakan bahwa kedatangan mereka untuk belajar Dhamma. Hal ini menurut Bhikkhu Vikramasingh agar dapat mencapai tujuan mereka. Beliau juga Setelah mendengar menjanjikan untuk membawa mereka untuk Atisa pada waktu yang tepat.
            Beberapa hari setelah rombongan Tibet tiba, di Vikramasila ada pertemuan para siswa dan Bhikkhu Vikramasingh mengajak pertemuan untuk melihat sendiri murid-murid terkemuka dari Bhikkhu Dipankara Srijnana (Atisa) seperti Ratnakirti, Tathagatataraksita,Sumatikitri,Vairucanaraksita, dan Kanakasri. Beberapa hari setelah itu Bhikkhu Vikramasingh membawa rombongan Tibet kepada Bhikkhu Dipankara Srijnana.
            Rombongan dari Tibet tersebut meletakkan emas yang diwanya kedepan Atisa serta menceritakan kisah kematian yang menyedihkan dari Bhikkhu Jnanaprabha di penjara. Bhikkhu  Dipankara mendengar penuturan rombongan denga gelisah dan berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa  Bhikkhu Jnanaprabha adalah seorang Bodhisatta yang telah mengorbankan dirinya sendiri untuk Dhamma.   Saya ingin memenuhi keinginan beliau, tetapi kalian harus mengetahui tanggung jawab saya yang besar atas 108  Vihara  berada dikedua pundakku, saya juga mempunyai tugas-tugas lain yang memerlukan perhatian. Saya perlu 18 bulan untuk menyerahkan tugas-tugas tersebut. Setelah itu, saya baru bisa berangkat ke Tibet. Sementara ini simpanlah dulu emas ini.”

Rombongan dari Tibet sangat puas akan jawaban Atisa. Mereka memanfatkan waktu denagn belajar di Vikramasila mahavihara.  Sementra itu, Atisa mempersiapkam keberangkatannya. Atisa berangkat ke Tibet pada tahun 1030 Masehi pada usia 57-58 tahun.


Ācariya Dipankara Srijnana

Ācariya Dipankara Srijnana membuat Tibet dan India menjadi dekat dalam kebudayaan. Namanya begitu harum di Tibet dan oleh beberapa pihak dikatakan bahwa beliau setingkat dengan Padmasambhava. Sebelum kedatangan Ācariya Dipankara ke Tibet, terdapat beberapa cendekiawan India yang terkenal, seperti Ācariya Santarasikta dan muridnya, Ācariya Kamalasila. Kelebihan Ācariya Dipankara dibandingkan dengan mereka berdua adalah menjadikan kitab-kitab Sansekerta menjadi bernilai bagi masyarakat Tibet. Pada umumnya para cendekiawan India di Tibet diberi nama bahasa Tibet, misalnya Ācariya Dipankara Srijnana dikenal sebagai Dpal-mar-med-mdsa Ye-Ses atau Jo-Vo-rJe Pal dan Atisa (Svami Sri Atisaya) yang disingkat menjadi Atisa.

Ācariya Dipankara adalah putera Raja Kalyana Sri dan Ibu Sri Pra­bhavati, lahir di Sahor (India Timur) tahun 982 M. Tidak jauh dari istana Raja Kalyana Sri, tempat Ācariya Dipankara dilahirkan, terdapat Vikrama vihāra yang juga disebut Vikramasilavihāra. Berbeda dengan sumber dari India, sumber-sumber dari Tibet menyebutkan Bhagalpur sebagai tempat kelahiran Ācariya Dipankara.

 Kehidupan Raja Kalyana Sri mempunyai hubungan erat dengan Vikramasilavihara.dalam tradisi disebutkan, ketika Acariya Dipankara lahir, orang tua beliau pergi ke Vihara untuk beribadah dan di ikuti suatu prosesi yang  terdiri dari 500 kereta kuda. Raja Kalyana Sri mempunyai tiga anak laki-laki, masing-masing Padmagarbha, Chandragarbha,( kemudian di kenal sebagai  Acariya Dipankara Srijnana) dan Srigarbha.

Pendidikan dan pengajaran pada waktu itu terdapat di vihāra-vihāra dan kebetulan sekali Vikramasilamahavihāra yang terkenal itu terletak tidak jauh dari istana Raja Kalyana Sri. Demikian pula Nalanda Mahāvihāra yang lebih maju dan terkenal juga terletak di wilayah India. Pangeran Chandragarbha ketika masih muda bertemu dengan Ācariya Jitari (ahli tata bahasa) dan lebih mendapat dorongan untuk belajar di Nalanda Mahāvihāra daripada di Vikramasila Mahāvihāra. Hal itu akan lebih baik bagi Chandragarbha untuk memperoleh pendidikan jauh dari rumah.

Chandragarbha tidak gampang memperoleh ijin dari ayahnya untuk menjadi bhikkhu (untuk diterima sebagai murid di Nalanda Mahāvihāra). Beliau diijinkan berangkat ke Nalanda dengan pendamping. Setelah melapor kepada Bhikkhu Bodhibhadra, pimpinan bhikkhu, maka Chandaragarbha yang masih berumur 11 tahun masih harus menunggu 9 tahun lagi untuk dapat ditahbis menjadi bhikkhu. Saat itu Chandragarbha hanya diterima sebagai sāmaṇera dengan nama Dipankara Srijnana.

Pada usia 12 tahun, samanera Dipankara Srijnana dititipkan oleh Bhikkhu Bodhibadra kepada gurunya, Maitri Avadhutipada (Advayavajra) seorang penganut Siddha di Rajagaha untuk dididik. Pada zaman itu, kepercayaan akan mantra dan Siddha cukup mendapat tempat dimasyarakat sehingga Samanera Dipankara terpaksa mendapat pelajaran yang bukan termasuk agama Buddha selama empat tahun. Tokoh Siddha yang terkenal pada waktu itu adalah Naropa (Nadapada atau Narottamapada) yang juga seorang cendekiawan. Dia menetap di gerbang utara Vikramasila Mahavihara. Baik Nalanda maupun Vikramasila Mahavihara.

Dari Rajagaha, Sāmera Dipankara melanjutkan pendidikan di bawah asuhan Naropa di VikramasilaMahāvihāra. Beberapa asuhan Naropa yang terkenal antara lain Prajnaraksita, Kanakasri, Manakasri, dan Murpa (guru dari Milarepa, seorang penyair Siddha terkenal dari Tibet). Akhirnya Dipankara menyelesaikan pendidikan di Vikramasila Mahāvihāra.

Dipankara sangat haus akan ilmu pengetahuan dan melanjutkan belajar Vinaya Pitaka di VajrasanaMahāvihāra di Both Gaya. Beliau berdiam di Mati Vihāra dan diasuh Mahavinayadhara Silaraksita. Setelah dua tahun mempelajari Vinaya Piaka, pada usia 31 tahun, Bhikkhu Dipankara telah diakui sebagai cendekiawan serta memiliki pengetahuan tentang ketiga Pitaka dan Tantra.

Sewaktu belajar di Vikramasila Mahavihara, Bhikkhu  Dipankara berkenalan dengan murid-murid dari Acariya Dharmapala yang mengajar agama Buddha dikerajaan Sriwijaya, Sumatera (Swanadwipa), antara lain Ratnakarasanti (seorang Siddha Jananasari). Karena ingin belajar dari Acariya Dharmapala, setelah menyelesaikan belajar di Both Gaya, Bhikkhu Dipankara mewujudkan cita-cita beliau dan berlayar ke Sriwijaya. Perjalanan beliau terjadi tahun 1013 yakni pada masa pemerintahan Raja Vijayapala (960-1040 M) dari kerajaan Magadha, pada waktu Mahmud Ghaznavi (997-1030 M) menyerbu dan menghancurkan Kanauj, Mathura, Banaras, dan Kalanjar.   di Vikramasila MahāvihāraBhikkhu Dipankara berkenalan dengan murid-murid dari Ācariya Dharmapala. Beberapa murid Ācariya Dharmapala yang mengajar agama Bud­dha di kerajaan Sriwijaya, Sumatera (Swarnadwipa), antara lain Ratnakarasanti (seorang Siddha), Jananasari. Karena ingin belajar dari Ā (997-1030 M) menyerbu dan menghancurkan Kanauj, Mathura, Banaras dan Kalanjar.
            Bhikkhu Dipankara belajar di Sriwijaya selama 12 tahun, mempelajari kitab-kitab yang telah diketahui beliau. Kitab-kitab tersebut di antaranya adalah Ahsamayalankara  karya Asanga dan Bodhicaryavatara karya Santideva. Di Sriwijaya dicatat bahwa  Bhikkhu Dipankara mulai mendalami Tantra maupun kitab-kitab lainnya. Pada waktu itu merupakan kebiasaan bagi seorang murid tinggal bersama-sama gurunya dalam waktu yang lama untuk mempelajari hal-hal penting secara metodik. Bhikkhu Dipankara kembali ke Vikramasila ketika berusia 44 tahun.

Latar belakang pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki beliau menyebabkan beliau dipercaya untuk memimpin 51 cendekiawan serta 108 vihāra. Sebelum dijabat oleh Bhikkhu Dipankara, kedua kedudukan itu masing-masing dijabat oleh Siddha Butakotipada dan Siddha Avadhutipada. Pada jaman itu perguruan tinggi agama Buddha di India didirikan di Nalanda, Uddantapuri (Bihar Sharif), Vajrasana, dan Vikramasila. Dari keempat perguruan tinggi tersebut hanya Vikramasila yang mempunyai asal usul yang menarik. Ketika maharaja Dharmapala dari kerajaan Pala berkunjung ke daerah itu, beliau sangat tertarik akan keindahan suatu bukit kecil di tepi sungai Gangga dan memutuskan untuk mendirikan sebuah vihāra di sana. Vihāra tersebut, dibangun pada akhir abad ke-8 M dan dalam perkembangannya selama 250 tahun telah menjadi suatu lembaga pendidikan yang besar. Bahkan jumlah mahasiswa di Vikramasila lebih banyak daripada jumlah di Nalanda. Di antara para guru ternama yang mengajar di Vikramasila adalah 108 cendekiawan, 8 ahli atau pandit dan seorang guru besar Ratnakarasanti yang menjadi kepala vihāra. Beberapa di antara ahli atau pandit tersebut adalah  Bhikkhu Dipankara Srijnana, Santibhadra, Maitripa (Avadhutipa), Dombipa Sthavirabhadra, dan Smrtyakara Siddha (Kasmiri).

Di Vikramasila juga terdapat vihara dengan bodhisatta Avalokitesvara yang terletak ditengah komplek vihara serta 53 vihara besar dan kecil. Di vihara-vihara tersebut juga ditemui para dewa dan para dewi yang dipuja serta gambar-gambar suci yang dipuja penganut paham tantra. Selain itu juga masih terdapat 3 vihāra lagi yang didirikan oleh dinasti Pala (765-1200 M).

Setelah Bhikkhu Dipankara Srijnana menyetujui permohonan rombongan dari Tibet untuk mengajar Dhamma disana, hal tersbut disampaikan kepada pimpinan Vikramasila Mahavihara,Bhikkhu Ratnakarasanti. Pada waktu itu, bangsa-bangsa Turki dari barat yang beragama Islam telah mulai menyerang India. Bhikkhu Ratnakarasanti menanyakan kepada rombongan Gun Than Pa sekiranya mereka tidak bersungguh-sungguh untuk membawa pergi Bhikkhu Dipankara Srijnana dari India. Bhikkhu Dipankara Srijnana adalah buah mata India dan dengan kepergian beliau ke Tibet, Bhikkhu Ratnakarasanti yakin bahwa Dhamma yang diajarkan oleh Buddha akan tenggelam. Pada akhirnya Bhikkhu Ratnkarasanti mengizinkan kepergian Bhikkhu Dipankara Srijnana ke Tibet. Emas yang dibawa oleh rombongan Gun Than Pa dibagi menjadi empat, masing-masing untuk para pandit, vihara Vajrasana di Both Gaya, Bhikkhu Ratnakarasanti dan yang terakhir untuk para pimpinan paham-paham yang ada.  

Perjalanan Bhikkhu Dipankara Srijnana ke Tibet ditemani oleh sebelas bhikkhu sampai ke Nepal, termasuk di antaranya Bhikkhu Vikrama dari Gaya yang bertindak selaku penerjemah. Bhikkhu Dipankara Srijnana terlebih dahulu mengunjungi Both Gaya, tempat bersejarah di mana Pangeran Siddharta Gotama mencapai Penerangan Sempurna (Ke-buddha-an). Di Both Gaya beliau mengunjungi Vihāra Vajrasana dan tempat-tempat bersejarah lainnya. Kemudian beliau diantar oleh Ksitigarbha dan 19 orang lainnya sampai vihāra terakhir diperbatasan India dan melanjutkan perjalanan ke Tibet.

Setelah melewati perbatasan dan sampai di ibukota Nepal, rombongan disambut oleh Raja Jayakamadeva dari dinasti Thakuri yang memohon Bhikkhu Dipankara Srijnana tinggal di Nepal. Permohonan itu dikabulkan oleh Bhikkhu Dipankara Srijnana dan beliau tinggal di Nepal selama satu tahun. Pada waktu itu, salah seorang puteri kerajaan memasuki kehidupan ke-Bhikkhuni-an. Dari Nepal, Bhikkhu Dipankara Srijnana mengirim surat kepada Raja Nayapala (1040-1055) dari dinasti Pala. Terjemahan surat tersebut disimpan dalam koleksi kitab Tajur di Tibet.   

Ketika Bhikkhu Dipankara Srijnana tiba di Tibet, Agama Buddha di negeri ini telah berkembang menjadi beberapa aliran. Aliran yang pertama bersifat heterogen dengan ajaran agama Buddha yang tidak teratur, mereka dari kelompok Rn-:n-ma pa (Aliran Tua) yang terbagi ke dalam 4 sub-aliran. Mereka memuja Padmasambava sebagai guru, mempercayai yang bersifat alamiah maupun mistik. Pada umumnya dikenal sebagai golongan bertopi merah.

Kedatangan Bhikkhu Atisa, Agama Buddha bangkit kembali di Tibet. Selama abad ke-11,Vihāra Sakya Melek dari sekte ”Topi Kuning” menjadi terkenal dan menguasai Tibet. Di bawah kekuasaan Mongol, Vihāra Sakya Melek menjadi pusat kekuasaan spiritual yang menguasai Tibet dengan pimpinan yang disebut Dalai Lama, yang dipercayai sebagai inkarnasi dari Bodhisattva Avalokitesvara. Di pihak lain, pimpinan Vihāra Tashilunpo di sebelah barat Lhasa terkenal dengan sebutan Panchen Lama, yang dipercaya sebagai inkarnasi Bodhisatva Amitabha. Tidak seperti Dalai Lama, Panchen Lama hanya dianggap sebagai pemimpin spiritual.

Bhikkhu Atisa mengadakan pembaharuan dengan berdasarkan tradisi Yogacara dari ĀcariyaMaitreya dan Asanga, yang dikemudian hari oleh pengikutnya dikembangkan sebagai aliran Bkah-gdams-pa. Aliran ini menyatukan ajaran Hīnayāna dan Mahāyāna, serta menuntut para bhikkhu berselibat serta meniadakan praktek-praktek magic. Pada abad ke-11, oleh pembantu Agama Buddha bangsa Tibet, Tson-kha-pa, aliran Bkah-gdams-pa diperbaharui serta dimurnikan dan disebut Dge-lugs-pa.

Dua aliran lain yang lahir pada abad ke-11 dan masih mempunyai kaitan dengan Bkah-gdams-pa adalah :
  1. Bkah-rgyd-pa yang didirkan oleh Lama Mar-pa (teman Bhikkhu Atisa serta murid Naropa dari Nalanda) dan mempunyai hubungan dengan aliran dhyāna yang populer di China dan Jepang. Aliran ini terbagi ke dalam beberapa sub-aliran, antara lain Karma-pa dan Hbrug-pa.
  2. Sa-skya-pa (Tanah abu-abu), mengambil warna tanah yang berwarna abu-abu untuk vihāramereka yang didirikan pada tahun 1071. Aliran ini dekat dengan aliran Bkah-rygyud-pa dan mencoba membaurkan ajaran Tantra tua dan baru melalui ajaran Madhyamika dari Nagarjuna bahkan berhasil membangun suatu hirarki yang kuat sampai lahirnya aliran Tson-kha-pa.

Salah satu penganut paham Sa-skya bernama Hyhags pa pada abad ke-13 diangkat menjadi penasehat spiritual Kaisar Khubilai Khan dari Mongol yang menguasai Tibet terlebih dahulu sebelum menjatuhkan China. Sa-skya dikukuhkan sebagai penguasa Tibet tengah pada tahun 1270. Masa itu adalah masa awal dari negara theokrasi di Tibet. Sa-skya-pa memajukan pendidikan bangsa Tibet dan salah satu penganutnya yang terkenal adalah Bu-ston (1290­1354), yang terkenal sebagai komentator kitab-kitab Agama Bud­dha, seorang ahli sejarah bahkan seorang pengumpul kitab pertama di Tibet, dari karya-karya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Tibet. Bu-ston membuat sistematika Bkah-gyur (PerihalBuddha) yang terdiri dari 100 jilid dan Bstan-gyur (Ajaran-ajaran) yang terdiri dari 225 jilid.

Pada akhirnya Tson-kha-pa (lahir di Amdo tahun 1358) melakukan pembaharuan dan sejak itu agama Buddha di Tibet memulai jaman modern. Para bhikkhu di Tibet sering berperan sebagai panglima perang, sehingga vihāra juga berfungsi sebagai pusat militer. Hal ini dapat dimengerti, karena sejarah agama di Tibet penuh dengan gejolak perebutan kekuatan dan kekuasaan. Penjajahan yang kemudian menimpa Tibet, baik dari Mon­gol, China nasionalis maupun China komunis sering memecah belah kekuasaan Dalai Lama dan Panchen Lama. Dalai Lama sejak tahun 1959 melarikan diri dari Tibet ke India setelah China komunis menguasai Tibet.

Rabu, 01 Mei 2013

pengertian unsur api atau panas ( Tejo-Dhatu) menurut agama Buddha


TEJO-DHATU (Unsur api atau unsur panas)

Api merupakan suatu elemen yang mempunyai sifat panas, dapat membakar apapun yang ada dihadapanya dan menghasilkan cahaya atau sinar yang sangat terang. Seperti yang yang dijelaskan oleh Dhatu adalah unsur dari api, kekuatan untuk membakar, untuk menyala dan untuk menjadikan masaknya sifat-sifat materi. Sifat yang memasak ini karena sebab dari panas (kelapa)”. Dan api merupakan salah satu unsur pembentuk materi lainya, dengan kata lain semua benda merupakan gabungan dari empat unsur dan salah satunya api atau unsur panas. Suatu keadaan yang dapat berubah dan bercerai salah satunya dikarenakan oleh unsur panas.
Elemen api atau elemen panas merupakan elemen besar yang memiliki sifat internal atau eksternal. Apakah elemen api internal itu?”

DHAMMACETIYA SUTTA


DHAMMACETIYA SUTTA
(89)


Demikian telah saya dengar:

Add caption
1. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di negeri Sakya.  Di sana terdapat sebuah kota kaum Sakya yang bernama Medalumpa.

2. Pada saat itu Raja Pasenadi dari Kosala sudah tiba di Nangaraka untuk suatu urusan atau yang lain.  Kemudian beliau berkata kepada Digha Karayana: "Sobatku, apakah kereta telah siap ? Kita akan pergi ke Taman Hiburan untuk melihat tempat yang menyenangkan.  "

"Baik, Tuanku" jawabnya.  Ketika kereta istana sudah siap dia memberitahukannya kepada raja: "Tuanku, kereta telah siap.  Sekarang saatnya untuk melakukan seperti yang Tuan kehendaki.'

3. Kemudian, Raja Pasenadi menaiki keretanya dan pergi dari Nangaraka dengan penuh kebesaran. dia berjalan terus menuju Taman.  Beliau melakukannya sejauh perjalanan tersebut cocok untuk kereta, kemudian turun dari keretanya dan berjalan kaki.

4. Ketika ia berjalan dan berkeliling di Taman, beliau melihat akar-akar pohon yang menimbulkan kepercayaan dan keyakinan pada dirinya yang tenang dan tidak diganggu oleh suara-suara, dengan udara yang segar tempat seorang dapat mengasingkan diri dari masyarakat, baik untuk menyepi.  Suasana seperti itu mengingatkan ia kembali pada Sang Bhagava:

SANTHAVA-JATAKA


No.162

SANTHAVA-JATAKA

"Tak ada adalah lebih buruk ..." - Kisah ini diceritakan oleh sang Guru saat bertempat tinggal di Jetavana, tentang pemujaan api suci. Masalahnya sama seperti kelahiran Nanguttha yang dimaksud di atas. 

1. Para Bhikkhu, setelah mengamati kaum pemuja api, berkata kepada Yang Terberkahi, "Yang Mulia, ada petapa berambut jambul yang mempraktikkan segala macam pertapaan sesat. Apakah kebaikannya?" "Tak ada kebaikannya," kata Sang Guru. "Sebelumnya, para orang bijak pun berpendapat ada beberapa kebaikan dalam pemujaan api suci, tapi setelah melaksanakannya sekian lama, menyadari bahwa tiada kebaikannya, dan telah memadamkannya dengan air, dan memberes-bereskannya dengan kayu, tak pernah memandangnya begitu perlu sejak itu." Lalu Beliau menceritakan mereka kisahnya.

Danthabhumi Sutta


DANTABHUMI SUTTA
(125)
 
1.         Demikian telah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava menetap di Rajagaha
di   Vihara Veluvana, di Tempat Memberi Makan tupai-tupai.

2.       Pada saat itu Samanera Aciravata tinggal dalam gubuk di hutan.  Kemudian, ketika Pangeran Jayasena sedang berjalan-jalan sebagai latihan, ia menemui Samanera Aciravata dan memberikan hormat kepadanya, dan setelah tegur sapa menghormat dan ramah itu diucapkan, duduklah ia di satu sisi.  Setelah duduk, ia berkata: "Aggivessana, aku telah mendengar hal ini:

pengertian KSITIGARBHA BODHISATTVA (TI CHANG WANG PHU SA)


KSITIGARBHA BODHISATTVA
(TI CHANG WANG PHU SA)
Ksitigarbha dalam bahasa Sansekerta (क्षितिगर्भ Kitigarbha) dikenal dalam Buddhisme di Asia Timur sebagai seorang Bodhisattva Mahasattva, biasanya merupakan seorang Bhikkhu. Namanya dapat diartikan sebagai "Bendahara Bumi", "Simpanan Bumi", atau "Rahim Bumi." Ksitigarbha terkenal dengan sumpahnya guna mengambil alih tanggung jawab atas perintah kepada seluruh mahluk di enam dunia, pada masa antara kematian Buddha Gautama (Shakyamuni) dan kebangkitan Buddha Maitreya, juga akan sumpahnya untuk tidak mencapai pencerahan hingga seluruh neraka menjadi kosong. Oleh karena itu ia seringkali dianggap sebagai Bodhisattva akan mahluk-mahluk neraka. Biasanya ia digambarkan sebagai seorang bhikkhu dengan lingkaran cahaya mengelilingi kepalanya yang tercukur bersih, ia membawa tongkat untuk membuka paksa gerbang neraka danpermata pengabul permohonan untuk menerangi kegelapan.
            Pada saat itu, Sang Buddha mengangkat tangan emas-Nya dan menyentuh kepala Ksitigarbha Bodhisattva seraya bersabda:

pengertian vinayakamma serta pembahasannya


A.    Pengertian Vinaya Kamma
Vinaya Pitaka merupakan bagian pertama dari tiga bagian Tripitaka (kitab suci agama Buddha). Bagian ini berisi hal-hal yang berkenaan dengan peraturan-peraturan bagi para bhikkhu dan bhikkhuni. Jika peraturan peraturan tersebut dilanggar maka akan mengakibatkan apatti. Di dalam pelanggaran tersebut para bhikkhu harus paham mengenai vinayakamma. Didalam vinayakamma membahas tentang cara pengakuan apatti dan cara bagai mana seorang bhikkhu dalam mengambil sebuah keputusan (adhitthana).
B.     Cara Pengakuan Apatti
Di antara pelanggaran yang dilakukan oleh para bhikkhu terdapat satu jenis apatti yang tidak dapat diperbaiki lagi, yaitu parajika. Seorang bhikkhu yang telah melakukan parajika maka ia harus mengakui bahhwa ia telah melakukan pelanggaran dan kemudian meninggalkan kebhikkhuannya sesuai dengan masing-masing apatti. Cara untuk menyelesaikan majjhimapatti (kesalahan menengah) yaitu sangha-disesa, bhikkhu yang melakukan sangha-disesa tidak dapat membersihkan dirinya dari kesalahan tanpa bantuan bhikkhu lain yang mengerti tentang hal itu.
            Seorang bhikkhu yang telah melakukan pelanggaran dan kemudian telah menutup-nutupi perbuatannya tersebut baik dirinya sendiri maupun orang lain disebut alajji (tanpa malu), oleh sebab itu para bhikkhu tidak boleh melanggar batas-batas apatti dan jika melanggarnya maka mereka harus mengakuinya. Cara untuk melakukan lahukapatti adalah dengan mengakui kesalahan dihadapan bhikkhu lain, metode kesalahan tersebut terdapat dalam vinaya bagian uphosathakkandaka dari mahavagga.
Seorang bhikkhu yang telah melakukan apatti harus pergi ke bhikkhu lain dengan mengenakan jubah yang menutup bahu kiri, kemudian berjongkok dan bersikap anjali sambil berkata “aham avuso itthannamam apattim apanno tam pattidesemi (teman yang mulia, setelah melakukan pelanggaran aku mengakuinya)”.
Kemudian bhikkhu yang menerima pengakuan tersebut harus berkata “passasi (apakah kau melihatnya?)
Bhikkhu yang mengaku menjawab : ama passami (ya, aku melihatnya)
Bhikkhu penerima berkata : ayatim sanvareyyasi (kamu harus mengendalikan dirimu di waktu yang akan datang)
Dengan mengucapkan kata-kata demikian maka bhikkhu tersebut telah bersih dari apatti, dan apabila bhikkhu ragu-ragu dengan beberapa apatti maka ia harus mengucapkan sebagai berikut :
“aham avuso itthannamaya apatti vematiko yada
Nibbematiko bhavissami tada tam apattim patikkarissami
(teman yang mulia, saya meragukan tentang pelanggaran (nama apatti) tetapi ketika aku terbebas dari keragu-raguan itu, maka saya akan merubah apatti tersebut).
Menurut metode di atas maka apatti tersebut harus diakui ditempat tinggal seorang bhikkhu, kemudian ia harus memilih penerima pengakuan yang tinggal bersamanya dalam satu vihara dan dilarang melakukan pengakuan dihadapan bhikkhu yang tidak satu tempat dengannya. Di dalam mahavibbhanga, disebutkan bahwa jika terjadi seorang bhikkhu yang menghilangkan barang-barang milik sangha, maka bhikkhu yang melakukan nisagiya harus datang kesangha dengan mengenakan jubah yang menutup bahu kiri dan jongkok bersikap anjali sambil mengucapkan kata-kata penyia-nyiaan barang milik sangha sesuai dengan formula yang telah dilakukan dan mengakui apatti. Dengan cara demikian penyia-nyiaan milik sangha telah diketahui, pengakuan ini dilakukan diluar dari hattahapasa sangha, namun jika sebuah formula telah di buat didalam atthakatha yang menjadi kata-kata untuk menetapkan seorang bhikkhu agar menerima apati, sebagai berikut :
Sunatu me bhante sangho ayam itthannamao bhikkhu apatim sarati vivarati udanikaroti deseti yadi sanghassa pattakallam aham atthannamassa bhikkuno apatim patigganheyyam. (teman yang mulia biarkan sangha mendengarkan saya ini, bhikkhu ini “nama” ingat, mengungkapkan, menjelaskan dan mengumumkan apatti dari dirinya, apabila ada kesedihan penuh dari sangha, saya harus memberitahukan apatti dari bhikkhu “nama” . Dengan cara demikian maka apatti telah diakui dan diberitahukan didalam sangha.
Seorang bhikkhu harus mengakui satu pacittiya apatti dan mengakuinya ditempat kediaman seorang bhikkhu yang lebih yunior daripadanya, maka ia harus berkata “Aham avuso pacittiyam apattim apanno tam patidesemi” dan kemudian seorang bhikkhu yang menerima pengakuan berkata “passatha bhante”, pengaku menjawab “aham avuso passami”, penerima pengakuan berkata “ayatim bhante sanvareyyatha.
Apabila apati yang dilanggar memiliki dasar sama, misalnya mempunyai banyak jubah ekstra lebih dari sepuluh hari adalah satu nissagiya pacittiya bagi setiap jubahnya. Mereka disebut apatti yang memiliki dasar sama dan nama sama. Apatti ini dapat diakui bersama-sama pada waktu yang samadengan menggunakan kata sambahula, yang berarti banyak. Seorang bhikkhu boleh mengatakan sebagai berikut :
Aham avuso sambahula nissaggiya pacittiyayo
Apattiyo apanno ta patidesemi
Untuk  apati yang melibatkan dua hal, maka harus menggunakan kata dve=dua sebagai pengganti dari sambahula, tetapi apabila terdapat dua atau lebih kasus maka sambahula harus  dipakai. Kemudian apatti yang sama namanya tetapi mempunyai dasar yang berbeda seperti dukkata, dan tidak menghindari hal yang tidak pantas untuk dilihat, kemudian dalam keadaan tidak sakit memakai payung memasuki daerah pemukiman, duduk diatas sofa yang di isi dengan kapuk, semua adalah apatti dukkata, tetapi masing-masing apati mempunyai dasar yang berbeda. Semua apatti ini dapat diakui bersama-sama pada waktu yang sama dengan menggunakan kata “nanavatthukayo” yang artinya dengan dasar berbeda.
Apabila hanya dua dasar yang dilampaui dan jumlah apattinya juga hanya ada dua, maka kata-kata yang yang digunakan adalah dve nana-vatthukayo. Apabila apati lebih dari itu, maka kata-kata yang harus dipakai adalah “sambahula nanavathukayo”. Walaupun apatti dubbhasita (ucapan salah) timbul dari berbagai ejekan ,olok-olokan, namun dikatakan mempunyai dasar yang sama dan tidak timbul dari dasar-dasar berbeda, maka oleh karena itu ia harus diakui sebanyak apatti yang mempunyai dasar sama.
Dalam hal pengakuan apatti yang tidak jelas, maka bhikkhu yang mengaku bersalah itu harus menceritakan dasarnya (sifat dari pelanggarannya) kepada penerima pengakuan, tetapi ada larangan untuk mengakui dan memberitahukan kepada bhikkhu-bhikkhu yang membuat kesalahan yang sama (sabhagapatti). Oleh karena itu sebaiknya menceritakan dasar apatti kepada bhikkhu lain, kecuali seorang bhikkhu mengakui apatti di tempat tinggal dari seorang bhikkhu yang barusaja selesai mengakui apatti.
Apabila apatti dengan dasar yang sama dilanggar oleh dua orang bhikkhu atau lebih maka disebut sabhagapatti (apati dari jenis yang sama), dan apati tersebut harus diakui ditempat kediaman bhikkhu lain . dan apabila seluruh bhikkhu mempunyai subbhagapatti, maka seorang bhikkhu diharuskan mengakuinya dimana saja sedangkan sisanya harus mengakui ditempat tinggalnya , atau mengakui satu persatu kepada yang lain (yang sudah mengadakan pengakuan). Apabila bhikkhu tersebut dapat melakukannya, maka hal itu merupakan sesuatu yang baik, bila tidak dapat demikian maka ia harus melakukannya pada hari uposatha kepada sangha.  Sekali pengumuman ini diumumkan maka uposatha dapat dilaksanakan . apabila disana terdapat bhikkhu-bhikkhu yang telah mengakui dan memberitahukan sabhagapatti bersama-sama dan menganggap seolah-olah apatti tersebut telah diakui,. Maka hal tersebut adalah dukkata baik bagi pengaku kesalahan maupun penerima pengakuan.
Apatti itu harus diakui sesuai dengan nama, dasar dan jumlahnya. Pengakuan terhadap apatti dengan menggunakan nama yang salah tidak boleh dilakukan. Apabila terdapat kesalahan mengenai dasar dan jumlahnya, melakukan banyak apatti dan mengakui sedikit saja,maka hal ini tidak boleh dilakukan. Tetapi sedikit melakukan apatti dan mengakui seperti banyak apatti boleh dilakukan.
Apatti dengan nama-nama berbeda tidak dapat secara kolektif diakui dalam waktu yang sama. Para bhikkhu harus mengakuinya satu per-satudan dilarang banyak bhkkhu secara bersama-sama (pada waktu yang bersamaan) untuk mengakui apatti di tempat kediaman seorang bhikkhu. Hal ini tidak boleh dilakukan karena apatti yang dilakukan para b hikkhu tidak sama. Dan dilarang untuk mengaku di tempat kediaman dari empat atau lima orang bhikkhu yang tinggal di luar sima. Ini berarti bahwa tempat itu tidak dapat dibuat sebagai tempat Sanghakamma.
Nama-nama dari apatti tunggal yang harus diucapkan demikian: thullaccaya apattim nissaggiya pacittiyam apattim, pacittiyam apattim, dukkhatam, apattim dan dubbhasitam apattim menurut apatti. Apabila terdapat banyak apatti ia harus dikatakan sebagai berikut: thullaccayo apattiyo. Dan kata-kata dve atau sambahula bag apatti yang mempunyai satu dasar dan tambahkan nanavatthukayo bagi dasar-dasar yang berbeda itu. Apabila disebut Patidesaniya (yang harus diakui) mempunyai kata-kata jelas yang diberikan untuk pengakuannya dalam naskah dari Patimokkha. Gerayham avuso dhammam apajjim asappayam patidesaniyam tatidemi. Artinya “teman yang mulia saya telah melakukan perbuatan yang patut disalahkan yang tidak biasa dan harus diakui kesalahannya. Untuk itu saya mengakuinya”.
Seorang bhikkhu yang melakukan apatti tetapi tidak mengakuinya dalam bahasa vinaya disebut sebagai “seorang yang tidak melihat apatti” atau ia mengaku telah melakukan apatti dan tidak melakukan pengakuan maka ia dinamakan “seorang yang tidak melakukan perbaikan”. Dalam kedua dasarini Sang Buddha memperkenankan Sangha untuk ikut campur dalam menjatuhkan hukuman ikkhepaniya-kamma.
Bhikkhu seperti itu dihalang-halangi dari samvasa, makan dan tidur bersama-sama dengan bhikkhu lain. Bhikkhu itu disebut “ukkhitako”, yang artinya “seorang yang ditinggalkan diluar sangha”. Apabila ada seorang bhikkhu yang berhubungan dengan bhikkhu tersebut maka ia melakukan pacittiya menurut eraturan latihan kesembilan dari sappanavagga dalam pacittiya.
Apabila bhikkhu itu mengakuinya atau melihat pelanggarannya sebagai suatu apatti atau ia berkeinginan untuk membuat perbaikan-perbaikan. Sangha dapat membuat suatu pengumuman untuk mengakhiri ukkhepaniya-kamma tersebut, sehingga ia diperbolehkan masuk dalam anggota Sangha sebagaimana sebelumnya.

C.    Mengambil Keputusan (Adhitthana)
Seorang bhikkhu dibolehkan untuk memiliki beberapa alat-alat kebutuhan sebagai milik pribadi, namun tidak dibolehkan untuk mempunyai lebih dari jumlah yang diperbolehkan atau lebih lama dari batas waktu yang ditentukan. Apabila seorang bhikkhu ingin menyimpan alat-alat keperluan sebagai milik pribadi, ia harus membuat adhitthana (ketetapan hati atau tekad) tehadap alat keperluan mereka.
Alat keperluan itu harus disebutkan namanya saat melakukan adhitthana, misalnya: sanghati, uttarasanga, anataravasaka yang secara kolektif disebut tiga jubah. Dalam setiap membuat adhitthana harus menyebutkan satu nama yang sesuai untuk masing-masing alat kebutuhan tersebut. Seorang bhikkhu hanya boleh memiliki satu mangkok, maka aditthana hanya untuk satu mangkok yang dipakai.
Sehelai kain untuk duduk (nisidana) dapat melakukan adhitthana sepeti diatas. Kain alas tidur (paccattharana), kain untuk memersihkan muka dan mulut (mukhapunchana), kain unuk menyaring air, tas untuk mangkok, tas bahu, kain pembungkus disebut sebagai