Senin, 21 Oktober 2013

dhammapadaattakhata VIDUDABHA VATTHU

1.                  VIDUDABHA VATTHU

Walaupun seseorang mengumpul bunga-bungaan ....” Uraian dhamma ini dibabarkan Guru ketika Beliau tinggal di Savatthi sehubungan dengan Vidudabha bersama pasukannya, yang diterjang dan terseret banjir besar hingga semuanya meninggal.

Di Savatthi hidup Pangeran Pasenadi, putra raja Kosala; di Vesali hidup Pangeran Mahali, keturunan Licchavi; di Kusinara ada Pangeran Bandula, putra raja Malla. Tiga pangeran ini belajar pada seorang guru terkenal di Takkasila. Ketika bertemu di sebuah rumah peristirahatan di luar kota, mereka saling bertanya tentang tujuan kedatangan, keluarga serta nama, dan menjadi teman. Mereka belajar pada guru yang sama pada waktu yang bersamaan, dan tak lama kemudian mereka telah menguasai berbagai macam ilmu, mereka mohon diri dari guru, berangkat bersama pulang ke masing-masing kerajaan.
Pangeran Pasenadi sangat mengembirakan ayahnya dengan mempertunjukkan berbagai macam keahlian yang dimilikinya sehingga ayahnya menotbatkannya menjadi raja.
Pangeran Mahali membaktikan dirinya pada tugas mendidik para pangeran Licchavi, namun karena terlalu bekerja keras, ia menjadi buta. Karena itu, para pangeran Licchavi berkata: “Sial! Guru kita telah buta. Kita tidak akan mengusirnya, namun kita harus membantunya dengan baik.” Selanjutnya mereka memberikan sebuah gerbang (pembsayaran pajak) seharga 100.000 kahapana. Ia tinggal di dekat gerbang ini, dan mengajar berbagai ilmu kepada 500 pangeran Licchavi.
Sedangkan bagi Pangeran Bandhula, para pangeran Malla mengikat batangan-batangan bambu dalam ikatan-ikatan yang masing-masing terdiri dari 60 batang, dan menyelipkan sebatang besi tipis ke dalam setiap ikatan bambu, mengangkat ikatan-ikatan batangan nya ke atas, dan menantang Bandula untuk memotongnya. Bandula meloncat ke udara setinggi 80 hasta dan menebas ikatan-ikatan itu dengan pedangnya. Karena mendengar suara bunyi besi pada ikatan terakhir, ia bertanya: “Apa itu?” Ketika ia diberitahukan bahwa sebatang besi tipis diselipkan dalam setiap ikatan, ia melempar pedangnya dan menangis dengan berkata: “Mereka semua adalah kerabatku dan temanku, namun tidak ada seorang pun dari mereka yang mau memberitahukan hal ini. Sebab, bilamana saya mengetahuinya, saya akan menebas ikatan-ikatan itu tanpa menyebabkan bunyi besi.” Lalu ia berkata kepada ayah dan ibunya: “Saya akan membunuh semua pangeran ini dan menguasai kerajaan.” Mereka menjawab: “”Nak, tahta diwariskan dari ayah ke putranya, maka dengan demikian tidak mungkin bagimu melakukan hal ini.” Dengan berbagai macam cara mereka membujuknya untuk tidak melaksanakan apa yang ia rencanakan, akhirnya ia berkata: “Baiklah, saya akan pergi dan tinggal dengan sahabatku,” dan ia berangkat ke Savatthi.
Raja Pasenadi mendapat informasi bahwa Bandula datang, maka ia segera pergi mengangkatnya menjadi panglima tertinggi tentaranya. Bandula mengajak ayah dan ibunya untuk tinggal di kota Savatthi.
Pada suatu hari, sementara raja berdiri diteras dan melihat ke jalan di bawah, ia melihat beberapa ribu bhikkhu yang melalui jalan dalam perjalanan mereka untuk makan pagi di rumah Anathapindika, Culla Anathapindika, Visakha dan Suppavasa. “Ke mana para bhikkhu itu pergi,” tanya raja. “Maha Raja, setiap hari 2000 bhikkhu pergi ke rumah Anathapindika untuk mendapat makanan, obat-obatan dlll.; 500 bhikkhu ke rumah Culla Anathapindika; jumlah yang sama juga pergi ke rumah Visakha dan Suppavasa.” Raja pun berkeinginan untuk melayani sangha bhikkhu, maka ia pergi ke vihara, lalu mengundang Guru dan ribuan siswanya untuk makan di istananya. Selama tujuh hari ia memberikan dana kepada Guru, pada hari ke tujuh ia memberikan hormat dan berkata: Sejak hari ini Bhante dengan 500 bhikkhu secara tetap datang makan di istanaku.” “Maha Raja, para Buddha tidak pernah menerima makanan secara tetap di satu tempat; manyak orang menginginkan kedatang para Buddha.” “Baiklah, kirim seorang bhikkhu secara tetap.” Guru menunjuk Bhikkhu Ananda melaksanakan tugas ini.

Ketika sangha bhikkhu bhikkhu, raja mengambil patta mereka dan selama tujuh hari secara pribadi ia melayani mereka, tanpa mengizinkan orang lain membentunya. Pada hari ke delapan raja menderita pusing dan lalai melaksanakan tugasnya. Para bhikkhu saling berkata: “Di istana raja tidak ada seorang pun yang meyediakan tampat duduk bagi para bhikkhu dan melayani mereka tanpa ia diperintahkan untuk melakukannya. Dengan demikian tidak mungkin bagi kita untuk tetap berada di sini lebih lama lagi.” Selanjutnya mereka pergi. Pada hari berikutnya juga raja melalaikan tugasnya, maka banyak bhikkhu yang pergi. Demikian pula pada hari ke tiga raja melalaikan tugasnya, akibatnya semua bhikkhu yang tersisa kecuali Bhikkhu Ananda yang tetap tinggal.
Mereka yang sungguh-sungguh mengikuti kebenaran muncul melampaui di lingkungannya dan menjaga kepercayaan umat berkeluarga. Tathagata memiliki dua orang siswa utama, yaitu: Sariputta Thera dan Moggallana Thera; dua siswi utama, yaitu Khema dan Uppalavanna. Diantara umat awam ada dua upasaka utama, yaitu: Citta dan Hatthaka Alavaka; sedangkan dua upasika utama adalah Velukanthaki Nandamata dan Kujjutara. Singkatnya, semua siswa mulai dari 8 orang ini, telah melakukan Tekad Kuat untuk memenuhi Sepuluh Paramita, dan telah memiliki banyak pahala. Demikian pula denganm Ananda Thera, ia telah membuat Tekad Kuat, telah memenuhi 10 Paramita selama 100.000 kappa, dengan demikian telah memiliki maha pahala. (mahapunna). Begitulah Ananda Thera yang muncul melampaui lingkungannya, tetap tinggal untuk menjaga kepercayaan orang-orang istana. Sehingga mereka menyiapkan tenpat duduk untuk bhikkhu Ananda dan melayani beliau.
Ketika para bhikkhu telah berlalu, raja tiba dan memperhatikan bahwa makanan yang keras dan lunak belum tersentuh, ia bertanya: “Apakah para bhikkhu yang mulia tidak datang?” “Hanya Ananda Thera seorang yang datang, Raja.” “Lihat, berapa kerugian yang mereka sebabkan,” kata raja. Karena mara kepada para bhikkhu, ia pergi menemui Guru dan berkata: “Bhante, saya menyediakan makanan untuk 500 bhikkhu, namun nampaknya hanya Ananda Thera seorang yang datang. Makanan yang telah disediakan di sana tidak tersentuh, dan para bhikkhu tidak menunjukkan tanda-tanda akan datang ke istanaku. Mohon, apakah alasannya?” Guru, tidak mempersalahkan para bhikkhu, menjawab: “Maha Raja, para siswaku kurang percaya kepada anda; tentu alasan ini yang menyebabkan hal itu terjadi.” Beliau mensehati para bhikkhu dan meletakkan persyaratan bagi para bhikkhu untuk tidak harus mengunjungi para umat, dan persyaratan bagi para bhikkhu untuk mengunjungi para umat, beliau membabarkan Sutta (Anguttara N. iv. 387 – 388):
“Para bhikkhu, ada 9 syarat bagi para umat yang tidak pantas dikunjungi olah para bhikkhu. Dengan demikian, bilamana para bhikkhu tidak mengunjungi umat, maka mereka tidak diharuskan mengunjungi umat itu; namun jika mereka sedang mengunjunginya, mereka tidak ada pantas untuk duduk. Apakah 9 syarat itu? Mereka tidak menyambut para bhikkhu dengan cara yang sopan; mereka tidak menghormat dengan cara yang sopan; mereka tidak mempersilahkan duduk dengan cara yang sopan; mereka menyembunyikan milik (harta) mereka; memiliki banyak, tetapi memberi sedikit; memiliki makanan yang baik, namun memberikan makanan yang kurang baik; mereka memberikan dana dengan cara yang tidak sopan; mereka tidak duduk untuk mendengar dhamma; mereka tidak berbicara dengan sopan. Para bhikkhu, inilah 9 syarat yang dimiliki oleh umat yang tidak pantas dikunjungi oleh para bhikkhu. Itulah sebabnya, bilamana para bhikkhu tidak mengunjungi umat itu, maka mereka tidak pantas untuk mengunjungi umat itu; namun jika mereka sedang mengunjunginya, mereka tidak ada pantas untuk duduk.
Para bhikkhu, sebaliknya ada 9 syarat para umat yang pantas dikunjungi oleh para bhikkhu. Maka bilamana para bhikkhu belum mengunjungi umat itu, mereka pantas untuk mengunjunginya; dan jika mereka mengunjunginya, mereka pantas untuk duduk. Apakah 9 syarat itu? Mereka menyambut para bhikkhu dengan cara yang sopan; mereka menghormat dengan cara yang sopan; mereka mempersilahkan duduk dengan cara yang sopan; mereka memperlihatkan milik mereka; memiliki banyak dan memberi banyak; memiliki makanan yang baik dan memberikan makan yang baik; memberikan dana dengan cara yang sopan; mereka duduk mendengar dhamma; mereka berbicara dengan sopan. Para bhikkhu, inilah 9 syarat yang dimiliki umat yang pantas dikunjungi oleh para bhikkhu. Itulah sebabnya, bilamana para bhikkhu belum mengunjungi umat itu, maka mereka pantas mengunjungi umat itu, jika mereka mengunjunginya, mereka pantas untuk duduk.
“Maharaja, berdasarkan hal inilah para siswaku kurang kepercayaan kepada anda; pasti karena hal inilah mereka tidak datang. Demikian pula yang dilakukan oleh para bijaksana pada masa lampau yang tinggal di sebuah tempat yang tidak sesuai dengan kepercayaan mereka; dan walaupun mereka dilayani dengan sopan, mereka merasakan penderita kematian, sehingga mereka pergi ke tempat di mana sesuai dengan kepercayaan mereka.” “kapan itu terjadi,” tanya Raja. Untuk itu Guru menceritakan hal berikut ini.
Cerita yang lampau.
Kesava, Kappa, Narada, dan Raja Baranasi
Pada masa yang lalu, ketika Raja Brahmadatta berkuasa di baranasi, seorang raja bernama Kesava meletakkan tahtanya, meninggalkan kehidupan dunikawi menjadi petapa; 500 pembantunya mengikuti jejaknya menjadi petapa. Sejak itu mantan raja dikenal sebagai petapa Kesava. Begitu pula, Kappa, penjaga permata kerajaan menjadi petapa sebagi murid Kesava. Petapa Kesava bersama para pengikutnya tinggal di pedalaman Himalaya selama 8 bulan. Pada masa musim hujan ia datang ke Baranasi untuk mendapat garam, cuka dan makan. Raja sangat gembira menemuinya, raja mendapat janji dari petapa akan tinggal bersamanya selama 4 bulan musim hujan, raja menyiapkan tempat tinggal di taman, dan menemuinya setiap pagi dan malam. Para petapa yang lain, setelah tinggal di situ selama beberapa hari merasa terganggu oleh suara-suara gajah dan binatang lainnya sehingga mereka merasa tidak puas, lalu mereka pergi menemui Kesava dan berkata: “Guru, kami tidak bahagia, maka kami akan pergi.” “Ke mana kamu sekalian akan pergi, saudara-saudara?” “Ke pedalaman Himalaya, Guru.” “Pada akhari kita tiba di sini, raja mendapat janji kita untuk tinggal selama 4 bulan musim hujan. Bagaimana dapat kita pergi, saudara-saudara?” “Guru tidak menjelaskan kepada kami tentang janji yang guru katakan kepada raja; kami tidak dapat tinggal di sini lebih lama lagi. Kami akan tinggal tidak jauh dari sini, agar kami dapat berita dari Guru.” Demikianlah mereka memberikan hormat kepadanya dan berangkat, akhirnya hanya Guru dan muridnya Kappa yang tertinggal.
Ketika raja datang menemui mereka, ia bertanya: “Ke manakan para petapa mulia pergi?” “Mereka mengatakan bahwa mereka tidak puas dan tidak bahagia, maka mereka pergi ke pedalaman Himalaya, Maha raja.” Tidak lama kemudian Kappa pun menjadi tidak puas. Walaupun Guru membujuknya berkali-kali agar tidak meninggalkannya, namun ia bersikeras bahwa ia tidak tahan lagi. Maka ia pergi mengikuti yang lain dan tinggal di tempat yang tidak terlalu jauh, agar ia (dengan mudah) dapat berita tentang Guru.
Guru sering memikirkan para muridnya, dan setelah beberapa waktu kemudian ia mulai menderita sakit dalam. Raja memerintahkan dokter untuk mengobatinya, namun kesehatannya tidak ada perbaikan. Akhirnya petapa berkata kepada raja: “Maha raja, apakah anda ingin saya sembuh?” “Bhante, jika mungkin, saya akan menyembuhkanmu pada saat ini juga.” “Maha raja, jika raja ingin saya sembuh, maka antas saya menemui para muridku.” “Baiklah, petapa,” jawab raja. Maka raja menidurkan petapa pada sebuah usungan dan memerintahkan 4 menterinya yang dipimpi oleh Narada membawa petapa kepada para muridnya, dengan berkata: “Perhatikan bagaimana kesehatan petapa dan kabarkan padaku.”
Petapa Kappa mendapat berita bahwa Guru datang, maka ia pergi menemuinya. “Ke mana yang lain?” tanya petapa Kesava, “Mereka tinggal di tempat anu dan itu,” jawab Kappa. Ketika para petapa yang lain mendengar bahwa Guru mereka telah tiba, mereka berkumpul, menyediakan air hangat untuk guru dan memberikan kepadanya berbagai macam buah-buahan. Pada saat itu juga petapa sembuh dari sakitnya; dan dalam beberapa hari saja penempilan tubuhnya yang keemasan nampak. Narada bertanya kepada petapa:
“Setelah makan nasi dari padi gunung yang murni, dimasak dengan kaldu daging, bagaimana mungkin anda menyukai nasi dari pepadian kasar dan tanpa garam?”
“Apakah makanan itu enak atau tidak, sedikit atau banyak, namun bilamana seseorang makan itu dengan penuh kepercayaan, maka kepercayaan itu yang sangat menyenangkan.”
Ketika Guru seleasai menguraikan ajarannya, beliau mengidentifikasikan pemeran-pemeran yang ada dalam Jataja tersebut sebagai berikut: “Apada masa itu raja adalah Moggallana, sedangkan Narada adalah Sariputta, petapa Kesava adalah saya sendiri, Kappa adalah Ananda. Jadi Maha raja, di masa yang mapau pun para bijaksana mengalami penderitaan kematian dan pergi ke tempat yang sesuai dengan kepercaan mereka. Para muridku kurang kepercayaannya kepada anda, Saya tak ragu untuk hal ini.”
Demikianlah cerita yang lampau.
Raja berpikir: “Saya harus memenangkan kepercayaan dari bhikkhu sangha. Apa yang paling terbaik saya lakukan? Cara terbaik bagiku adalah mengawini seorang kerabat dari Samma Sambuddha. Dengan cara ini para samanera, bhikkhu baru akan tetap datang ke istanaku dengan berpikir: ‘Raja adalah kerabat Samma Sambuddha.’” Selanjutnya ia mengirim berita kepada para Sakiya, sengan kata-kata: “Berikan seorang anak gadis anda.” Serta memerintahkan para dutanya untuk mengetahui nama orang tua gadis itu dan melapor kepadanya. Para duta berangkat dan meminta seorang gadis Sakiya.
Untuk itu, para Sakiya mengadakan rapat dan mendiskusikan: “Raja adalah musuh kita. Bilamana kita menolak memberikan apa yang ia minta, ia akan membunuh kita. Lagi pula ia tidak sebanding dengan derajad keturunan kita. Apa yang harus kita lakukan?” Mahanama berkata: “Saya memiliki seorang putri bernama Vasabhakhattiya, anak seorang budak-perempuanku, ia seorang gadis yang amat cantik; kami akan memberikan dia kepadanya.” Selanjutnya ia memberikatahukan kepada para duta: “Baiklah, kami akan memberikan seorang gadis kami kepada raja.” “Putri siapa dia?” “Gadis itu adlah putri Mahanama Sakiya, Mahanama adalah putra dari paman Samma Sambuddha. Gadis itu bernama Vasabhakattiya.” Para duta pulang dan melaporkan kepada raja.
Raja berkata: “Jika demikian, baiklah. Segera antar dia kepadaku. Namun para pangeran varna Ksatriya penuh dengan tipu daya; mereka mungkin saja mengirimkan kepadaku seorang gadis anak budak-wanita. Sehubungan dengan hal itu, jangan membawa dia sebelum ia makan semeja bersama dengan ayahnya.” Setelah ia berkata seperti itu, ia mengirm kembali para duta. Mereka menemui Mahanama dan berkata: “Raja, raja (kami) menginginkan Vasabhakhattiya makan bersama anda.” “Baiklah, jawab Mahanama. Ia menyuruh putrinya merias diri dan menemui dia pada waktu makan.
Selanjutnya ia berlagak makan bersama Vasabhakattiya, sesudah itu menyerahkan dia kepada para duta. Para duta mengantar Vasabhakhattiya ke Savatthi dan menceritakan kepada raja apa yang telah terjadi. Raja sangat gembira dan segera menunjuknya sebagai kepala dari 500 wanita dan menyatakan dia sebagai permaisuri utamanya.
Tidak lama kemudian Vasabhakhattiya melahirkan seorang putra, tubuhnya bagaikan emas. Raja sangat senang dan segera memberi kabar kepada neneknya dengan kata-kata: “Vasabhakhattiya, putri raja Sakiya, telah melahirkan seorang putra. Berikan nama untuknya.” Ketika itu, menteri yang menerima dan akan menyampaikan berita kepada nenek raja adalah seorang yang agak tuli. Akibatnya, ketika nenek mendengar berita, dengan nyaring ia berkata: “Sebelum melahirkan anak, Vasabhakhattiya telah disenangi semua orang; apalagi sekarang, ia sangat luar biasa disayang (vallabha) oleh raja.” Menteri yang agak tuli, salah mendengar kata valabha (sayang) menjadi Vidudabha, lalu pergi dan melapor kepada raja: “Namakan Vidudabha kepada pangeran.” Raja mengira bahwa itu pasti salah sebuah nama lama dari keluarga kami, dan memberikan nama Vidudabha kepada bayi. Walaupun ketika ia masih kanak-kanak, raja mengangkat Vidudabha sebagai panglima perang tentaranya, dengan pikiran bahwa hal ini akan menyenangkan Guru.
Vidudabha dibesarkan sebagai pangeran. Ketika ia berusia 7 tahun, ia memper-hatikan bahwa para pangeran lain menerima hadiah boneka-boneka gajah, kuda, dan bentuk-bentuk lain dari para kakek mereka, maka ia bertanya kepada ibunya: “Ibu, para pangeran lain menerima hadiah dari kakek pihak ibu, tetapi tidak ada seorang pun yang mengirimkannya kepada saya. Apakah ibu tidak memiliki ayah dan ibu?” Ibunya menjawab: “Anakku sayang, kakekmu adalah para raja Sakiya, mereka tinggal jauh sekali; itulah sebabnya mereka tidak perbah mengirimkan sesuatu kepadamu.” Begitulah caranya ia membohongi ananknya. Begitu pula, ketika ia terlah berusia 16 tahun, Vidudabha berkata kepada ibunya: “Ibu, saya ingin sekali untuk pergi menemui keluarga ibu, yaitu kakek dari pihak ibu.” Namun Vasabhakhattiya menolak dengan berkata: “Tidak, anakku sayang, apa yang kau akan lakukan di sana?” Bagaimana pun ia menolak. Berulang kali anaknya memohon. Akhirnya ibunya memberikan izin dengan berkata: “Baiklah, engkau dapat pergi.” Ia memberitahukan kepada ayahnya dan berangkat dengan pengikut yang besar. Vasabhakhattiya mengirimkan surat lebih dahulu, dengan berita: “Saya hidup bahagia di sini. Mohon para raja dalam penerimaan tidak memperlakukan saya berbeda.” Ketika para Sakiya mengetahui bahwa Vidudabha sedang dalam perjalanan mendatangi mereka, mereka membicarakan hal ini:”Tidak mungkin bagi kita memberikan hormat kepadanya.” Karena itu mereka menyuruh para pangeran muda ke pedalaman, dan ketika Vidudabha tiba di kota Kapila, mereka berkumpul di gedung peristirahtan kerajaan. Vidudabha tiba berhenti di gedung peristirahatan kerajaan. Mereka berkata kepadanya: “Kawan, ini adalah kakek dari pihak ibumu dan ini pamanmu.” Sementara ia berjalan sambil memberikan hormat kepada mereka semua, ia perhatikan bahwa tidak ada seorang pun yang memberikan hormat kepadanya. Maka ia bertanya: “Mengapa tidak ada seorang pun yang memberikan hormat kepada saya?” Para Sakiya menjawab: “Kawan, para pangeran muda sedang pergi ke pedalaman.” Lalu melayani Vidudabha dengan segala hormat. Setelah berada di sana beberapa hari, ia pulang bersama para pengikutnya yang besar.
Sementara itu, seorang budak-wanita sedang mencuci tempat duduk yang bekas diduduki Vidudabha di gedung peristirahatan kerajaan dengan air dan susu; sedang melakukan pekerjaan itu pembantu ini dengan jelas berkata: “Inilah tempat duduk yang diduduki oleh putra seorang budak-wanita, Vasabhakhattiya!” Ketika itu ada seseorang yang telah melupakan pedangnya kembali untuk mengambilnya, selagi ia mengambil pedang itu, ia mendengar kata-kata pembantu wanita itu tentang pangeran Vidudabha. Ia menanyakan hal itu, dan mendapat informasi bahwa Vasabhakhattiya adalah putri dari budak-wanita dari Mahanama Sakiya. Ia kembali dan memberitahukan hal ini kepada pasukan dengan berkata: “Saya diberitahu bahwa Vasabhakhattiya adalah putri dari budak-wanita.” Segera hal ini menjadi pembicaraan umum. Ketika Vidudabha mengetahui hal ini, ia bersumpah: “Sekarang para Sakiya ini mencuci bebas tempat duduk saya dengan air dan susu; bilamana saya berkuasa di kerajaanku, saya akan mencuci tempat duduk dengan darah leher mereka.”
Setelah pangeran tiba di Savatthi, para menteri menceritakan apa yang telah terjadi. Raja sangat marah kepada Sakiya karena mereka memberikan
kepadanya putri dari seorang budak-wanita, ia mencabut kehormatan kerajaan yang telah diberikan kepada Vasabhakhattiya dan putranya dan menurunkan kedudukan mereka sebagai budak.
Beberapa hari kemudian guru pergi ke istana dan duduk. Raja datang, memberi hormat kepada beliau dan berkata: “Bhante, Saya mendapat informasi bahwa putri seorang budak-wanita yang diberikan kerabat bhante kepada saya. Itulah sebabnya maka saya mencabut kehormatan kerajaan yang telah diberikan kepada dia dan putrnya dan menurunkan kedudukan mereka menjadi budak.” Guru menjawab: “Maha raja, adalah tidak pantas para Sakiya melakukan itu. Bilamana mereka memberikan seorang putri, mereka harus memberikan kepadamu seorang gadis yang sepadan garis keturunannya dengan anda sendiri. Maha raja, tetapi ada sesuatu yang perlu saya katakan kepada anda: ‘Vasabhakhattiya adalah putri seorang raja dan menerima upacara kehormatan di istana raja varna Kesatriya, Vidudabha juga putra seorang raja. Apa pentingnya keluarga dari ibu? Keluarga dari ayahlah yang berhak sebagai ukuran kedudukan sosial. Para bijaksana yang lampaupun memberikan kehormatan permaisuri utama kepada wanita miskin pencari kayu; dan kepada pangeran yang dilahirkannya menjadi raja Baranasi, sebuah kota yang luasnya 12 yojana, yang diberi nama Katthavahana.” Setelah berkata begitu, Beliau menguraikan Katthaharika Jataka (Jataka 7: i. 133-136). Raja mendengar babaran Dhamma Beliau, dan merasa senang dengan pikiran: “Kelurga dari pihak ayahlah yang berhak sebagai ukuran kedudukan sosial,” maka ia mengembalikan kedudukan dan kehormatan ibu dan anak.
Sementara itu, Mallika, putri Mallika dan Bandhula, panglima perang, telah lama tidak memiliki anak. Sehubungan dengan hal itu, Bandhula menyuruhnya pergi dengan berkata: “Pulanglah kepada keluargamu.” Mallika berpikir: “Saya akan menemui Guru sebelum saya pergi.” Selanjutnya ia pergi ke Jetavana, memberikan hormat kepada Tathagata, dan menunggu. “Mau ke mana?” tanya Guru. “Suamiku telah memulangkan saya kepada keluargaku, Bhante.” “Mengapa.” “karena saya mandul, tidak mempunyai anak seorang pun.” “Jikalau ini benar, maka tidak ada alasan bagimu untuk kembali kepada keluargamu. Kembali kepada suamimu.” Dengan riang gembira, ia memberikan hormat kepada Guru dan kembali kepada suaminya. “Mengapa kau kembali,” tanya suaminya. “Saya telah diperintahkan untuk kembali oleh dia yang memiliki Dasabala (Sepuluh kemampuan batin),” jawab Mallika. “Dia Yang Melihay-Jauh pasti telah melihat beberapa alasan,” pikir Bandhula dan menyetujui.
Tidak lama kemudian Mallika hamil, dan mengidam muncul. Ia berkata kepada suaminya: “Mengidam telah muncul.” “Apa yang kau inginkan?” Ia menjawab: “Suamiku, di kota Vesali ada sebuah tangki kolam-teratai (buatan) yang biasa digunakan oleh tentara para pangeran pada upacara pelantikkan raja. Saya ingin masuk ke dalamnya, berenang di dalam nya, dan meminum airnya.” “Baiklah,” kata Bandhula, dan mengambil busur panahnya yang hanya dapat ditarik oleh 1000 orang, ia membantu istrinya menaiki kereta dan berangkat dari Savatthi ke Vesali, memasuki Vesali melalui gerbang yang telah diberikan oleh para Licchavi kepada Pangeran Mahali. Sementara itu pangeran Licchavi, Mahali, tinggal di gedung di samping gerbang; maka ketika ia mendengar gemuruh suara kereta di dekatnya, ia berkata sendiri: “Itu suara kereta Bandhula. Ada kerusuhan yang akan muncul bagi para pangeran Licchavi hari ini.”
Bagian dalam dan luar dari kolam-teratai dijaga dengan ketat, dan kolam itu ditutupi dengan kerangka besi dengan lobang-longan yang sangat kecil sehingga burung pun tidak dapat memasukinya. Namun bandhula, panglima perang, turun dari kereta, memukulkan tombaknya kepada para penjaga, dan mengusir mereka pergi. Ia merusak kerangka besi, masuk ke dalam kolam-teratai, dan membiarkan istrinya mandi di dalamnya. Setelah ia sendiri mandi di situ, ia keluar dari kota dan kembali ke jalan yang sama yang telah dilaluinya.
Para penjaga melaporkan kejadian ini kepada para pangeran Licchavi. Akibatnya para pangeran Licchavi sangat marah, lalu menaiki 500 kereta, berangkat ke luar kota, dengan berkata: Kami akan menangkap Bandhula dan mallika.” Mahali berkata kepada mereka: “Jangan pergi, karena dia akan membunuh kamu sekalian.” Tetapi mereka menjawab: “Kami tetap akan pergi.” “Baiklah, tetapi baliklah bilamana anda sekalian melihat keretanya masuk ke dalam tanah hingga setinggi pinggang. Bilamana pada waktu anda sekalian tidak balik, anda sekalian akan mendengar di depan anda gelegar halilintar.
Anda sekalian pada waktu itu harus segerak balik. Namun bilamana pada saat itu anda belum berbalik arah, anda sekalian akan melihat lobang di bagain depan dari kereta. Berbaliklah, dan jangan maju lagi.” Tetapi bagaimana pun usaha Mahali untuk memperingati mereka, mereka tidak berbalik arah, malahan tetap mengejar Bandhula.
Mallika melihat mereka dan berkata: “Suamiku nampak banyak kereta.” “Baik! Bilamana mereka semua nampaknya hanya bagaikan sebuah kereta saja, katakan padaku.” Demikianlah ketika mereka semua nampak seperti sebuah kereta saja, Mallika berkata: “Mereka nampaknya bagikan kereta yang di depan saja.” “Bagus sekali,” kata Bandhula, “pegang tali kekang ini.” Ia memberikan tali kekang kepada Mallika, ia berdiri di kereta dan mengangkat busurnya. Akibatnya kereta masuk ke dalam tanah setinggi pinggang. Walaupun para pangeran Licchavi melihat kereta Bandhula masuk ke dalam tanah, namun mereka tidak berbalik arah. Setelah beberapa saat kemudian, Bandhula menarik tali busurnya, muncul suara bagaikan gelegar halilintar. Namun demikian para musuhnya tidak berbalik arah, mereka tetap mengejarnya seperti semula. Kemudian Bandhula yang berdiri di atas keretanya, melepaskan sebatang anak panah. Anak panah membuat lobang di depan dan menembus badan semua 500 kereta serta di bagian ‘baju perang ketat’ (korset) mereka dan masuk ke tanah. Tetapi para pangeran Licchavi tidak menyadari bahwa mereka telah ditembusi anak panah, dan berteriak: “Berhenti di mana kamu. Berhenti di mana kamu!” Setelah berkata begitu mereka meneruskan pengejaran. Bandhula menghentikan keretanya dan berkata: “Kamu semua adalah mayat! Saya tidak akan berkelahi melawan mayat.” “Apakah kami nampak seperti mayat?” tanya mereka. “Baiklah,” jawab Bandhula, “lepaskan baju perang ketat dari orang kamu yang terdepan.” Mereka melepaskan gidlenya. Pada saat baju perang ketat dilepaskan orang itu jatuh dan mati. Kemudian Bandhula berkata: “Anda sekalian mempunyai nasib yang sama dengan pemimpinmu. Pulanglah, selesaikan urusan anda sekalian yang perlu diselesaikan, berikan nasehat terakhir kepada para putra dan istri anda sekalian dan lepaskan baju perang anda.” Mereka melakukannya, selanjutnya mereka semua jatuh dan mati. Kemudian bandhula meneruskan perjalanan ke Savatthi.
Enambelas kali Mallika melahirkan putra-putra kembar Bandhula, mereka semua perkasa, dan memiliki kekuatan yang hebat. Mereka semua sempurna dalam beberapa keahlian. Mereka masing-masing memiliki pengikut sebanya 1000 orang; dan ketika mereka mengikuti ayah mereka ke istana, istana dipenuhi oleh kelompok mereka. Pada suatu hari ada beberapa orang yang telah dikalahkan karena tuntutan salah dipengadilan melihat Bandhula mendatangi, dengan suara yang lantang mereka meneriakkan protes kepadanya karena pengadilan yang tidak adil dari para hakim. Karena hal itu Bandhula pergi ke pemngadilan dan menyelesaikan kasus secara bijaksana sesuai kebenaran bagi yang benar. Para penduduk memuji dia dengan teriakan nyaring karena setuju. Raja bertanya: “Apa yang telah terjadi?” Ketika raja mendapat keterangan, ia sangat senang, lalu raja memecat semua hakim, selanjutnya menyerahkan administrai pengadilan kepada bandhula sendiri, dan dialah yang menghakimi semua perkara di pengadilan.
Para hakim yang kehilangan kesempatan menerima sogokkan, membuat perpecahan di antara anggota keluarga istana, dengan berkata: “Bandhula menginginkan tahta kerajaan.” Raja percaya pada kata-kata mereka dan tak sanggup mengendalikan perasaannya. “Namun,” pikirnya, “bilana Bandhula di bunuh disini, saya akan sangat dikritik.” Dalam pikiran yang lain ia memerintahkan beberapa orang untuk membuat kerusuhan di perbatasan negara. Kemudian raja memanggil dan memerintahkan Bandhula
Dengan berkata: “Saya mendapat informasi bahwa di perbatasan ada pemberontakan. Bawa para putramu, pergi dan tangka para pemberontak.” Raja mengirimkan bersama Bandhula sejumlah kesatryanya yang sangat kuat, dengan perintah: “Pancung kepala bandhula dan 32 putranya dan bawa (kepala-kepala) mereka kedaku.” Ketika bandhula mencapai perbatas, dan para pemberontak yang disewa mendengar kedatangan panglima perang, mereka lari. Bandhula menyelesaikan keamanan kerajaan dengan baik, menciptakan kedamain, dan berangkat pulang. Ketika Bandhula mencapai tempat yang tidak jauh dari kota, para kesatrya yang bersamanya menyerang dia dan memancung kepala-kepala bandhula dan anak-anaknya.
Pada hari itu Mallika mengundang mengundang dua Siswa Utama bersama 500 bhikkhu ke rumahnya. Pada pagi itu seseorang membawa surat dan memberikan surat itu kepadanya yang berisi berita: “Kepala suami dan para putra anda telah di penggal.” Ketika ia membaca surat ini, ia tidak berkata sesuatu kepada siapa pun, namun memasukkan surat itu ke dalam lipatan pakaiannya dan meneruskan pelayanan kepada bhikkhu sangha seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi. Sementara itu, terjadi suatu kejadian yakni ketikan pelayannya memberikan makanan kepada para bhikkhu, mereka membawa sebuah tempayan berisi ‘susu yang diragikan’ (ghee) dan tempayan itu jatuh dan pecah di depan para Thera. Pelindung Keyakinan (bhikkhu) berkata: “Tidak perlu diperdulikan kepecahan sesuatu yang mudah pecah.” Karena itu Mallika mengambil surat yang ada dalam lipatan pakaiannya, dan berkata: “Mereka baru saja menyampaikan surat ini, yang berisikan berita: ‘Kepala suami dan para putra anda telah dipenggal.’ Walaupun saya mendapat berita ini, saya tidak bereaksi apa-apa. Maka bagaimana saya akan memperdulikan pecahnya tempayan ini, Bhante?”
Para Pelindung Keyakinan mengucapkan syair (paritta) yang dimulai dengan kata: “Tanpa tanda, tanpa tahu, kematian terjadi di sini,” dan setelah membabarkan dhamma, mereka bangkit dari duduk dan pergi ke vihara. Mallika memanggi 32 menantunya dan menasehati mereka sebagai berikut: “Para suami anda sekalian tidak bersalah dan mereka hanya menerima matangnya buah kamma buruk mereka yang dibuat pada masa yang lampau. Tidak usah bersedih dan meratap. Jangan benci kepadanya.” Mata-mata kerajaan mendengar ucapannya dan pergi melaporkan hal ini kepada raja bahwa mereka tidak membenci raja. Setelah mendengar laporan ini raja diliputi oleh perasaan yang tidak menyenangkan, lalu ia pergi ke rumah Mallika, meminta Mallika bersama para menantunya untuk memaafkannya serta memberikan sebuah “anugerah” (boon) kepada Mallika. “Saya menerimanya,” jawan Mallika.
Setelah raja pergi, ia melaksanakan upacara berduka cita, ia mandi dan pergi menghadap raja, dan berkata: “Maha raja, anda memberikan kepadaku sebuah ‘anugrah’. Saya tidak menginginkan yang lain kecuali hal ini, yakni izinkan saya bersama 32 menantuku untuk kembali ke rumah keluarga kami.” Raja menyetujui, maka Mallika memulangkan 32 menantunya ke keluarga mereka masing-masing, sedangkan ia sendiri pergi ke kota Kusinara, kembali ke rumah keluarganya. Raja mengangkat panglima perang baru yaitu Dighakarayana, kemenakan dari panglima perang Bandhula. Namun Dighakarayana mengeritik raja dengan menyebarkan berita: “Rajalah yang membunun pamanku.”
Sejak pada hari raja membunuh Bandhula yang tak bersalah, ia diliputi kesedihan, pikirannya tidak tenang, dan tidak bersemangat memerintah kerajaan. Ketika itu Guru tinggal di sebuah desa kecil bernama Ulumpa, milik suku Sakiya. Raja pergi ke sana, dan berkemah di tempat yang tidak jauh dari Taman, tempat Guru berada, dan raja berpikir: “Saya akan pergi memberikan hormat kepada Guru,” lalu ia pergi ke vihara, bersama beberapa pengawal. Ia menyerahkan 5 simbol (kekuasaan) kerajaan kepada Dighakarayana, lalu memasuki Gandha Kuti. (Cerita ini sesuai dengan uraian dalam Dhammacetiya Sutta, M.N. 89: ii. 118-125).
Setelah Raja Pasenadi masuk ke Gandha Kuti, Karayana mengambil 5 simbol (kekuasaan) kerajaan dan membuat Vidudabha menjadi raja. Kemudian ia pergi ke Savatthi dengan hanya meninggalkan seorang pelayan wanita bersama seekor kuda untuk Pasenadi. Raja senang bercakap-cakap dengan Guru, setelah itu ia keluar. Ia tidak melihat para pengawal, ia bertanya kepada pelayan, dan dari pelayan itu ia mengetahui apa yang telah terjadi. “Saya akan mengajak kemenakan saya dan menangkap Vidudabha,” kata raja, lalu pergi ke kota Rajagaha. Ketika ia tiba di kota waktu telah larut malam, germabang kota telah di tutup. Kerana kelelahan dan tertimpa matahari dan angin, maka Pasenadi beristirahat dengan berbaring di sebuah rumah peristirahatan, namun ia meninggal pada malam itu. Ketika malam berangsur menjadi pagi, Orang-orang mendengar suara wanita yang menangis dengan berkata: “Raja Kosala, anda telah kehilangan Pelindungmu!” Mereka melaporkan hal ini kepada raja. Untuk itu Vidudabha melakukan upacara kematian untuk Pasenadi dengan penuh kebesaran.
Setelah Vidudabha menjadi raja, ia ingat dendamnya. Ia mendumel sendiri: “Saya akan membunuh para Sakiya,” maka ia berangkat dengan pasukan yang bersar jumlahnya. Pada hari itu Guru sedang memeriksa dunia di sore hari, beliau melihat ada malapetaka kehancuran para para kerabatnya, dan berpikir: “Saya akan melindungi kerabatku.” Beliau pergi pindapata di pagi hari, setalah kembali beliau berbaring dengan posisi seperti singha di Gandha Kuti; dan di sore hari beliau terbang ke angkasa dan duduk di bawah sebuah pohon beringin (Banyan) rindang tidak jauh dari Kapilavatthu yang juga tidak jauh dari perbatasan kerajaan Vidudabha.
            Vidudabha melihat Guru, mendatanginya, memberikan hormat, dan berkata: “Bhante, mengapa pada waktu yang sangat panas ini Bhante duduk di bawah pohon yang rindang ini?” “Maha raja, tidak perlu di perdulikan hal ini. Kerindangan keluargaku membuat saya ingin.” “Guru datang, tentu dengan tujuan untuk melindungi keluarganya,” pikir Vidudabha. Setelah ia memberikan hormat kepada Guru, ia pergi dan pulang ke Savatthi. Guru melayang ke angkasa dan kembali ke Jetavana.
Raja mengingat kembali kebenciannya kepada suku Sakiya, maka ia pergi untuk kedua kalinya, namun karena melihat Guru berada di tempat yang sama, ia pulang. Begitu pula untuk ketiga lainya, ia melihat guru berada pula di tempat yang sama, maka ia berbalik pulang. Namun ketika ia pergi keempat kali, Guru melihat perbuatan-perbuatan lapau para Sakiya dan menyadari bahwa tidak mungkin untuk menghalangi akibat perbuatan jahat yang telah mereka lakukan dengan memasukkan racun ke dalam sungai, maka beliau tidak pergi untuk keempat kali.
Sehingga Vidudabha dengan kekuatan yang besar pergi dengan berkata: “Saya akan membunuh para Sakiya.” Pada waktu itu para kerabat Samma Sambuddha tidak membunuh musuh, malahan mereka rela mati dari pada membunuh orang lain. Maka mereka saling berkata: “Kita terlatih dan ahli; kita ahli dalam memanah dan terbiasa menggunakan busur panjang. Karena salah bila kita membunuh orang lain, kita akan mengusir mereka dengan cara mempertunjukkan keahlian kita.” Selanjutnya mereka mengenakan baju perang mereka, maju ke medang perang dan mulai berperang. Panah-panah yang mereka lepaskan melayang melalui pasukan Vidudabha, melewati antara tameng-tameng mereka dan melalui antara bkuping dan kepala mereka, namun tidak mengenai seorang pun. Ketika Vidudabha melihat panah beterbangan, ia berkata: “Saya mengerti bahwa karena kesombongan para Sakiya mereka mengatakan bahwa mereka tidak membunuh musuh mereka; tetapi nyatanya sekarang mereka membunuh pasukanku.” Salah seorang anggota pasukannya berkata: Tuan, mengapa anda berbalik dan lihatlah keadaan anda?” “Para Sakiya membunuh orang-orang kita.” “Tidak ada seorang pun dari pasukan anda yang mati; mohon silahkan hitung.” Ia menyuruh hitung dan mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang hilang.
Vidudabha membalikkan badannya dan ia berkata kepada pasukannya: “Saya perintahkan kepada anda sekalian untuk membunuh siapa saja yang mengatakan: ‘Kami adalah Sakiya, tetapi selamatkan mereka adalah keluarga Mahanama Sakiya.” Para Sakiya tetap berdiri di tempat mereka dan karena tidak ada lagi sumber lain, maka ada yang memegang daun yang di letakkan diantara giri, sedang yang lain memegang alang-alang (reeds). Pada waktu itu bagi para Sakiya lebih baik mati dari pada mengatakan hal yang tidak benar. Maka ketika mereka di tanya: “Apakah anda Sakiya atau tidak?” Mereka yang memegang daun di antara gigi mereka berkata: “Bukan Saka (peruk tanah) tetapi “rumput’; sedangkan mereka yang memegang alang-alang, berkata: “Bukan saka, tetapi alang-alang.” Kehidupan keluarga Mahanama dapat diselamatkan. Para Sakiya yang memegang rumput di gigi mereka dikenal sebagai Sakiya rumput; sedangkan mereka yang memegang alang-alang dikenal sebagi Sakiya Alang-Alang. Vidudabha membunuh semuanya, tanpa kecuali termasuk anak-anak yang masih menyusu sekalipun. Setelah ia menciptakan sungai darah, ia mencuci tempat duduknya dengan darah dari leher mereka. Demikianlah keturunan Sakiya dilenyapkan oleh Vidudabha.
Vidudabha menangkan Mahanama Sakiya dan berangkat pulang. Ketika sudah waktunya untuk sarapan, Vidudabha berhenti di suatu tempat dan berpikir: “Sekarang saya akan sarapan.” Setelah makanan disiapkan untuknya, ia berkata sendiri: “Saya akan makan bersama kakekku,” dan menyuruh seseorang utuk memanggilnya datang. Pada masa itu anggota dari varna Ksatriya lebih baik mati daripada makan bersama anak-anak dari budak perempuan. Begitulah ketika melihat sebuah danau, ia berkata: “Cucuku sayang, anggota tubuhku kotor, saya mau pergi mandi dulu.” “Baiklah Kakek, pergi dan mandilah.” Mahanama berpikir: “Bilamana saya menolak makan bersamanya, ia akan membunuh saya. Bila demikian, lebih baik saya mati dengan tanganku sendiri.” Setelah melepaskan ikatan rambutanya, ia mengikatkan ujung rambutnya, menempatkan ibu-jarinya pada rambut, dan menyeburkan diri ke air.
Karena kekuatan jasa pahalanya, tempat tinggal para (dewa) Naga menjadi panas. Raja naga , mempertimbangkan hal ini: “Apa artinya hal ini?” pergi menemui Mahanama, mendudukkan dia diatas kepalanya, dan membawanya ke tempat tinggal para Naga. Di sana ia tinggal selama 12 tahun. Sedangkan, ketika Mahanama menyeburkan diri ke air, Vidudabha duduk dan berpikir: Sudah saat nya kakek saya akan datang; sekarang kakakek saya akan datang.” Akhirnya setelah kakeknya telah lama ditunggu dan tidak muncul, ia berpikir dan menyuruh orang untuk mencari kakakeknya dengan menggunakan lampu, termasuk memeriksa di dalam pakaian para pasukannya. Namun karena tidak menemukan kakeknya di mana pun, ia berpendapat: “Ia telah pergi,” selanjutnya ia berangkat.
Dalam perjalanannya ia kemalaman, Vidudabha sampai di sungai Aciravati dan berkemah di situ. Di antara pasukannya ada yang berbaring di atas pasir dari dari sungai yang kering, ada yang berbaring di tepi sungai pada tanah yang keras. Sementara itu mereka yang berbaring pada sungai yang kering tidak melakukan perbuatan yang salah pada banyak kehidupan yang lampau, sedangkan mereka yang berbaring pada tanah keras di tepi sungai telah berbuat perbuatan salah pada banyak kehidupan yang lampau. Terjadi kejadian, banyak semut keluar dari tanah di mana mereka berbaring. Maka mereka bangun dan berkata: “Banyak semut di tempat kami berbaring! Banyak semut di tempat kami berbaring!” Mereka yang tidak melakukan banyak perbuatan jahat pada waktu kehidupan yang lampau bangun dari tempat mereka di sungai yang kering dan berbaring di tanah keras di tepi sungai; sedangkan mereka yang telah melakukan banyak perbuatan salah pada kehidupan yang lampau, turun dan berbaring di sungai yang kering. Pada beberapa saat kemudian badai sangat hebat muncul dan terjadi hujan yang sangat lebat. Banjir memenuhi sungai dan menghanutkan Vidudabha dan pasukannya ke laut, dan mereka semua menjadi makanan ikan dan kura-kura.
Masyarakat (di antaranya para bhikkhu juga) membicarakan hal ini; Pembunuhan para Sakiya adalah tidak pantas. Tidak benar mengatakan: Para Sakiya harus dibunuh,’ pancung dan bunuh mereka.” Guru mendengar pembicaraan mereka dan berkata: “Para bhikkhu, bilamana anda sekalian hanya memperhatikan kehidupan sekarang saja , maka hal itu sangat tidak pantas bahwa para Sakiya mati dengan cara begitu. Bagaimana pun apa yang mereka terima adalah adil, karena mempertimbangkan perbuatan buruk yang telah mereka lakukan pada sebuah kehidupan yang lampau.” “Apakah perbuatan buruk yang telah mereka lakukan pada kehidupan yang lampau, Bhante?” “Pada kehidupan yang lampau mereka berkonspirasi bersama dan melemparkan racun ke dalam sungai.”
Juga pada suatu hari, para bhikkhu melakukan diskusi di Dhammasala: “Vidudabha membunuh semua Sakiya, dan kemudian sebelum keinginan terpenuhi, dia dengan pasukannya hanyut ke laut dan menjadi makanan ikan dan kura-kura.” Guru datang dan bertanya: “Para bhikkhu, apa yang anda sekalian percakapkan dengan berkumpul di sini?” Ketika menceritakan kepadanya, beliau kerkata: “Para bhikkhu, apakah keinginan para makhluk hidup ini terpenuhi, bagaikan banjir besar menyapu desa yang lelap, begitu pula Raja Kematian mempersingkat hidup mereka dan menyempung mereka ke empat lautan penderitaan,” Setelah mengatakan hal itu, beliau mengucapkan syair berikut ini:
Walaupun seseorang sedang mengumpul bunga-bungaan, dengan batinnya diliputi napsu indria, kematian menyeretnya bagaikan banjir besar menghanyutkan sebuah desa yang tertidur.”

Minggu, 20 Oktober 2013

PATHIKAJIVAKA VATTHU
 (Petapa Telanjang Pathika)

“Jangan memperhatikan kesalahan ....” Uraian dhamma ini di sampaikan Guru sehubungan ketika beliau tinggal di Savatthi sehubungan dengan seorang petapa telanjang bernama Pathika.
Diceritakan bahwa di Savatthi, seorang ibu rumah tangga memenuhi kebutuhan seorang petapa telanjang bernama Pathika, ia melayani petapa ini bagaikan mengasuh anaknya sendiri. Para tetangganya yang pergi mendengar dhamma pada Guru kembali dengan memuji kebajikan para Buddha dalam berbagai cara, dengan berkata: “Betapa menariknya ajaran para Buddha!” Ketika ibu ini mendengar para tetangganya memuji seperti ini, ia ingin pergi ke vihara untuk mendengar dhamma. Ia memberitahukan hal ini kepada petapa telanjang dengan bekata: “Petapa yang terhormat, saya ingin pergi mendengar dhamma Sang Buddha.” Namun, walaupun berulang-ulang kali ia mengatakan hal ini, petapa membujuknya untuk tidak pergi, dengan berkata: “Jangan pergi.” Ibu ini berpikir: “Karena petapa ini tidak menyetujui saya pergi ke vihara untuk mendengar dhamma, saya akan mengundang Guru ke rumah ku dan mendengar beliau membabarkan dhamma di sini.
Selanjutnya, di malam hari, ia menyuruh putranya untuk menemui Guru dengan berkata kepadanya: “Pergi dan undang Guru untuk menerima pelayananku besok.” Anak ini pergi tetapi terlebih dahulu ia pergi ke tempat tinggal petapa telanjang, menghormat beliau dan duduk. “Mau ke mana, nak?” tanya peta telanjang. “Ibuku menyuruh saya untuk pergi mengundang Guru.” “Jangan pergi kepadanya.” “Baiklah, namun saya takut pada ibuku. Saya akan pergi.” “Sebaiknya kita berdua makan makanan enak yang disediakan untuknya. Tidak usah pergi.” “Tidak, ibuku akan memarahiku.” “Baiklah, kau pergi. Tetapi ketika kau pergi mengundang Guru, jangan katakan kepadanya, ‘Rumahmu berlokasi di daerah anu, di jalan anu, dan Guru dapat mencapainya melalui jalan ini dan itu.’ Sebaliknya bersikaplah seolah-olah kau tinggal di sekitar situ saja, dan pada waktu pulang, berlakulah seperti kau menuju jalan lain dan kembali menemuiku.”
Anak Ini mendengar apa yang dikatakan petapa telanjang dan sesudah itu ia pergi menemui Guru dan menyampaikan undangan. Setelah ia melaksanakan semua yang dipesankan oleh petapa telanjang, ia pulang dan menemui petapa. Petapa telanjang berkata: “Apa yang telah kau lakukan?” Anak menjawab: “Segala sesuatu yang petapa katakan padaku, petapa yang mulia.” “Kau telah melakukannya dengan baik. Kita berdua akan makan makanan enak yang disediakan untuknya.” Pada keesokan harinya, di pagi hari, petapa telanjang pergi ke rumah itu, mengajak anak itu dan mereka berdua duduk bersama di balik ruangan tamu.
Para tetangga melabur rumah dengan tahi sapi, menghiasnya dengan berbagai bunga, termasuk bunga Laja, menyediakan tempat duduk yang mahal, tempat untuk Guru  duduk. (Orang-orang yang tidak mengenal para Buddha, tidak mengetahui bila perlu menyediakan tempat duduk bagi para Buddha. Begitu pula Para Buddha tidak akan menyuruh mereka untuk menyediakannya. Pada hari pencapaian Bodhi, ketika mereka duduk di bawah pohon Bodhi, yang menyebabkan 10.000 sistim dunia (cakkavala) bergetar, dan semua jalan menjadi jelas bagi mereka: “Ini jalan ke neraka, ini jalan ke alam binatang, ini jalan ke alam Peta, ini alan ke Tanpa kematian, Maha Nibbana.” Tidak perlu mengatakan kepada mereka jalan pergi ke desa, ke kota atau tempat-tempat lain.)
Demikianlah di pagi hari, Guru mengambil patta dan jubah, dan segera pergi ke rumah ibu itu. Ibu ke luar dari rumah, memberi hormat bernamaskara kepada Guru, mendampingi beliau masuk ke dalam rumah, memberikan Air Dana ke tangan kanan Guru, dan memberi makanan terpilih yang lebut dan keras kepada beliau. Ketika Guru selesai makan, ibu ini menginginkan beliau menyampaikan ucapan anumodana, maka ia mengambil patta beliau. Kemudian Guru dengan suaranya yang merdu mulai menyampaikan anumodana dalam bentuk uraian dhamma. Ibu mendngar uraian dhamma dan memuji Guru, dengan berkata: “Uraian yang menakjubkan. Uraian yang menakjubkan.”
Petapa telanjang yang duduk di balik ruangan tamu mendengar kata-kata pujian dari ibu setelah ia mendengar dhamma dari Guru. Karena tidak dapat mengendalikan dirinya lagi, ia berkata: “Ia bukan muridku lagi,” dan keluar. Lalu ia berkata kepad ibu itu: “Konyol, anda tidak perlu memuji orang ini seperti itu.” Lalu ia mengejek ibu itu dan Guru dengan berbagai macam kata-kta, setelah itu ia pergi dengn berlari. Ibu itu sangat malu karena cercaan petapa itu sehingga pikirannya menjadi kacau, akibatnya ia tiak dapat memperhatikan apa yang diuraikan guru. Guru bertanya kepada ibu itu: “Ibu, Bhante,” jawabnya, “pikiranku kacau oleh cercaan petapa telanjang itu.” Guru berkata: “Sesorang tidak perlu memperdulikan kata-kata orang yang berpandangan keliru seperti itu; orang tak perlu memperhatikan orang seperti dia; seseorang sebaiknya hanya memperhatikan perguatan buruknya atau perbuatan baiknya sendiri.” Setelah berkata begitu, beliau mengucapkan syair berikut:

40.                      “Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah dikerjakan atau yang belum dikerjakan oleh orang lain. Tetapi, perhatikan apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri.

Sabtu, 28 September 2013

Dhammayatra


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Dasar-Dasar Dharma yang Mendasari Kegiatan Dharmayatra
Dasar-dasar yang mendasari kegiatan Dharmayatra terdapat dalam Sabda Sang Buddha sebagai berikut:
2.1.1 Dasar Historis
Dharmayatra  telah disebutkan dalam  Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya, namun informasi tentang adanya Dharmayatra tidak pernah disebutkan sejak Sang Buddha parinibbana hingga masa Raja Asoka. Kegiatan Dharmayatra muncul pada abad III, ketika Raja Asoka berkuasa di Jambudipa.
Menurut kitab Mahavastu dan Asokavadana, di ibukota Jambudipa, Pataliputta (Patna, sekarang) berkuasa seorang raja bernama Bindusara. Raja memiliki banyak permaisuri dan memiiliki seratus anak. Salah seorang anak raja adalah Pangeran Asoka. Asoka mempunyai penampilan, kekuatan dan kemampuan yang luar biasa melampaui yang dimiliki oleh para saudaranya. Sebelum menjadi raja, Asoka membunuh 99 orang saudaranya, sehingga ia memiliki kerajaan yang utuh. Hal ini terjadi 218 BE (Buddhist Era), yang dihitung mulai sejak Sang Buddha parinibbana dan empat tahun kemudian ia dinotbahkan menjadi raja di Pataliputta. Ia telah menguasai seluruh Jambudipa (sekarang India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, dan Bhutan).
Sebagai raja, ia memerintah dengan keras, dan ia dipandang sebagai raja yang bengis dan kejam, sehingga ia dijuluki sebagai Candasoka (Asoka Jahat).
Pada mulanya Raja Asoka tidak mengenal Buddha Dharma. Namun pada suatu hari selagi raja berdiri di dekat sebuah jendela, ia melihat seorang petapa yang tenang sekali, yaitu Samanera Nigrodha, putra dari Sumana, kakak tertua dari semua anak Raja Bindusara. Dengan kata lain Samanera Nigrodha adalah kemenakan Raja Asoka sendiri.
Raja Asoka mengundang Samanera Nigrodha ke istananya. Di istana Samanera membabarkan Appamanavagga (Samyutta Nikaya) kepada raja. Akhirnya raja menjadi umat Buddha. Sejak menjadi umat Buddha, raja melakukan banyak dana dan perbuatan baik lainnya. Menurut kitab Mahavamsa, Raja Asoka menjadi umat Buddha karena bertemu dengan Samanera Nigrodha. Sedangkan menurut kitab Asokavadana, raja bertemu dengan Bhikkhu Samudra, dalam pertemuan itu bhikkhu mempertunjukan kekuatan batin (Abhinna) dengan melayangkan tubuhnya ke angkasa, setengah dari tubuhnya mengeluarkan api dan setengah tubuhnya yang lain mengeluarkan air, karena pertunjukan inilah maka raja menjadi umat Buddha. Setelah raja menjadi umat Buddha, selain ia melakukan banyak perbuatan baik, ia juga mendirikan Vihara.
Pendirian banyak Vihara ini dilakukan sehubungan dengan dialog Raja Asoka dengan Bhikkhu Moggaliputta-Tissa:
”Bagaimana besar Dhamma yang diajarkan Sang Buddha ?” Bhikkhu Moggaliputta-Tisa menjawabnya. Ketika raja mendengar : ’Ada 84.000 Dhamma’ lalu raja berkata:
’Dari setiap bagian itu, saya akan hormati dengan sebuah Vihara’. Ia memberikan sebanyak 96 koti untuk 84.000 kota, serta memerintah para raja (bawahannya) untuk membangun Vihara dan ia sendiri mulai mendirikan Asokarama”.
(Mahavamsa 77-80)
      



       Karena perbuatan baiknya begitu banyak dan perilakunya berubah, maka Raja Asoka dikenal dengan nama Dhammasoka (Asoka yang hidup sesuai dengan Dhamma).Selanjutnya dalam kitab Asokavadana disebutkan bahwa setelah Raja Asoka menjadi umat Buddha di bawah bimbingan Bhikkhu Samudra, kemudian ia bertemu dengan Bhikkhu Upagupta. Pada pertemuan itu, raja bertanya kepada bhikkhu: ’Saya ingin tahu tempat-tempat suci dalam agama Buddha, ’Baik sekali’ Maharaja.’ Jawab Upagupta, ’keinginan anda sangat menarik. Saya akan menunjukan tempat-tempat itu hari ini.’
       Kemudian Raja Asoka menyiapkan empat kelompok pasukan, menyiapkan wangi-wangian, karangan bunga, bunga-bungaan, dan berangkat bersama Bhikkhu Upagupta. Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui tentang Raja Asoka dengan Bhikkhu Upagupta melakukan ziarah ke tempat-tempat yang ada hubungannya dengan kehidupan Sang Buddha. Dengan kata lain tradisi berdharmayatra mulai dikenal dan tersiar di Jambudipa. Begitu pula dengan umat Buddha di berbagai tempat di dunia pun, mulai mengunjungi (berdharmayatra) ke tempat-tempat suci. Kunjungan dari negara luar Jambudipa yang sangat terkenal adalah yang dilakukan oleh peziarah-peziarah dari Cina, yaitu: Fa-Hien pada abad IV-V AD, Hsuan Tsang dan kemudian I-Tsing pada abad VII AD.
       Para peziarah ini meninggalkan catatan-catatan mengenai perjalanan mereka di Jambudipa. Berdasarkan pada catatan mereka ini, maka ada informasi tentang Dharmayatra ke tempat-tempat suci yang berhubungan dengan kehidupan Sang Buddha.



2.1.2 Dasar Filosofi

       Kegiatan Dharmayatra sangat penting untuk dilakasanakan seperti yang ada pada latar belakang dan tujuan Dharmayatra. Begitu banyak manfaatnya kita melaksanakan kunjungan ke tempat-tempat suci yang ada hubungannya dengan Sang Buddha, adapun manfaat penting dalam melaksanakan Dharmayatra sebagai berikut:
a.         Penting guna meningkatkan saddha (keyakinan) bagi peziarah (pelaksana Dharmayatra);
b.         Menambah pengetahuan wawasan  pada tempat-tempat yang disakralkan dalam agama Buddha bagi peziarah (pelaksana Dharmayatra);
c.         Memperbaiki dan meningkatkan kesadaran bagi peziarah (pelaksana Dharmayatra) dalam beragama Buddha;
d.        Mendapat pahala yang sangat besar yang dapat membantu dan menentukan kelahiran yang akan datang, seperti petikan pada Mahaparinibbana Sutta ”Ananda, bagi mereka yang berkeyakinan kuat melakukan ziarah ke tempat-tempat itu, maka setelah mereka meninggal dunia, mereka akan terlahir kembali di alam surga.” (1989  : 125)
2.1.3   Dasar Hukum
a.     Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
b.     Peraturan Presiden No. 76 Tahun 2005 tentang Penegrian STABN Sriwijaya Tangerang Banten;
c.      Peraturan Mentri Agama RI No. 7 Tahun 2006 Tentang Organisasi dan Tata Kerja STABN Sriwijaya Tangerang Banten;
d.     Rancangan Statuta STABN Sriwijaya Tangerang Banten.
2.1.4   Dasar Teologis
1)        Milinda Panha
Dalam Milinda Panha Sang Buddha bersabda “Hormatilah relik dari mereka yang patut dihormati. Dengan bertindak demikian engkau akan pergi dari dunia ini ke Surga (Bhikkhu Pesala, 2002 : 100)
Dalam petikan Milinda Panha pada halaman 100, terdapat sebuah kalimat yang menyatakan bahwa:
“Hormati relik dari mereka yang patut dihormati. Dengan bertindak demikian engkau akan pergi dari dunia ini ke surga”
(Milinda Panha pada halaman 100)
Disini diceritakan tentang percakapan antara Sang Buddha dengan Bhikkhu Ananda, yaitu :
“Sang Buddha berkata,’Jangan menghalangi dirimu sendiri, Ananda, dengan menghormati apa yang tersisa dari Sang Tathagata. Tetapi pada kesempatan lain Beliau berkata, “Hormatilah relik dari mereka yang patut dihormati. Dengan bertindak demikian engkau akan pergi dari dunia ini ke surga.”
Pernyataan manakah yang benar?”
“Nasehat pertama tidak diberikan kepada semua orang, O baginda, melainkan hanya kepada para siswa Sang Penakluk (para bhikkhu). Menghormati relik bukanlah tugas mereka. Memahami sifat hakiki semua bentukan, menggunakan penalaran (memperhatikan anicca), meditasi pandangan terang, memegang inti obyek meditasi, memberikan pengabdian kepada kesejahteraan spiritual, itulah tugas-tugas bhikkhu. Seperti halnya, O Baginda, adalah urusan para pangeran untuk belajar seni perang dan hukum wilayah; sedangkan beternak, berdagang dan mengurus ternak merupakan urusan perumah tangga.
2)        Maha Parinibbana Sutta
Dalam Maha Parinibbana Sutta terdapat sebuah kalimat yang menyatakan bahwa:
“ Ananda, bagi mereka yang berkeyakinan kuat melakukan ziarah ke tempat-tempat itu, maka setelah mereka meninggal dunia, mereka akan terlahir kembali di alam surga.”(1989 : 125)
Sutta ini merupakan cerita penting tentang hari-hari terakhir Sang Buddha, catatan sejarah mengenai apa yang akan dilakukan dan dikatakan Sang Buddha serta yang terjadi di tahun terakhir kehidupan Sang Buddha. Sutta ini juga diselingi dengan banyak khotbah mengenai beberapa aspek yang paling mendasar dan penting di dalam ajaran Sang Buddha. Salah satunya menceritakan tentang Suku Vajji yang sangat menghormati dan menghargai tempat-tempat suci dan mereka dengan taat melaksanakan puja bakti.
Selain itu juga, dalam Sutta ini disebutkan bahwa ada empat tempat bagi seorang  yang berbakti yang seharusnya pergi berziarah dan menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat yang diberitahukan oleh Sang Buddha kepada Bhikkhu Ananda.
Hal ini disampaikan oleh Sang Buddha menjelang beliau parinibbana atau meninggal dunia, yaitu sebagai berikut :
1.  Tempat dimana Sang Tathagata dilahirkan;
2.  Tempat dimana Sang Tathagata mencapai penerangan sempurna yang tiada tara;
3.  Tempat dimana Sang Tathagata memutar roda Dhamma untuk pertama kali;
4.  Tempat dimana Sang Tathagata meninggal (parinibbana).
Dalam sutta ini juga terdapat syair yang menceritakan Delapan Relik Sang Bhagava.
3)        Saddhamma-Pundarika Sutra
Dalam Saddhamma-Pundarika Sutra, Bab I Purwaka pada halaman 5 terdapat petikan bahwa:
“Demikian pula dapat disaksikan para Buddha yang telah mencapai Pari-Nirvana, dapat pula dilihat stupa-stupa, terbuat dari pada tujuh macam bahan untuk menempatkan Sarira (relik) para Buddha, yang didirikan setelah para Buddha mencapai Pari-Nirvana”.          
Bagi mereka yang telah mencapai Parinirvana yaitu para Buddha, maka ia akan dibangunkan sebuah stupa. Stupa tersebut terbuat dari tujuh macam bahan untuk menempatkan Sarira (relik) para Buddha. Jadi bagi mereka yang telah mencapai Parinirvana, maka ia patut di hormati dan didirikan sebuah stupa.
2.2    Sejarah Objek Dharmayatra
Setiap tempat yang memiliki nilai kebudayaan spritual pasti memiliki catatan sejah. Begitu juga tempat-tempat dharmayatra pasti memiliki sejarah tersendiri. Adapun sejarah yang ada dalam masing-masing objek dharmayatra sebagai berikut :
2.2.1        Candi Plaosan Lor, Plaosan Kidul (kuti)
Letaknya ± 1 km ke arah dari Candi Sewu. Candi ini dibangun pada pertengahan abad 9 Masehi oleh Rakai Pikatan sebagai hadiah kepada permaisurinya. Kelompok Candi Plaosan Lor (Utara) terdiri atas dua Candi induk, 58 perwara dan 126 buah Stupa. Kelompok Candi Plaosan Kidul (Selatan) hanya berupa sebuah Candi. Halaman Candi induk terbagi dua yang masing-masing di atasnya berdiri sebuah biara bertingkat dua. Tingkat atas untuk tempat tinggal para pendeta Buddha dan tingkat bawah untuk kegiatan keagamaan.
Secara administratif kompleks Candi Plaosan terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Provinsi Jawa Tengah. Sedangkan secara geografis terletak pada 7’ 44’ 32, 13 “Lintang Selatan dan 110’ 30’ 11, 007” Bujur Timur dengan ketinggian kurang lebih 163,195 meter dari permukaan laut. Kompleks Candi Plaosan dapat dicapai dengan menyusuri jalan raya Prambanan-Manisrenggo, yang ada di sebelah Timur pagar kompleks Candi Prambanan, ke arah Utara, setelah kira-kira berjalan 1500 meter berbelok ke arah Timur, setelah kurang lebih 1200 meter akan sampai di kompleks Candi Plaosan.
Kompleks Candi Plaosan terdiri dari dua kelompok Candi yang dikenal dengan sebutan kompleks Candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Kedua kompleks Candi dipisahkan oleh jalan aspal yang membentang Timur-Barat dan lingkungan tanah persawahan. Kompleks Candi Plaosan Lor secara keseluruhan terletak di tengah tanah persawahan dan di sebelah Barat kompleks Candi Plaosan Kidul terdapat perumahan penduduk Dukuh Plaosan.
2.2.2        Candi Kalasan
Peninggalan agama Buddha tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah adalah Candi Kalasan. Letak pada sisi sebelah kanan Jalan Raya Yogya-Solo 13 km. Masuk beberapa puluh meter ke arah Selatan. Candi ini didirikan oleh Pangkaran, raja kedua dari kerajaan Matarm Kuno pada abad 8 Masehi sebagai persembahan kepada Dewi Tara. Lengkung “Kala-Makara dengan hiasan kahyangan di atasnya terpahat di atas pintu masuk dengan begitu indahnya. Keindahan hiasan dan relief-reliefnya disebabkan oleh penggunaan sejenis semen kuno “Bajralepa”. Candi ini dianggap permata kesenian Jawa Tengah.
2.2.3        Candi Sari
“Sari” bararti “indah” atau “cantik” sesuai bentuknya yang ramping. Mungkin keindahannya yang menarik perhatian ia dinamakan demikian. Puncak atapnya berhiaskan 9 Stupa yang sama sebangun dan tersusun dalam 3 deret. Di bawah masing-masing Stupa terdapat ruangan-ruangan bertingkat 2 yang digunakan sebagai tempat tinggal, tempat meditasi dan mengajar.
Arca-arca Bodhisatva terdapat pada dinding luarnya. Dinding ini dihias dengan amat indahnya. Biara Buddha yang dibangun pada ± abad 8 Masehi ini terletak pada sisi kiri Jalan Raya Yogya-Solo, masuk ± 500 meter ke arah Utara. Bangunan dengan panjang 17,32 meter dan lebar 10 meter ini merupakan sebagian saja dari kumpulan candi yang telah hilang.
2.2.4        Candi Prambanan
Candi Loro Jonggrang yang sering disebut Candi Prambanan terletak persis di perbatasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah, kurang lebih 17 km ke arah Timur dari kota Yogyakarta atau kurang lebih 53 km sebelah Barat Solo. Komplek Percandian Prambanan ini masuk ke dalam dua wilayah yakni komplek bagian Barat masuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagian Timur masuk wilayah Provinsi Jawa Tengah. Percandian Prambanan berdiri di sebelah Timur Sungai Opak kurang lebih 200 m sebelah Utara Jl. Raya Yogya-Solo.
Gugusan Candi ini dinamakan “Prambanan” karena terletak di daerah Prambanan. Nama “Loro Jonggrang” berkaitan dengan legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis jangkung putri Prabu Boko.
Candi Prambanan adalah kelompok percandian Hindu yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Sanjaya pada abad IX. Ditemukannya tulisan nama Pikatan pada Candi ini menimbulkan pendapat bahwa Candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung bedasarkan prasasti berangka pada tahun 856 M “Prasasti Siwargrha” sebagai manifest politik untuk meneguhkan kedudukannya sebagai raja yang besar. Terjadinya perpindahan pusat kerajaan Mataram ke Jawa Timur berakibat tidak terawatnya Candi-candi di daerah ini ditambah terjadinya gempa bumi serta beberapa kali meletusnya Gunung Merapi menjadikan Candi Prambanan runtuh tinggal puing-puing batu yang berserakan. Sungguh menyedihkan itulah keadaan pada saat penemuan kembali Candi Prambanan. Usaha pemugaran yang dilaksanakan pemerintah Hindia Belanda berjalan sangat lamban dan akhirnya pekerjaan pemugaran yang sangat berharga itu diselesaikan oleh bangsa Indonesia. Pada tanggal 20 Desember 1953 pemugaran Candi induk Loro Jonggrang secara resmi dinyatakan selesai oleh Ir. Sukarno sebagai Presiden Republik Indonesia pertama. Sampai sekarang pekerjaan pemugaran dilanjutkan, yaitu pemugaran Candi Brahma dan Candi Wisnu, Candi Brahma dipugar mulai tahun 1977 dan selesai diresmikan pada tanggal 23 Maret 1987. Sedangkan Candi Wisnu mulai dipugar pada tahun 1082 , selesai dan diresmikan oleh Bapak Presiden Soeharto pada tanggal 27 April 1991.
Komplek percandian Prambanan terdiri atas latar bawah, latar tengah, dan latar atas (latar pusat) yang semakin ke arah dalam makin tinggi letaknya. Berturut-turut letaknya : 390 meter persegi, 222 meter persegi, dan 110 meter persegi, latar bawah tak berisi apapun. Di dalam latar tengah terdapat reruntuhan Candi-candi Perwara.
Apabila seluruhnya telah selesai dipugar, maka akan ada 224 buah Candi yang ukurannya semua sama yaitu luas dasar 6 meter persegi dan tingginya 14 meter. Latar pusat adalah latar terpenting di atasnya berdiri 16 buah Candi besar dan kecil. Candi-candi utama terdiri atas dua deret yang saling berhadapan. Deret partama yaitu Candi Siwa, Candi Wisnu dan Candi Brahma. Deret kedua yaitu Candi Nandi, Candi Angsa, dan Candi Garuda. Pada ujung-ujung lorong yang memisahkan kedua deretan Candi tersebut terdapat Candi Apit. Delapan Candi lainnya lebih kecil. Empat diantaranya Candi keril dan empat lainnya disebut Candi Sudut. Secara keseluruhan terdiri atas 240 Candi. Bangunan-banguna dari Candi Prambanan antara lain :
a.         Candi Siwa
Candi dengan luas dasar 34 metr persegi dan tinnginya 47 meter adalah terbesar dan terpenting. Bernama Candi Siwa karena di dalamnya terdapat arca Siwa Mahadewa yang merupakan arca terbesar. Bangunan ini dibagi atas tiga bagian secara vertikal kaki, tubuh dan kapala/atap, kaki Candi menggambarkan “dunia bawah” tempat manusia yang masih diliputi hawa nafsu, tubuh Candi menggambarkan “dunia tengah” tempat manusia yang telah meninggalkan keduniawian dan atap melukiskan “dunia atas” tempat para dewa.
b.         Candi Brahma
Luas dasarnya 20 meter persegi dan tingginjya 37 meter. Di dalam satu-satunya ruangan berdirilah arca Brahma berkepala empat dan bertangan empat. Arca ini sebenarnya sangat indah tetapi sudah rusak. Salah satu tanganya memegang tasbih yang satunya memegang “Kamandalu” tempat air . keempat wajahnya menggambarkan keempat kitab suci Weda masing-masing menghadap ke arah mata angin. Sebagai pencipta ia membawa air karena seluruh alam kelaur dari air. Tasbih menggambarkan waktu. Dasar kaki Candi juga dikelilingi oleh Selasar yang dibatasi pagar langkan dimana pada langkan sebelah dalam terdapat pahatan relief lanjutan cerita Ramayana dan relief serupa pada Candi Siwa hingga tamat.
c.         Candi Wisnu
Bentuk, ukuran relief dan hiasan dinding luarnya sama dengan Candi Brahma. Dimana satu-satunya ruangan yang ada berdirilah arca Wisnu bertangan empat yang memegang Gada, Cakra, Tiram. Pada dinding langkan sebelah dalam terpahat relief cerita Kresna sebagai “Autara” atau penjelmaan Wisnu dan Balarama (Baladewa) kakaknya.



d.        Candi Nandi
Luas dasarnya 15 meter persegi dan tingginya 25 meter. Di dalam satu-satunya ruangan yang ada terbaring arca Lembu jantan dengan sikap merdeka dengan panjang ± 2 meter. Di sudut belakangnya terdapat arca Dewa Candra. Dengan mata tiga berdiri di atas kereta yang ditarik 10 ekor kuda. Surya berdiri di atas kereta yang ditarik oleh 7 ekor kuda. Candi ini sudah runtuh.
e.         Candi Angsa
Candi ini mempunyai satu ruangan yang tak berisi apapun. Luas dasarnya 13 meter persegi dan tingginya 22 meter. Mungkin ruangan ini hanya dipakai untuk kandang angsa hewan yang biasa dikendarai oleh Brahma.
f.          Candi Garuda
Bentuk ukuran serta hiasan dindingnya sama dengan Candi Angsa. Di dalam satu-satunya ruangan yang ada terdapat arca kecil yang berwujud seekor naga. Garuda adalah kendaraan Wisnu.
g.         Candi Apit
Luas dasarnya 6 meter persegi dengan tinggi 16 meter.  Ruanganya kosong. Mungkin Candi ini dipergunakan untuk bersamadhi untuk memasuki Candi-candi induk. Karena keindahannya ia mungkin digunakan untuk menanamkan estetika dalam komplek percandian Prambanan.



h.         Candi Kelir
Luas dasarnya 1,55 meter persegi dengan tinggi 4,10 meter. Candi ini tidak mempunyai tangga masuk. Fungsinya sebagai pendak bala.
i.           Candi Sudut
Ukuran Candi-candi ini sama dengan Candi Kelir.
2.2.5        Candi Bubrah
Candi Bubrah adalah candi Buddha yang berada di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, yaitu di antara candi utama Roro Jonggrang dan Candi Sewu. Dinamakan Bubrah karena memang keadaannya rusak sejak pertama kali ditemukan (bubrah dalam bahasa Jawa). Sekarang candi ini hanya tinggal reruntuhannya saja, dengan bujur sangkar berukuran 30 m x 30 m. Sifat keagamaan dan beberapa pola hiasnya sama dengan candi sewu.
Menurut perkiraan, candi ini dibangun pada abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno, satu periode dengan Candi Sewu. Saat pertama kali ditemukan masih terdapat beberapa patung Buddha, walaupun tidak utuh lagi, sedangkan beberapa relief pada bagian kaki candinya masih terlihat.
2.2.6        Candi Lumbung
Candi Lumbung merupakan candi yang berlatar belakang Buddha. Candi ini masih berada satu kompleks dengan candi Sewu dan Candi Bubrah. Candi Lumbung ini terletak di sebelah selatan Candi Sewu atau sekitar 300 m dari Candi Prambanan. Candi Lumbung adalah candi yang berlatar belakang agama Buddha. Candi Lumbung memiliki satu buah candi induk yang menghadap ke arah timur dan 16 Candi Perwara dengan masing-masing 4 buah di setiap penjuru mata angin mengelilingi candi induk. Candi Lumbung terletak beberapa ratus meter di sebelah selatan Candi Sewu. Candi ini sudah masuk dalam wilayah kabupaten Klaten, Surakarta. Nama Lumbung masih menjadi pertanyaan merupakan nama candi ini atau nama itu hanya smerupakan sebutan masyarakat di sekitarnya, karena bentuknya yang mirip lumbung (bangunan tempat penyimpanan padi).

2.2.7        Candi Sewu
Candi Sewu adalah candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 yang berjarak hanya delapan ratus meter di sebelah utara candi Prambanan. Candi Sewu merupakan komplek candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. Candi Sewu berusia lebih tua dari pada Candi Prambanan. Meskipun aslinya terdapat 257 candi, oleh masyarakat setempat candi ini dinamakan Candi "Sewu" yang berarti "seribu" dalam bahasa Jawa. Penamaan ini berdasarkan kisah legenda Loro Jonggrang. Berdasarkan prasasti yang berangka tahun 792 dan ditemukan pada tahun 1960, nama asli bangunan ini adalah “Manjus’ri grha” (Rumah Manjusri). Manjusri adalah salah satu Boddhisatwa dalam ajaran Buddha.
Candi Sewu diperkirakan dibangun pada abad ke-8 masehi pada akhir masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Rakai Panangkaran (746 – 784) adalah raja yang termahsyur dari kerajaan Mataram Kuno. Kompleks candi ini mungkin dipugar, diperluas, dan rampung pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, seorang pangeran dari dinasti Sanjaya yang menikahi Pramodhawardhani dari dinasti Sailendra. Setelah dinasti Sanjaya berkuasa rakyatnya tetap menganut agama sebelumnya. Adanya Candi Sewu yang bercorak Buddha berdampingan dengan Candi Prambanan yang bercorak hindu menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu di Jawa umat Hindu dan Buddha hidup secara harmonis dan adanya toleransi beragama.
Karena keagungan dan luasnya kompleks Candi ini, candi Sewu diduga merupakan Kerajaan Buddha, sekaligus pusat kegiatan agama Buddha yang penting di masa lalu. Candi ini terletak di lembah Prambanan yang membentang dari lereng selatan gunung Merapi di utara hingga pegunungan Sewu di selatan, di sekitar perbatasan Yogyakarta dengan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Di lembah ini tersebar candi-candi dan situs purbakala yang berjarak hanya beberapa ratus meter satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini merupakan kawasan penting artinya dalam sektor keagamaan, politik, dan kehidupan urban masyarakat Jawa kuna.
Kompleks Candi Sewu adalah kumpulan candi Buddha terbesar di kawasan sekitar Prambanan, dengan bentang ukuran lahan 185 meter utara-selatan dan 165 meter timur-barat. Pintu masuk kompleks dapat ditemukan di keempat penjuru mata angin, tetapi mencermati susunan bangunannya, diketahui pintu utama terletak di sisi timur. Tiap pintu masuk dikawal oleh sepasang arca Dwarapala. Arca raksasa penjaga berukuran tinggi sekitar 2 meter ini dalam kondisi yang cukup baik, dan replikanya dapat ditemukan di Keraton Yogyakarta. Aslinya terdapat 257 bangunan candi di kompleks ini yang disusun membentuk mandala, perwujudan alam semesta dalam kosmologi Buddha Mahayana. Candi kecil terdiri atas 248 buah dengan disain yang serupa dan tersusun atas empat barisan yang konsentris. Dua barisan terluar terdiri dari 176 candi kecil yang disusun berdekatan. Sedangkan dua baris terdalam yang terdiri atas 72 candi yang agak besar tersusun dengan interval jarak tertentu. Banyak patung dan ornamen yang telah hilang dan susunannya telah berubah. Arca-arca Buddha yang dulu mengisi candi-candi ini mengkin serupa dengan arca Buddha di Borobudur.
Pada bentangan poros tengah, utara-selatan dan timur-barat, pada jarak 200 meter satu sama lain, atara baris ke-2 dan ke-3 candi kecil terdapat candi perwara (pengawal), candi-candi ini ukurannya kedua terbesar setelah candi utama. Aslinya di setiap penjuru mata angin terdapat masing-masing sepasang candi perwara yang saling berhadapan, tetapi kini hanya candi perwara kembar timur dan satu candi perwara utara yang masih utuh. Candi-candi yang lebih kecil ini mengelilingi candi utama yang paling besar tapi beberapa bagiannya sudah tidak utuh lagi. Di balik barisan ke-4 candi kecil terdapat pelataran beralas batu dan ditengahnya berdiri candi utama.
Candi utama memiliki denah poligon bersudut 20 yang menyerupai salib atau silang yang berdiameter 29 meter dan tinggi bangunan mencapai 30 meter. Pada tiap penjuru mata angin terdapat struktur bangunan yang menjorok ke luar, masing-masing dengan tangga dan ruangan tersendiri dan dimahkotai susunan stupa. Seluruh bangunan terbuat dari batu andesit. Ruangan di empat penjuru mata angin ini saling terhubungkan oleh galeri sudut berpagar langkan. Berdasarkan temuan pada saat pemugaran, diperkirakan rancangan awal bangunan hanya berupa candi utama berkamar tunggal. Candi ini kemudian diperluas dengan menambahkan struktur tambahan di sekelilingnya. Pintu dibuat untuk menghubungkan bangunan tambahan dengan candi utama dan menciptakan bangunan candi utama dengan lima ruang. Ruangan utama di tengah lebih besar dengan atap yang lebih tinggi, dan dapat dimasuki melalui ruang timur. Kini tidak terdapat patung di kelima ruangan ini. Akan tetapi berdasarkan adanya landasan atau singgasana batu berukir teratai di ruangan utama, diduga dahulu dalam ruangan ini terdapat arca Buddha dari bahan perunggu yang tingginya mencapai 4 meter. Akan tetapi kini arca itu telah hilang, mungkin telah dijarah untuk mengambil logamnya sejak berabad-abad lalu.
2.2.8        Ratu Boko
Kompleks Ratu Boko terletak di dataran tinggi yang luasnya 500 x 500 m, atau tepatnya berada di Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Candi yang berdiri 8-10 M ini berada pada sebuah bukit kapur yang terletak di sebelah selatan candi Prambanan yang jaraknya +/- 2 km. Bukit ini merupakan rangkaian dari Zona Gunung Kidul bagian utara dengan ketinggian 110-229 m di atas permukaan air laut.
Kompleks kepurbakalaan Ratu Boko ini dikenal dengan nama Keraton Boko, karena disitulah menurut cerita bertempat tinggal Ratu Boko yang disebut dalam cerita Loro Jonggrang. Kawasan candi yang terbuat dari batu putih dan batu andesit ini merupakan peninggalan sejarah yang menunjukkan unsur-unsur agama Buddha dan Hindu dari abad 8-10 M. Candi ini dibuat pada masa kerajaan Mataram Kuno. Bukti-bukti tertulis yang ditemukan di kompleks Ratu Boko memperlihatkan adanya kaitan antara Ratu Boko dengan pemerintahan Kerajaan Matam Kuno. Candi Prambanan sebagai salah satu bentuk peninggalan terbesar dari Kerajaan Mataram Kuno memiliki kaitan dengan Ratu Boko.
Candi Prambanan terletak pada salah satu imajiner dengan Ratu Boko, sehingga para ahli memperkirakan bahwa Candi Prambanan sebagai daerah sakral, sedangkan kompleks Ratu Boko sebagai tempat pemukiman. Dugaan ini diperkuat dengan temuan prasasti di Ratu Boko yang menyebutkan bahwa fungsi Ratu Boko sebagai wihara. Prasasti ini adalah Prasati Abhayagiriwihara pada tahun 792 M, yakni sebagai tempat pemukiman dan perlindungan (berdasarkan prasasti yang dibuat oleh Raja Belitung pada abad 10 M).
Situs Ratu Boko sebenarnya bukan merupakan candi, melainkan reruntuhan sebuah kerajaan. Oleh karena itu, Candi Ratu Boko sering disebut juga Kraton Ratu Boko.  Disebut Keraton Boko, karena menurut legenda situs tersebut merupakan istana Ratu Boko, ayah Loro Jonggrang. Kata 'kraton' berasal dari kata Ka-ra-tu-an yang berarti istana raja. Diperkirakan Candi Ratu Boko dibangun pada abad ke-8 oleh Wangsa Syailendra yang beragama Buddha, namun kemudian diambil alih oleh raja-raja Mataram Hindu. Peralihan 'pemilik' tersebut menyebabkan bangunan Keraton Boko dipengaruhi oleh Hinduisme dan Buddhisme.
2.2.9        Candi Mendut
Sama halnya dengan Candi Borobudur, Candi Mendut berlatar belakang agama Buddha. Candi ini hanya terdiri dari satu candi induk yang menghadap ke arah barat. Sebenarnya di sisi selatan candi induk, ada sekumpulan batu-batu candi, dan diperbiralan  batu candi tersebut merupakan Candi Perwara. Candi ini kerap digunakan pada upacara sembahyang agama Buddha, tidak heran bila di dekat candi terdapat sebuah vihara. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 oleh Wangsa Syailendra yang juga membangun Candi Borobudur. Di bilik utama terdapat tiga buah arca Buddha, Vairocana, Avalokitesvara, dan Vajrapani. Simbolisme ketiga arca tersebut merupakan fungsi Candi Mendut, yaitu untuk bisa membebaskan karma badan, karma ucapan, serta karma pikiran. Selain itu di setiap dinding candi terukir berbagai macam relief jajaran dewa-dewa agama Buddha dan juga berbagai macam relief kisah cerita binatang.
2.2.10    Candi Borobudor
Candi Borobudor dibangun oleh “Wangsa syailendra” yang dikenal dalam sejarah karena usahanya untuk menjunjung tinggi dan mengagungkan agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800 M. Kira-kira hanya 150 tahun Candi Borobudor digunakan sebagai pusat ziarah. Dengan berakhirnya kerajaan Mataram tahun 930 pusat kehidupan dan kebudayaan jawa bergerak ke Timur. Kira-kira pada abad ke 10 itulah Candi Borobudor terbengkalai dan terlupakan. Baru pada tahun 1814 berkat kegiatan “Sri Thomas Stamford Refles” telah menemukan beberapa bukti yang menunujukan bahwa pada bagian kaki-kaki Candi yang tertutup terdapat tulisan singkat berbahasa Sangsekerta dengan huruf kawi. Pada saat itu Refles adalah seorang Letnan Gubernur Jendral Inggris. Ketika itu Indonesia dikuasai atau dijajah Inggris tahun 1811-1816. Sejarah Candi Borobudor telah ditemukan kembali, lalu dimulailah dan memugar kembalai bangunan Candi Borobudor yang mulanya hanya dilakukan perbaikan kecil-kecilan serta pembuatan gambar dan foto relief-reliefnya. Pekerjaan pemugaran yang boleh dikatakan agak besar yang pertama kali diadakan pada tahun 1907-1911.
Candi Borobudor dibuat dengan menggunakan batu andesit sebanyak 55.000 M3. Bangunan berbentuk limas berundak-undak dengan tangga naik keempat sisinya (Timur, Selatan, Utara dan Barat). Pada Candi Borobudor tidak ada ruangan dimana orang bisa masuk melainkan hanya bisa naik sampai terasnya. Lebar bangunan Candi Borobudor 123 M. Panjang bangunan Candi Borobudor 123 M. Pada sudut yang membelok 113 M. Tinggi bangunan Candi Borobudor 34,5 M.
Pada kaki Candi yang asli ditutup dengan batu sebanyak 12.750 M3, sebagai selasar dan undaknya. Candi Borobudor merupakan tiruan dari kehidupan pada alam semesta, yang terbagi tiga bagian besar, yaitu:
a.         Kamadhatu
Sama dengan dunia paling bawah atau dunia hasrat, dalam dunia ini manusia masih terikat pada hasrat bahkan dikuasai oleh hasrat, kemauan, dan hawa nafsu.
b.         Rupadhatu
Sama dengan dunia rupa. Dalam alam ini manusia telah meninggalkan segala hasrat tapi masih terikat pada nama dan rupa. Bagian ini terdapat pada langkah 1-5.
c.         Aruapadhatu
Sama dengan dunia tanpa rupa. Pada tingkat ini sudah tidak ada nama maupun rupa. Manusia telah bebas sama sekali dan telah memutuskan untuk selama-lamanya lepas dari ikatan kepada dunia hasrat.
Patung-patung itu menggambarkan Dhayani Buddha terdapat pada bagian Rupadhatu dan Arupadhatu. Patung-patung Buddha di Rupadhatu ditempatkan dalam relung-relung yang tersusun sejajar pada sisi luar pagar langkah sesuai dengan kenyataan bahwa tingkatan-tingkatan bangunannya semakin tinggi letaknya semakin kecil ukurannya. Susunan patung Buddha pada Candi Borobudor adalah sebagai berikut :
Langkah Pertama        : 104 Patung Buddha
Langkah Kedua           : 104 Patung Buddha
Langkah Ketiga           : 88 Patung Buddha
Langkah Keempat       : 72 Patung Buddha
Langkah Kelima          : 64 Patung Buddha
Teras Bundar Pertama : 32 Patung Buddha
Teras Bundar Kedua   : 24 Patung Buddha
Teras Bundar Ketiga   : 16 Patung Buddha
Jad jumlah seluruh patung Buddha adalah 504 buah patung.
Pada bagian Arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama, maka jumlah mudra yang pokok ada lima, yaitu :
1.    Bhumispara-Mudra
Sikap tangan ini menggambarkan saat tangan Sang Buddha memanggil Dewi Bumi sebagai saksi ia menangkis semua serangan iblis mara.
2.    Wara-Mudra
Sikap tangan ini menggambarkan perihal alam memberi berkat atau anugerah. Mudra ini adalah khas bagi Dhayani Buddha Ratna Sambawa patung-patung menghadap ke Selatan.
3.      Dhayana-Mudra
Sikap tangan ini melambangkan sedang bersamadhi. Sikap tangan ini merupakan tanda khusus Dhayani Buddha Amithaba, patung-patung menghadap ke Barat.



4.      Abhaya-Mudra
Sikap tangan ini melambangkan sedang memenangkan dan merupakan tanda khusus Dhayani Amoghasidi, patung-patung menghadap ke Utara.
5.      Dharma Cakro-Mudra
Sikap tangan ini melambangkan gerak memutar roda Dharma dan juga menjadi cirri khas Dhayani Buddha Wairocana, daerah kekuasaannya berada di pusat.
Pada Stupa induk Candi Borobudur berukuran lebih besar dari pada Stupa yang lainnya dan terletak di tengah-tengah (paling atas) bangunan Candi Borobudor. Garis tengah Stupa induk ± 9,90 meter. Puncak yang tinggi disebut Pinakel atau Yasti Cikkra, Pinakel terletak di atas Padamaganda dan juga terletak di atas Harmika. Stupa berlubang atau terawang adalah Stupa yang terdapat pada tingkat I, II, III dimana di dalamnya terdapat patung Buddha, Stupa ini berjumlah 72 buah. Adapula Stupa kecil bentuknya sama dengan Stupa lainnya, hanya  saja perbedaannya yang menonjol adalah dalam ukurannya yang lebih kecil dari Stupa yang lainnya, jumlahnya Stupa kecil ada 1.472 buah.
2.2.11    Makam  Imogiri
Makam  imogiri dibangun tahun 1632  oleh Raja Adipati Anom Sesudah 5 tahun ia memerintah, kerajaannya dipindahkan ke Kerta-Plered dan selanjutnya Kanjeng Sultan ingin memulai membuat makam di Pegunungan Girilaya yang terletak di sebelah Timur Laut Imogiri yang dipergunakan sebagai makam raja. Tetapi sebelum makam itu selesai, pamannya yaitu Gusti Pangeran Juminah lebih dulu mengajukan permintaan. Kemudian Sinuhun merasa kecewa.
2.2.12 Keraton Yogyakarta
Kraton Yogyakarta dibangun tahun 1756 Masehi atau tahun Jawa 1682 oleh Pangeran Mangkubumi Sukowati yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Setelah melalui perjuangan panjang antara 1747-1755 yang berakhir dengan Perjanjian Gianti. Sebelum menempati Kraton Yogyakarta yang ada saat ini, Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Sri Sultan Hemengku Buwono Senopati Ingalogo Ngabdulrahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah tinggal di Ambar Ketawang Gamping, Sleman. Lima kilometer di sebelah barat Kraton Yogyakarta. Dari Ambar Ketawang Ngarso Dalem menentukan ibukota Kerajaan Mataram di Desa Pacetokan. Sebuah wilayah yang diapit dua sungai yaitu sungai Winongo dan Code. Lokasi ini berada dalam satu garis imajiner Laut Selatan, Krapyak, Kraton, dan Gunung Merapi.
Bangunan Kraton Yogyakarta sedikitnya terdiri tujuh bangsal. Masing-masing bangsal dibatasi dengan regol atau pintu masuk. Keenam regol adalah Regol Brojonolo, Sri Manganti, Danapratopo, Kemagangan, Gadungmlati, dan Kemandungan. Kraton diapit dua alun-alun yaitu Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan. Masing-masing alun-alun berukurang kurang lebih 100x100 meter. Sedangkan secara keseluruhan Kraton Yogyakarta berdiri di atas tanah 1,5 km persegi.  Bangunan inti kraton dibentengi dengan tembok ganda setinggi 3,5 meter berbentuk bujur sangkar (1.000 x 1.000 meter). Sehingga untuk memasukinya harus melewati pintu gerbang yang disebut plengkung. Ada lima pintu gerbang yaitu Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah Timur Laut kraton. Plengkung Jogosuro atau Plengkung Ngasem di sebelah Barat Daya. Plengkung Joyoboyo atau Plengkung Tamansari di sebelah Barat. Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading di sebelah Selatan. Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan di sebelah Timur.
Dalam benteng, khususnya yang berada di sebelah selatan dilengkapi jalan kecil yang berfungsi untuk mobilisasi prajurit dan persenjataan. Keempat sudut benteng dibuat bastion yang dilengkapi dengan lubang kecil yang berfungsi untuk mengintai musuh. Penjaga benteng diserahkan pada prajurit kraton di antaranya, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Mantrijero, dan Prajurit Bugis. Prajurit Jogokaryo mempunyai bendera Papasan dan tinggal di Kampung Jogokaryan. Prajurit Mantrijero dilengkapi dengan Bendera Kesatuan Purnomosidi dan tinggal di Kampung Mantrijeron. Prajurit Bugis yang berbendera Kesatuan Wulandari tinggal di Kampung Bugisan.
Masa pemerintahan Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono I (GRM Sujono) memerintah tahun 1755-1792. Sri Sultan Hamengku Buwono II (GRM Sundoro) memerintah tahun 1792-1812. Sri Sultan Hamengku Buwono III (GRM Surojo) memimpin tahun 1812-1814. Sri Sultan Hamengku Buwono IV (GRM Ibnu Djarot) memerintah tahun 1814-1823. Sri Sultan Hamengku Buwono V (GRM Gathot Menol) memerintah tahun 1823-1855. Sri Sultan Hamengku Buwono VI (GRM Mustojo) memerintah tahun 1855-1877. Sri Sultan Hamengku Buwono VII (GRM Murtedjo) memerintah tahun 1877-1921. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (GRM Sudjadi) memerintah tahun 1921-1939. Sri Sultan Hamengku Buwono IX (GRM Dorojatun) memimpin tahun 1940-1988.
Sri Sultan Hamengku Buwono X (GRM Hardjuno Darpito) memimpin tahun 1989 - sekarang. Disini kami ditemani oleh seorang guide yang bernama P. Gandung, dari beliaulah kami memperoleh pengetahuan baru tentang keberadaan Kraton tersebut. Masyarakat Jogjakarta meyakini bahwa Kraton tersebut adalah tempat yang sakral. Dari lokasinya yang merupakan titik kosmis antara gunung Merapi dan Pantai Selatan (jarak 27 km) masyarakat menganggap tempat ini adalah tempat yang agung, yang nantinya mampu melindungi masyarakat sekitar dari segala bencana yang terjadi.
2.2.13    Vihara Karang Djati
Bangunan induk Vihara Karang Djati dibangun pada masa pendudukan Belanda. Oleh pemiliknya, bangunan tersebut difungsikan sebagai kandang sapi perah, sapi yang menghasilkan susu segar. Pada masa tersebut, daerah tersebut belum merupakan perkampungan, tapi masih merupakan lahan yang sangat luas, yang merupakan areal perkebunan tebu, komoditas primadona Yogyakarta pada saat itu. Dengan peralihan kekuasaan dari Belanda ke Indonesia, lahan tersebut akhirnya dimiliki oleh Romo Among Pradjarto, seorang tokoh masyarakat yang cukup disegani, yang dikenal memiliki pengetahuan yang winasis.
Bhikkhu Jinaputta, yang berperan penting dalam alih fungsi Kandang sapi tersebut menjadi tempat ibadah. Pada tahun 1958 Bhante (panggilan kepada Bhikkhu) Jinaputa berkenan menjalankan Vassa di Yogyakarta. Beliau kemudian tinggal di Cetiya Buddha Kirti, Milik Bapak Tjan Tjoen Gie (Gunavarman Boediharjo), sebagai satu-satunya tempat ibadah umat Buddha yang ada di Yogyakarta waktu itu.
Bekas Kandang sapi kemudian di bersihkan, dan jadilah bekas kandang tersebut menjadi tempat vassa bagi Bhante jinaputa. Selama Bhante Jinaputa tinggal di tempat tersebut, maka dimulailah beberapa diskusi seputar agama Buddha. Karena kebanyakan yang datang adalah orang-orang memang mempunyai latar belakang theosofi, kejawen dan ajaran-ajaran kebatinan yang lain, maka tidaklah sulit untuk berdiskusi tentang ajaran tersebut.
Aktivitas di tempat tersebut kemudian sudah benar-benar merupakan aktivitas Vihara. Sudah tidak dikenal lagi sebagai kandang ternak. Kegiatan rutin berupa Puja Bakti setiap Rabu malam, serta Purnomosidhen (setiap bulan Purnama) dilakukan. Kegiatan tersebut tentu saja membutuhkan tempat yang lebih luas. Maka dibuatlah tempat tersebut menjadi lebih pantas, dilengkapi dengan pagar dan gapura. Tahun 1962, dinyatakan secara resmi menjadi lahirnya Vihara Buddha Karangdjati, meskipun aktivitasnya sudah dimulai sebalum tahun tersebut.
Vihara Karang Djati juga berkesempatan menyambut Bhikkhu Narada Mahathera, atau lebih dikenal dengan Bhante Narada, seorang tokoh Buddhis yang cukup dikenal di Dunia, berasal dari Sri Langka. Beliau datang ke Indonesia untuk mengajarkan agama Buddha di berbagai tempat, termasuk kemudian meletakkan batu pertama calon bangunan ‘tempat biara Buddha’ di depan Candi Mendut (Vihara Mendut saat ini). Sebelumnya, tahun 1961, perwakilan dari International Buddhist Centre, Profesor Ananda Thera, Bhikkhu dari Srilanka, juga berkunjung ke tempat tersebut.
Umat dari Vihara Karang Djati juga terlibat aktif dalam keorganisasian Buddhis secara nasional, termasuk menjadi pelaksana Musyawarah nasional umat Buddha pada tahun 1961 yang dihadiri delegasi dari berbagai kota dan propinsi di Indonesia. Tahun 1969 dibentuk juga Organisasi Wanita Buddhis bernama Perkumpulan Wanita Buddha Jogjakata, yang saat itu diketuai oleh Ibu Ratna Dewi Suprapto.

Berbagai kegiatan yang berupa pelayanan keagamaan, pelayanan sosial kemasyarakatan, pendidikan dan fungsi yang lain dilakukan di Vihara tersebut, baik dalam skala kecil maupun Intensional.